Saturday, March 31, 2012

Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur

Di sini kita bertemu, merajut benang kusut masa lalu,
menghias sejarah bersama, melukis motif indah masa depan.
Do’a dan harapan mulia, untuk zamrud khatulistiwa,
bumi persada, tanah surga nusantara, rumah besar umat bangsa.

Di sini kita gali potensi, 
eksplorasi kemampuan diri, 
tampakkan eksistensi sejati,
temukan inspirasi, ekspresikan suara hati,
ciptakan karya dan kreasi.

Di sini kita menghirup sejenak kebebasan.
Tiupkan spirit pencerahan.
Hembuskan inspirasi kemajuan.
ungkapkan gagasan penuh kecerdasan.
kabarkan pemikiran brilian.
sumbangkan sedikit kepedulian.

Di sini kemelut kita kan terbaca,
di sini tangis kita kan terdengar,
di sini keluhan kita kan terhimpun,
sebuah pesan suci, lautan suara hati nurani anak negeri.

Di sini kita berbagi, melepas beban menghimpit hati,
mengusir kegelapan jalan- jalan sunyi, 
di bawah cahaya cinta semesta,
mengikat tali ukhuwwah, 
persaudaraan dan persatuan di atas ragam perbedaan,
meretas jalan kebaikan dan kemaslahatan,
cita-cita abadi perjuangan kemerdekaan.

Adil dalam kemakmuran, makmur dalam keadilan,
Manusia dalam kesejahteraan, sejahtera dalam kemanusiaan,
Bersatu bergandeng tangan demi satu tujuan,
“ baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafur, “
negeri penuh kebaikan dalam ampunan Tuhan.

Hirup dan hembuskan ke udara kehidupan,,, nafas-nafas pembaharuan...

Salam...
El Jeffry

Ketika Semua Merasa Benar


     Isu rencana kenaikan BBM benar-benar menguras energi tubuh bangsa besar republik ini. Cucuran keringat dan jerit teriak massa di jalanan beradu dengan perang pendapat dan diplomasi fraksi- fraksi wakil rakyat di dalam gedung DPR.

     Pemerintah menyuguhkan bola api di lapangan negeri. Rencana kenaikan BBM. Alasannya pasti, demi perputaran roda ekonomi, dan demi kelangsungan pembangunan, demi rakyat.

     Rakyat yang dimotori mahasiswa berteriak lantang. Tolak rencana, sebab rakyat pasti akan jadi korban pertama. Unjuk rasa di mana-mana, hilangnya kenyamanan dan ketenangan, bentrok fisik, ricuh massa dan beberapa kerusakan. Demi rakyat, apapun harus dikorbankan, demi kebenaran, anarki jadi pembenaran.

      Aparat negara bertindak menjaga keamanan. Patuh pada perintah atasan dan sumpah jabatan, tindakan represif kadang tak terelakkan. Itu juga demi rakyat dan kebenaran.

     Wakil rakyat bersitegang dalam mengambil keputusan. Pertentangan, perdebatan, saat semua jalan buntu untuk mencari titik temu, sebagian undur diri dari ruang sidang. Atas nama hukum dan pertanggung jawaban rakyat, wujud dari kepedulian dan pengakuan kegagalan mengusung aspirasi, keniscayaan demokrasi, keputusan apapun harus dihargai. Lagi-lagi demi rakyat dan kebenaran.

    Semua bicara, bersikap dan berbuat atas nama perjuangan, kebenaran dan atas nama rakyat. Semua merasa benar. Tak ada yang mau disalahkan. Kebenaran beradu. Polemik, intrik dan konflik, berkecamuk dari detik ke detik. Pertanyaan abadi selalu mengusik.

     Haruskan kebenaran ketika beradu selalu memakan korban? Entah siapa yang menjadi korban, yang jelas fakta sejarah membuktikan, setiap kali kebenaran beradu di negeri ini, selalu memakan korban anak negeri, penghuni resmi rumah besar bangsa ini.
Tiadakah cara lain memperjuangkan rakyat dan kebenaran tanpa menimbulkan korban? Atau setidaknya menekan sekecil mungkin korban yang ada saatnya memang tak terhindarkan?

     Mungkin kita perlu rehat sejenak dari hiruk-pikuk yang tiada habisnya, sementara hasil akhir juga tak pernah ada hasilnya. Mungkin kita perlu istirahat sesaat, tinggalkan carut marut permasalahan yang tiada titik temunya.

