Laman

Friday, October 21, 2016

Dilema Agama: Kafir Adil, Atau Muslim Zalim?





DILEMA AGAMA. (sumber photo: http://debbyzhanng.blogspot.com/2010/12/islam-ktp.html)    


     Bagi kita, pemeluk agama mana pun, termasuk yang tidak beragama (atheis), jawablah dengan jujur. “Mana yang lebih kita sukai di antara dua orang teman, satunya seagama dengan kita tapi perilakunya zalim (jahat) dan lainnya beda agama tapi berlaku adil (baik)? Atau bila kita muslim, mana teman yang lebih kita sukai, non muslim yang adil, atau muslim yang zalim?
     Atau bila kita Nasrani, mana yang lebih kita sukai antara teman sesama Nasrani yang jahat atau teman bukan Nasrani yang baik? Atau bahkan jika kita atheis dan kebetulan benci pada agama, mana yang lebih kita suka, teman sesama atheis yang jujur atau teman orang beragama yang pendusta?

     Hal yang sama bila kita melihat dengan kacamata suku. Kita orang Jawa. Secara kultur emosional, kita lebih merasa nyaman berhubungan dengan orang Jawa ketimbang berhubungan dengan orang Batak, Ambon atau Tionghoa. Sebagaimana pula ketika kita sebagai muslim, sunni dan hobi catur, secara naluri-emosional kita tentu lebih merasa nyaman dan akrab berteman dengan muslim, sunni dan hobi catur pula ketimbang muslim, syi’ah yang benci catur, meskipun sama-sama muslim.

    Itu adalah hal yang lumrah. Ikatan emosional, semakin banyak kesamaan, secara psikologis semakin dekat dan nyaman manusia saling berhubungan. Namun dalam realitanya, kaidah itu tak serta merta mudah berlaku. Kedekatan hubungan emosional berdasarkan persamaan banyak hal akan bisa gugur dan ‘batal demi hukum’ ketika berkaitan dengan nilai-nilai mendasar tentang asas keadilan.

    Ada yang berkata, “Manusia adalah makhluk pedagang,” yang cenderung “mencari keuntungan dan membenci kerugian.” Adakah manusia yang mau rugi? Pun dalam berinteraksi, prinsip dasar untung rugi tetap berlaku. Bila nilai-nilai ini ditabrak, akan rusaklah seluruh nilai, ketuhanan dan kemanusiaan.

    Dalam Islam, kesuksesan (keberhasilan) identik dengan keuntungan, keberuntungan (falaha-muflihun-orang-orang yang beruntung). Kesuksesan adalah banyaknya keuntungan yang diperoleh (pahala, upah, balasan).

   Di antara hak asasi manusia adalah hak untuk memiliki kebebasan (merdeka) dari perbudakan. Maka ketika kita berhubungan dengan orang lain yang mengancam kebebasan, maka sudah secara naluri kita akan membenci orang itu, meskipun memiliki banyak persamaan, bahkan jikapun ia adalah saudara seiman atau saudara kandung.

     Dua orang yang seagama, satu suku, satu golongan, satu kesenangan bahkan satu keluarga tidak akan bisa menjalani hubungan yang harmonis jika salah satunya zalim, jahat, pendusta, khianat dan berusaha merampas kebebasan lainnya. Hukum alam (sunnatullah) tak bisa dilanggar dengan alasan apapun. Hubungan harmonis baru tercipta jika kedua pihak memiliki sikap dan perilaku adil, baik, jujur, amanat dan saling menghargai kebebasan. 

      Dalam komunitas (kaum) beradab, kepemimpinan menjadi keniscayaan. Secara psikologi, bila dua orang bertemu, salah satunya akan mendominasi (memimpin) dan lainnya didominasi (dipimpin). Jika sudah tercipta tatanan, maka kepemimpinan juga memiliki kriteria, sebagaimana dalam ritual ibadah shalat seorang imam memilki prasyarat-prasyarat tertentu. Intinya, imam (pemimpin) adalah yang terbaik.

    Salah satu hal mendasar yang menjadi sumber ketertinggalan bangsa-bangsa muslim, termasuk Indonesia adalah ketidaktepatan dalam meletakkan keberagamaan dalam tatanan kehidupan bermasyarakat, (berbangsa dan bernegara). Keberagamaan umat di negeri kita masih jauh panggang dari api, gap yang lebar antara kesalehan ritual dengan kesalehan sosial, hablum minallah dan hablum minannaas. Paradigma agama terkurung dalam hal ketuhanan, tapi gagal total dalam ranah kemanusiaan (humanisme).

