Wednesday, March 14, 2012

AGAMA LANGIT DAN AGAMA SATELIT


Nasihat- nasihat bijak dan  petuah- petuah arif mengucur deras,
namun seakan menghempas di batu cadas.
Menyusup ke telinga, dari kanan menuju kiri, dari kiri menuju kanan, 
sebagian masuk ke dalam kepala, bergulir ke ujung lidah menjadi suara,
lalu menguap terbawa angin ke udara.

Tak sempat masuk ke dalam dada dan mengendap dalam hati,
bagaimana bisa merasa, bagaimana bisa mengerti ? 

Sejuk di telinga, namun sulit dijalankan. 
Hidup di mata, namun mati di dalam perbuatan.

Bukan salah siapa- siapa. 
Yang menyampaikan telah benar, yang menerima telah benar, 
tapi ruh itu menghilang, tertiup ke udara bersama gelombang suara, 
membubung ke langit tinggi menjadi pesan suci dan kabar berita.

Ajaran- ajaran tertulis jelas, 
di atas lembaran- lembaran kertas dan layar kaca,
beragam cara beragam bahasa beragam media.

Mata membaca, memori masuk ke dalam kepala,
mengalir ke lengan, ujung- ujung jari menggerakkan pena,
terciptalah artikel, risalah dan kitab- kitab tebal, khazanah pengetahuan.

Lalu disebarkan lagi lewat media menjadi bacaan dan pengajaran,
namun tak sempat masuk ke dalam dada, mengendap dalam hati,
bagaimana bisa merasa, bagaimana bisa mengerti ? 

Mudah dipelajari, begitu berat dijalani.
Hidup di tulisan, namun mati di dalam tradisi.

Bukan salah siapa- siapa.
Yang menulis telah benar, yang membaca juga benar,
tapi ruh bacaan menghilang, huruf- huruf tersapu angin,
 menguap ke langit tertangkap satelit.
Lalu satelit mengembalikannya ke muka bumi,
berulang berputar menjadi lingkaran besar di atmosfer.

Satelit bersyi’ar, agama langit ber-evolusi menjadi agama satelit.

Agama tinggal dogma- dogma, 
indoktrinasi para pengemban misi suci,
pelarian bagi mereka yang terbuang dan tersakiti,
tapi ruhnya tak pernah menyentuh bumi. 

Melayang- layang di udara, 
dari kepala ke kepala,
dari mata ke tangan , dari tangan ke mata, 
dari telinga ke lidah, dari lidah ke telinga,
hinggap ke atas kertas dan layar kaca , 
menguap ke udara, membubung ke langit tertangkap satelit, 
lalu kembali ke bumi sebagai siaran langsung maupun tunda.
Berulang- ulang, berbolak- balik, bertahun- tahun, berabad- abad.

Roda teknologi dan informasi menggilas  spiritualitas,
logika mendangkalkan lautan cita rasa, 
lantas Tuhan dan agama tak lebih dari tema- tema, 
daya tarik perbincangan dan daya dorong perdebatan.

Jadilah ia agama panyampaian, saling nasihat dan saling berwasiat ,
namun nilai- nilai luhurnya hanya numpang lewat.

Dari kepala ke kepala, lidah dan mata, jari- jemari dan telinga,
namun tak sempat masuk ke dalam dada, mengendap dalam hati, 
bagaimana bisa merasa, bagaimana bisa mengerti ?

Bukan salah siapa- siapa, sebab tak ada manusia yang mau disalahkan. 
Tapi juga bukan benar siapa- siapa 
sebab Kebenaran hanya milik Tuhan, Maha Berbicara, Maha Melihat dan Maha Mendengar.

Andai agama dan ajaran tidak hanya sebatas kepala, mata dan telinga, 
namun sempat masuk ke dalam dada, mengendap di dalam hati,
mungkin baru ada rasa, mungkin baru dimengerti. 


Maka agama dan ajaran suci tidak hanya menghambur ke udara, 
menguap lalu membubung ke langit tertangkap satelit,
lalu berbalik ke muka bumi dalam siaran langsung atau tunda, 
di atas kertas dan layar kaca, 
kepingan kaset dan rekaman suara,
namun kehadirannya hanya berkeliling berputar- putar di sekitar kepala. 

Agama langit, mestinya tak berubah menjadi agama satelit...

***

Salam...
El Jeffry

No comments:

Post a Comment