     Kita semua kelelahan, kebingungan, kebimbangan, mungkin ada baiknya letakkan sejenak  semua beban. Duduk bersila mengheningkan cipta, tarik nafas dalam-dalam, hembuskan pelan-pelan, tenangkan pikiran, redakan amarah, kendalikan emosi. Diam membisu. Campakkan semua teori, buang semua aturan-aturan tekstual, lemparkan berkas-berkas rutinitas dan segala macam formalitas. Semedi, meditasi, tafakkur, khalwat atau uzlah, mengasingkan diri sesaat dari dunia kebendaan-materi.

     Kelelahan, kebingungan, kebimbangan tak akan mampu membawa kearifan dan kebijakan  solusi. Masalah BBM adalah lingkaran setan. Jalan apapun akan selalu berujung kesalahan. Dilema dan simalakama. Sebab ini hanya riak kecil yang nampak di balik gunung gelombang persoalan. Ini tak lebih dari pucuk-pucuk daun di balik pohon rindang permasalahan. Ini hanya anak- anak sungai sempalan dari sungai besar problema bangsa.

     Mungkin kita butuh ketenangan dan kekhusyu’an, kebeningan hati dan kejernihan pikiran. Mungkin kita perlu lagi mengadakan renungan, introspeksi, muhasabah. Olah pikir, olah batin dan olah rasa.

     Adakalanya akal dan logika tak mampu memecahkan poblem-problem dalam hidup kita. Adakalanya intelektualitas dan legalitas gagal menjawab pertanyaan-pertanyaan. Adakalanya otot tak sanggup menyelesaikan pekerjaan. Adakalanya teori-teori, dalil-dalil, argumen-argumen dan hujjah-hujjah tak kuasa membongkar misteri dari teka-teki peristiwa.

     Adakalanya kita harus berserah, tapi bukan menyerah. Adakalanya kita harus jeda, tapi bukan berputus asa. Adakalanya kita harus mengendur, tapi bukan berlari mundur. Sekali saja kita mencoba, beri kesempatan pada hati untuk berbicara, bukan hanya lidah dan otak di kepala.

      Hati nurani, sanubari, qalbu-lubb,segumpal daging yang tersembunyi di dalam dada. Di sana masih tersimpan ‘golden key’, kunci emas jawaban atas ragam pintu permasalahan dalam kehidupan. Di sana tersimpan kebenaran dengan 'versi' berbeda dengan kebenaran ‘indera’ yang selama ini  kita ‘dewa-dewa’kan dengan penuh kebanggaan dan keangkuhan.

      Kita adalah manusia beragama dan bertuhan. Jika terlalu berat untuk sepanjang hidup menyerahkan segala urusan kepadaNya, cobalah lakukan satu hari saja, kali ini saja, untuk urusan ini saja, tentang isu kenaikan harga BBM. Mungkin kita akan mendapat jawaban sederhana, mudah dan praktis mengurai misteriusnya lingkaran setan permasalahan yang ada.

    Berimanlah untuk satu hari saja, saat-saat ini, detik-detik ini, semoga setan yang sedang ‘usil’ menyembunyikan kunci rahasia dari teka-teki besar ini akan menyingkir walau sesaat, yang penting kita temukan kunci itu untuk segera membuka pintu besi permasalahan negeri yang telah menguras habis energi anak bangsa berhari- hari.

     Sejenak kita singkirkan persepsi kebenaran pribadi dan golongan. Sebab telah terbukti ketika semua merasa benar, permasalahan negeri ini tak keunjung teratasi. Semakin kita memaksakan kebenaran itu, semakin jauh pula panggang dari api. Mungkin inilah saatnya kita belajar tentang pentingnya kearifan dan kebijaksanaan dalam bepikir, bersikap dan bereaksi dalam menghadapi perkara-perkara bersama.

     Mungkin satu-satunya kebenaran yang layak diperjuangkan adalah ketika ia tidak membawa kerusakan dan kerugian serta memberikan bukti nyata nilai-nilai kebaikan, kemaslahatan umum dan kemanfaatan sebesar-besarnya bagi rakyat kebanyakan.