    Jurang ketimpangan yang curam bisa dilihat dalam praktek kepemimpinan di hampir seluruh lembaga, kususnya lembaga keagamaan. Menjadi ironis dan paradoks bagaimana bisa Depag bisa disinyalir sebagai lembaga terkorup. Al Qur’an pun dikorupsi! Menteri agama korupsi. Ulama korupsi. (Korupsi Depag, Tuhan terdepak kutukan sejarah memuncak).

      Akhirnya jadilah STMJ, Shalat Terus Maksiat Jalan. Atau PJKA, Puasa Jalan, Korupsi Aman. Tak perlu kita munafik. Ramadhan bisa sedikit dijadikan pelajaran berharga. Bulan puasa, hanyalah bulan euforiaSebulan berpuasa, korupsi tetap leluasaSumpah menjadi sampah. Di negara Koruptor dan agama KTP fenomena ini sudah menjadi hal yang lumrah. Blingerisme dan blingerisasi sudah mencapai pada tahap kritis, ghururparadigma (tertipu), kekeliruan sistemik endemik, ciri khas zaman edan. 

      Aneh tapi nyata, kenapa orang yang lebih tahu agama (alim-ulama), kok justru lebih berani berbuat kejahatan dan dosa? Menurut anekdot, konon, karena kedekatannya itulah mereka menganggap remeh perbuatan dosa, kan tinggal minta ampun kepada Tuhan, bukankah Allah Maha Pengampun? 

       Akhirnya justru yang awam, bodoh, dan miskin ilmu agama dan jauh dari agama (jarang-jarang ibadah) justru kadang lebih selamat dari kejahatan besar. Itu dikarenakan mereka merasa miskin investasi pahala ibadah, lalu bagaiman kalau bertambah-tambah dengan kejahatan besar, sedang mau istighfar pun kebingungan, kecemasan tertolak karena jauh dari Tuhan.

      Kehidupan umat-masyarakat semakin membingungkan. Dalam berinteraksi sosial, memilih seorang teman, mitra kerjasama usaha dan pemimpin, kita dihadapkan pada dilema. Agama langit, telah ber-evolusi menjadi agama satelit. Agama mengajarkan, prioritaskan yang seiman (sesama muslim). Tapi realitanya, agama tertinggal di masjid dan musholla. Keluar lapangan, agama sudah dicampakkan. 

        Siapa jujur, hancur! Ingin sukses, wajib korupsi! Mau masuk istansi, suap, mau jadi polisi, pelicin, mau jadi pegawai negeri, sogok. Siapa lurus, tergerus! Siapa amanat, disikat. Siapa terbuka,celaka! Mau membantah,wani piro? Indikasi runtuhnya sebuah bangsa surga.

       Dilema dalam berinteraksi sosial terjadi ketika nilai-nilai religius yang diajarkan agama bertabrakan dengan nilai-nilai realita. Keberagamaan kita masih terkurung dalam tempurung syari’at (kulit-zhahir-dogma-tekstual), belum beranjak ketangga hakikat-makrifat (esensi-bathin-sejati-konseptual). Agama tanpa logika kehilangan akal sehat-rasional, dunia mendominasi dengan kemenangan rasional. 

    Mayoritas kita niscaya memilih dunia dan meminggirkan agama. Maka ukhuwwah (persaudaraan) hanya ada di ruang ibadah. Di dunia nyata, saling jegal, saling curi dan saling tikam. Politik dan elitnya menjadi potret faktual. Padahal mereka semua orang beragama, tapi sentimen agama hanya dipakai ketika membawa keuntungan dunia (harta, tahta, wanita). Jika merugikan, agama tidak dibawa-bawa.

       Idealnya, agama yang benar mestinya tidak bertabrakan dengan dunia. Agama bukanlah dilema, justru sinergis-simbiosis dalam keselarasan dunia-akhirat. Jika demi akhirat kita jujur, maka mestinya demi dunia kita juga jujur, apapun konsekuensinya, bahkan ketika harus menanggung kerugian. Pemimpin dunia (urusan negara) dan pemimpin agama (ulama) mestinya selaras dan sebangun.