Bumi dan air dan kekayaan yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. “ ( UUD 45 pasal 33 ayat 3 ) 

Salam...
El Jeffry


Friday, March 30, 2012

LINGKARAN SETAN

Aneka permasalahan tumpang tindih bertumpuk-tumpuk bergumul menjadi kemelut saling berkait saling memperumit melingkar tanpa ujung-pangkal bagai serabut kusut tanpa bisa diurai dan diurut. Formasi lingkaran hitam dan misterius. Sebab akibat tak lagi jelas, semuanya samar-samar. Tak ada hulu dan muara. Tak terang akar, cabang dan daunnya. Tak ketahuan mana yang lebih dulu ada, telur, atau ayam. Serba membingungkan. Itulah lingkaran setan.

Kebingungan, kelimpungan, kelabakan, keraguan. Maju salah mundurpun salah. Bergerak susah diampun susah. Dilema. Simalakama. Semua jadi serba salah. Skeptis. Apatis. Pesimis. Akhirnya putus asa. Lingkaran setan adalah derita, bencana dan petaka. Seperti tali yang siap menjerat leher, kehidupan terancam bahaya. Tiang gantungan terpancang, tinggal tunggu waktu, eksekusi terakhir, kematian.

Kehidupan adalah rangkaian permasalahan. Ketika manusia terbiasa mengabaikan dan meremehkannya, secara akumulatif masalah-masalah kecil-sederhana-remeh-temah tiba-tiba membesar-menggelembung-meraksasa. Horor dan teror perusak ketenangan dan kedamaian. Awan gelap menutup hari depan. Tak ada jalan keluar. Tak ada solusi. Kebuntuan. Stagnasi.

Setan memang cerdik dan licik memasang perangkap, jerat-jerat setan tersebar dalam kegelapan. Tanpa disadari. Saat senja seakan semua baik-baik saja, sejenak terlena dalam tidur di tengah malam, pagi- pagi semua berubah suram. Lingkaran setan. Lingkaran permasalahan tak terpecahkan.

Masih adakah jalan keluar? Mestinya ada. Manusia adalah makhluk berakal. Hanya akal satu-satunya jalan melepaskan diri dari jeratan setan. Selama masih ada akal, selama itu pula manusia mampu mempertahankan kelangsungan kehidupan. Dengan akal manusia memimpin bumi, khalifah atas dunia, makhluk terpilih yang paling mulia.

Dengan akal manusia menangkap pengetahuan. Dengan pengetahuan manusia memahami keberadaan, kebenaran dan keyakinan. Dengan pengetahuan manusia mengenal Tuhan. Kepercayaan, keimanan, keyakinan. Akal-iman, akal pikiran berpadu dengan iman keyakinan, pilar kekuatan manusia mengalahkan musuh-musuhnya, termasuk setan dengan jerat-jerat lingkaran muslihatnya.

Setan adalah bagian dari ujian. Pergelaran panggung besar kehidupan, perputaran waktu, perjalanan sejarah, roda peradaban. Siang- malam, hitam- putih, kebenaran- kebatilan. Nikmat- siksa. Surga- neraka. Dinamika kehidupan manusia. Permainan unique Sang Sutradara. Setan adalah bagian dari rencana besar, manifestasi eksentrik rahmah Ar Rahim. Manusia diplot menjadi rahmatan lil alamin, rahmah alam semesta, menyebarkan cahaya kasih cinta.

Kegelapan diciptakan. Setan diturunkan. Genderang perang ditabuh sejak pertama kali Adam ditiupkan ruh, manusia pertama. Di bumi mayapada, arena resmi pertarungan sesungguhnya. Kegelapan setan untuk menguji cahaya manusia, seleksi-evolusi kehendak Pencipta, siapa yang menang, dialah sejatinya jawara.

Lingkaran setan adalah ujian besar. Siapa yang lolos dari jeratnya, dialah yang berhak menyandang juara, pembebasan siksa, kemenangan besar, pahala kebaikan, surga. Siapa yang kalah, terjerat siksa, kekalahan besar, balasan keburukan dosa, neraka. Orang berkata : “ Kenali musuhmu, maka kau akan dapat menaklukkannya. Dekati musuhmu, mendekat dan lebih dekat lagi, maka kau akan membongkar rahasia kekuatannya. “ Setan adalah musuh nyata. Setan adalah penyimpangan, pengingkaran, pembangkangan dan penyelewengan. Setan adalah keburukan-kejahatan.

Sesungguhnya kekuatan setan itu lemah, tak lebih dari tipu muslihat belaka. Yang kalah tak berdaya hanyalah mereka yang tertipu dengannya. Sebaik-baik strategi setan, masih lebih baik strategi manusia. Tentu dengan senjata pusaka akal dan iman. Logika dan keyakinan. Nalar dan kepercayaan. Gerak dua arah yang bekerja ke satu arah, seperti gunting tajam membelah kertas. Kombinasi sempurna power eksternal-internal, jasad-ruh, material-spiritual, zhahir-bathin, luar-dalam.

Akal-iman adalah cahaya-putih-kebenaran. Ia akan mengalahkan kegelapan-hitam-kebatilan. Lingkaran setan adalah sistem. Untuk menghancurkannya harus keluar dari sistem. Setan bekerja lewat nafsu-syahwat. Emosi, angan, obsesi, ambisi, ragam keinginan. Setan bekerja lewat tabiat, ketergesa-gesaan, kecerobohan, kelalaian, lupa, keluh kesah, keraguan, dan keputus asaan. Setan tak bisa dikalahkan dengan cara-cara setan. Akal-aman harus dikedepankan. Pengetahuan-keyakinan harus mengambil peran.

Datangi lingkaran setan dengan tenang, khusyu'-ikhlas, kendali emosi, redam amarah, buang kebencian, sisihkan ambisi dan obsesi, jaga kewaspadaan, ingatan, kesabaran, keyakinan, kesungguhan dan pantang menyerah pada keputus asaan. Bila cahaya datang, kegelapan pasti hilang. Bila kebenaran datang, kebatilan pasti tumbang. Bila putih datang, hitam terhapuskan. Tajamkan penglihatan, uraikan serabut lingkaran, temukan ujungnya, putuskan. Lingkaran akan terurai, pecahkan satu persatu, titik demi titik, sel demi sel, jengkal demi jengkal, hingga habis tuntas tak berbekas.

Lingkaran setan bekerja seperti rantai. Mata rantai utama terbuka, akan terbuka pula mata rantai selanjutnya. Lingkaran setan tumbuh bagai sebuah pohon, bongkar akarnya, maka seluruh dahan, cabang, ranting dan daun akan mati kering tak tumbuh lagi. Lingkaran setan mengalir seperti sungai. Tutup mata air di hulunya, keringlah seluruh air sampai di muara.

Lingkaran setan permasalahan selalu ada dalam kehidupan manusia di alam dunia, dalam satu jiwa, satu keluarga, satu komunitas warga, satu umat-bangsa-negara.  Temukan mata rantai utama, akar dan hulu, kunci rahasia dari kekuatan lingkaran setan. Selama belum ditemukan kunsi rahasia itu, lingkaran akan terus ada dan terus menjerat leher-leher kehidupan manusia.

Jangan biarkan lingkaran setan tumbuh dan berkembang. Waspadai benih- benih awal, munculnya mata rantai utama, akar awal dan hulu pertama. Perlindungan adalah pertahanan terkuat. Setan kebathilan-kegelapan tak berdaya menembus wilayah kekuasaan cahaya-kebenaran, benteng suci Sang Pencipta, Tuhan Pemilik kebenaran, Cahaya di atas segala cahaya. PadaNya tempat teraman bersandar, keselamatan dari bencana, dan dariNya pertolongan dan kekuatan penghancur lingkaran setan dengan segala bentuk, skala dan strateginya.

“ Katakanlah : Aku berlindung kepada Tuhan manusia, Raja manusia, Sesembahan manusia, dari kejahatan bisikan setan yang bersembunyi, yang membisikkan kejahatan ke dalam dada manusia, dari golongan jin dan manusia... “ ***


El Jeffry

Wednesday, March 28, 2012

Peringkat Ujian

      Seorang siswa SMP berangan meraih gelar sarjana. Sang dosen datang, disodorkan selembar kertas ujian. “Selesaikanlah, ijazah sarjana telah disiapkan. “ Sampai seharian si siswa hanya termangu kebingungan. Setelah menyerah tak sanggup mengerjakan, ia berujar: “ Soal ini terlalu berat, saya tak mampu menyelesaikannya. “

      Di lain pihak, seorang mahasiswa mengeluh saat menghadapi ujian semester: “ Susah sekali ujian ini, kenapa tak dibuat yang mudah saja biar tak bikin pusing kepala? “Sang dosen datang, disodorkan selembar kertas ujian. “Kuberikan materi yang mudah, dijamin engkau tak mungkin kesulitan. “Si mahasiswa malah heran: “Ini adalah penghinaan. Masa ujian anak SMP diserahkan pada calon sarjana?“

    Itulah sepenggal kisah manusia dalam menyikapi masalah. Yang satu berangan di luar kemampuan, yang lain mengeluh di dalam kemampuan.