     Dalam kondisi keberagamaan yang masih ‘cacat hukum,’ jika kita lebih cerdas, maka untuk mencapai keselarasan dalam berinteraksi sosial, termasuk dalam menilai kepemimpinan, jangan libatkan sentimen agama.  Itu hanya tepat diberlakukan dalam kondisi masyarakat yang relatif sudah beragama dengan benar, dalam urusan dunia maupun akhirat, ketika kesalehan ritual sudah relatif selaras dengan kesalehan sosial. Dalam kondisi masyarakat seperti ini barulah sentimen agama bisa memainkan peranan. 

     Dalam pluralitas keberagamaan nusantara, perbedaan (yang oleh sebagian diyakini sebagai rahmat), akan menjadi ajang sehat untuk berkompetisi dalam kebaikan menjadi yang terbaik (istabiiqul khairaat). Islam, Hindu, Budha, Kristen, Protestan, Konghucu dan lain-lain bisa berlomba untuk membuktikan diri sebagai yang terbaik. Barometernya adalah sejauh mana mampu memberikan manfaat bagi manusia lain (bukan hanya bagi manusia seiman seagama). Islam mengajarkan, ”Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lain (lingkungannya).”

    Dalam terminologi Islam, berdasarkan Kitab Al-Hisbah karangan Ibnu Taimiyah dinyatakan: “Allah akan menolong Negara yang adil meskipun negara itu Kafir. Dan Allah tidak akan menolong Negara yang dholim meskipun Negara itu Mukmin (Islam).” Pemimpin yang baik adalah yang  sesuai dengan Kaidah Fiqh:“Kebijakan pemimpin terhadap rakyatnya harus mengacu pada kemaslahatan (kesejahteraan) rakyat”. 

     Haramnya memilih pemimpin non musim (kafir), berlaku dengan catatan pemimpin tersebut membawa dampak negatif bagi agama dan umat Islam. Selama pemimpin kafir tersebut diyakini (dan sudah terbukti) mendatangkan keburukan atau kemudharatan bagi agama dan umat Islam, maka hukum memilihnya tidak boleh. Sebaliknya, bila keyakinan itu tidak ada (belum terbukti), maka hukumnya boleh. (Pandangan saya sebagai orang Islam).

     Kaidah kepemimpinan ini berlaku tak hanya dalam ranah elit, karena sejatinya setiap manusia adalah pemimpin. Lebih luas, ia bisa pemimpin perusahaan, kelompok, kerjasama bisnis, kepala desa, RT, bahkan pemimpin keluarga. Kaidah kepemimpinan ini juga berlaku dalam kaidah berinteraksi, berteman, bekerja sama atau berserikat. Jika kita bekerja sama dengan non muslim berintegritas lebih membawa keberhasilan , kenapa harus memilih sesama muslim yang tak berintegritas yang beresiko membawa kehancuran? 

     Sebuah PR akbar, tantangan dan refleksi bagi umat muslim Indonesia untuk membuktikan diri sebagai umat terbaik (khairu ummah) dalam praktek nyata, bukan iman retorika dan sekadar rasa bangga. Seruan dengan perilaku (da’wah bilhaal), jauh lebih efektif daripada seruan dengan lisan (da’wah billisaan). “Satu bukti mengalahkan seribu ayat dan seribu janji.”

    Kadang terlalu sulit untuk menjelaskan makna api, kecuali dengan menyentuh dan merasakan panasnya kulit yang terbakar. Pertanyaan sederhana bagi kita, umat muslim, “Mana yang membuat kita lebih nyaman dalam berhubungan, teman non muslim yang baik, jujur dan berlaku adil, atau teman muslim yang jahat, pendusta dan zalim?” Bila kita bisa menyelami dengan kejernihan hati dan kebeningan rasa, maka dari situlah kita menemukan jawabannya.

Salam...
El Jeffry

Wednesday, January 16, 2013

Kursi pun Bersujud




     Semula ia hanya sebilah papan tak berarti apa-apa dan tak berdaya. Namun ketika dua tangan seorang tukang meraihnya, memotong-motong dengan ukuran tertentu, menyerutnya, merangkai bagian demi bagian, mengukir dan menghias tampilannya, tiba- tiba ia berubah menjadi sesuatu yang baru, sebuah kursi indah tercipta.