     Hidup adalah ujian. Kehidupan, kematian, masalah, problem, perkara, persoalan, pertanyaan, kesulitan-kemudahan, kelapangan-kesempitan, sehat-sakit, kaya-miskin, susah-senang, nikmat-siksa, baik-buruk, malang-mujur, sial-beruntung, dan lain-lain, dan lain-lain, semua adalah ujian.

Dialah yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji siapa yang terbaik amal perbuatannya di antara kamu.“

     Setiap ujian yang dibebankan kepada manusia sudah terukur, diperhitungkan mutlak sesuai dengan kemampuan, mustahil Allah keliru dalam segala keputusan dan ketetapanNya.

“ Tidaklah Allah membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya “

      Manusia selalu hilang kesadaran dan keyakinan akan takdir dan selalu berkeluh kesah dengan apa yang sudah ditetapkan baginya. Di satu waktu penuh ambisi dan angan-angan, di lain waktu penuh keluh kesah menghadapi kenyataan.

“Sesungguhnya manusia itu diciptakan dengan tabiat suka mengeluh “ dan “ Sedikit sekali manusia yang pandai bersyukur. “


     Ambisi dan angan-angan muncul pada kebanyakan manusia di akhir zaman. Kemuliaan diukur dengan standar materi-kebendaan-duniawi. Harta, gelar, jabatan, titel, pangkat dan kekuasaan. Padahal seluruh kehidupan dunia adalah ujian agar Allah mengetahui siapa yang terbaik perbuatannya, amal shalih. Itulah standar hakiki kemuliaan, derajat terbaik manusia, dan amal shalih muncul dari iman dan ilmu-pengetahuan.

“ Allah meninggikan mereka yang beriman dan beramal salih di antara kamu dan mereka yang diberi ilmu-pengetahuan beberapa derajat. “

 “ Sungguh, yang paling mulia di antara kamu adalah dia yang paling taqwa di antara kamu. “

Korelasinya adalah adalah bahwa kehidupan dunia adalah ujian, dan yang terbaik dalam menghadapi ujian berhak mendapat peringkat tertinggi, derajat paling mulia dengan standar ukuran iman, amal salih, ilmu-pengetahuan, dan  perilaku  taqwa. Inilah kualitas tertinggi manusia yang membentuk perilaku-akhlak mulia, akhlakul karimah, dengan efek positif sosial-kemanusiaan maslahat-manfaat-kebaikan dalam pergaulan antar manusia.

Sebaik-baik manusia adalah yang memberi manfaat bagi manusia lain...“ Kebaikan dua arah, vertikal-horisontal, “Hablum minallah-hablum minannas“, hubungan dengan Allah-hubungan dengan manusia.

Salam...
El Jeffry

Tuesday, March 27, 2012

Sindroma BBM



( Sekilas Meretas Jiwa Cerdas )

BBM naik tinggi, susu tak terbeli,
orang pintar tarik subsidi,
bayi kami kurang gizi
...”
( Iwan Fals “ Galang Rambu Anarki ” – 1977 )

     Pengulangan cerita sedih rakyat kecil 35 tahun silam, kembali terjadi dalam putaran roda sejarah negeri. Ganti rezim, ganti orde, ganti kroni, ganti wakil rakyat, ganti pemimpin, tetap saja menghidangkan 'kue' cerita yang sama. Menu klasik. 

     Dengan berbagai alasan, argumen, hujjah dan dalil- dalil penuh retorika, rakyat kecil masih selalu tetap menjadi pelengkap penderita dari kebijakan penguasa, pemerintah dan wakil rakyat, mereka memang tak bermaksud khianat, tapi realitanya gagal mengemban amanat.

     BBM naik, harga-harga naik, efek domino, reaksi berantai, inflasi menjadi konsekuensi pasti. Daya beli menurun, kebutuhan hidup tak kenal kompromi, rakyat kecil makin tercekik, sesak nafas, megap- megap, tambal sulam keuangan, gali lobang tutup lobang, jeratan hutang sana sini, tersisa satu solusi populer, sabar lagi, sabar lagi, sabar dan sabar lagi.

      Rakyat kecil menjerit, entah pada siapa mereka harus mengadu, hanya bisa berteriak lantang dengan wajah lesu: 

“Tak perlu ajari kami bersabar, sebab kami terbiasa menahan perut lapar, sebab kami telah hafal pedihnya jatuh terkapar, sebab kami telah cukup pintar, menahan tegaknya punggung keluarga kecil agar tidak menggelepar...!!! “

“ Tak perlu ajari kami bersabar, sebab kami telah akrab dengan kerasnya rimba belukar, sebab kami bukan tak mau membayar beras di pasar-pasar, tapi memang tak cukup uang sebagai nilai tukar... !!! “

“ Seandainya kami tidak bersabar, niscaya sudah bergelimpangan jasad-jasad di pinggiran kota dan pelosok desa karena bunuh diri, putus asa terhimpit kesulitan.
Wahai orang-orang pintar, kalau berkenan, ajari saja kami untuk berlaku adil, mengemban amanat selembar kartu suara dalam surat, sebab itulah yang telah hilang dari negeri ini, khianat telah menjadi tradisi basi, merusak tubuh tapi tetap dinikmati.
Ajari saja kami nurani, kepedulian akan nasib lemah-dlu’afa, empati dan kepekaan rasa akan derita sesama...”

     Keadilan, amanat, nurani, kepedulian, empati dan kepekaan rasa, itulah pilar- pilar tegak kokohnya sebuah bangunan umat-bangsa-negara. Selama itu belum tumbuh di dalam jiwa- jiwa anak bangsa, maka sindroma BBM akan selalu menjadi bencana. Regenerasi kepemimpinan tak mengubah apa-apa, hanya ganti pemeran, berubah rupa, berganti panorama, tapi isi ceritanya selalu sama, atas nama kebijakan dan atas nama rakyat, ujung-ujungnya mengorbankan rakyat.

     Cerdaslah wahai rakyat, sindroma BBM adalah pelajaran berharga, buang kepandiran akal sehat dan kepandiran iman. Dalam memilih pemimpin, pilihlah yang teruji konsistensinya mengemban amanat. Tengoklah ke belakang sebentar. Berapa kali berbuat kesalahan. Menukar sekantung keadilan demi sekeping uang recehan. Menjual suara satu hari, membeli derita dua ribu hari. Terlalu murah untuk harga sebuah amanat. Defisit besar, rugi berlipat ganda, 'tekor' tak terkira.

     Peristiwa telah lewat, waktu berlalu mustahil diputar balik. Cukuplah semua dijadikan pelajaran. Jika memang telah salah pilih wakil dan para pemimpin, tak perlu terulang kedua kali. Sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya. Wakil dan pemimpin lancung, curang, culas, mestinya tak tampil lagi ke muka. Jika kelak mereka kembali naik ke atas panggung, artinya kecerdasan itu sudah tak ada, kepandiran massal, kebodohan berjama’ah, blunder sejarah dua arah, yang dipilih jelas salah, namun yang memilih juga ikut andil salah.

     Rekonstruksi fondasi jiwa rumah-bangsa-negara. “Baldatun thoyyibatun warabbun ghafur.“ Negeri makmur aman sentosa penuh kebaikan dalam ampunan Tuhan. Guyub rukun, gotong-royong, kekeluargaan dan ukhuwwah-persaudaraan dalam persatuan-jama’ah-kebersamaan.

Ing ngarsa sung tuladha. Ing madya mangun karsa. Tut wuri handayani. “ Pemimpin di depan memberi teladan, kaum menengah membangun kehendak dan cita-cita, rakyat kecil di belakang andil menopang memberdayakan. Untuk satu tujuan ‘tanah surga’ bumi nusantara Indonesia, “ Gemah ripah loh jinawi, toto titi tentrem kerto raharjo. “ Ragam dalam kesatuan, satu dalam keragaman. “ Bhinneka Tunggal Ika “

Rombaklah jiwa, cerahkanlah spiritual, rubah jalan, benahi hidup, perbaiki hari- hari.

“ Hirup dan hembuskan ke udara kehidupan, nafas-nafas pembaharuan...!!! “

Salam...
El Jeffry