     Ia tak pernah meminta dan mengharap untuk diciptakan, tapi juga ia tak kuasa menolak ketika sang tukang berkehendak untuk satu tujuan, “Aku ingin menciptakan sebuah tempat duduk yang indah dan sempurna...” Semua terjadi begitu saja. Gerak-gerik tangan sang maestro dengan pengetahuan pertukangan tak bisa dicegah oleh si kursi. Ia mengukir, menghias, penuh ketekunan dan kesabaran, ia tiupkan nuansa seni dan cinta dalam setiap goresannya, selesai.

     Sang tukang berdecak, kagum terhadap kreasinya. “Duhai indahnya engkau kursiku, kini engkau berhutang jasa padaku,semula engkau tak ada, dulu hanya sebilah papan tak berguna, kini engkau berubah menjadi barang berharga. Ya, berharga, tapi aku berhak atas dirimu, tunduklah pada perintahku, jadilah kursi yang baik sebagaimana tujuanku menciptakan engkau, sujudlah padaku... “

     Kursi itu tak bisa apa-apa kecuali patuh pada perintah sang tukang. Tak ada tawar menawar, sebab keputusan telah dibuat, dan itu adalah otoritas sang tukang. Tak ada pilihan kecuali patuh pada perintah. Kursipun bersujud. Sujud dengan bahasa yang dipahami oleh sang tukang dan si kursi. 

     Bukan sujud seperti gerakan manusia menyentuhkan kepala sejajar kaki di atas tanah. Sujud dengan cara si kursi. Kepatuhan. Penghormatan. Ketaatan pada kemauan dan kehendak sang tukang yang telah menciptakan. Patuh menjalankan fungsi sebagai tempat duduk.

     Selamanya, selamanya kursi tak pernah melawan. Ia tak berjalan kecuali diperjalankan. Ia tak bergerak kecuali digerakkan. Dan ia bahkan tak berdaya saat putaran waktu merenggut keindahan dan fungsinya, lapuk dimakan usia, rapuh tak berguna, ia tetap menurut saja diremukkan dan dilemparkan ke dalam tungku sebagai kayu bakar. Kursi tetap patuh. Sujud, taat dan tunduk pada kehendak tukang, sebab ia tak punya pilihan.

     Penciptaan manusia sama halnya dengan penciptaan kursi. Hanya bedanya manusia punya pilihan. Boleh sujud, boleh ingkar. Boleh patuh, boleh melanggar. Boleh taat, boleh khianat. Boleh menurut, boleh membantah.

    Tuhan pencipta manusia telah menitipkan kehendak dalam setiap jiwa. Kehendak bebas. Itu ada di dalam hati. Pilihan- pilihan dengan aturan yang telah ditetapkan. Masing-masing ada konsekuensi yang tak bisa diubah. Ada sebab, ada akibat. Hukum tetap. Takdir. Manusia bebas memilih, apakah ia akan menjadi sebagai kursi yang terpajang indah di beranda rumah, atau dilemparkan ke dalam tungku sebagai bahan bakar. Surga atau neraka, hanya ditentukan oleh dua pilihan, sujud, atau ingkar....***

El Jeffry

Ketika Sumpah Menjadi Sampah


     Di zaman akhir ini para pemalsu dan pelanggar sumpah semakin melimpah, tumpah ruah membuncah tak teratasi dan tak tercegah. Memenuhi sudut-sudut ruang, celah-celah waktu, berdesak-desak di semua strata, dari atas hingga bawah, dari yang berjas berkemeja bersafari rapi, yang bertelanjang dada, hingga yang bersih berjubah. 

     Dari yang berupa teks tertulis rapi, prosedur resmi, hingga ucap serapah yang asal muntah. Dari yang diam-diam sembunyi-sembunyi di balik kamar hingga yang terang- terangan, ditempat terbuka dan berjama’ah. 

     Dari gedung-gedung mulia, istana, kantor-kantor, kampus dan pos ronda, mal dan plaza, restoran dan lapak-lapak pasar, acara kenegaraan dan seremonial sakral, perkotaan dan pedalaman, di seluruh aktivitas sosial dan ritual. 

     Dari yang bertopi baja, bertoga, topi caping hingga yang bersorban dan berkopyah. Dari urusan kursi, urusan birokrasi, urusan akidah, nasional dan daerah, urusan cinta, yang sedang berpacaran dan yang sudah berumah tangga, dari urusan bisnis, konglomerasi hingga urusan sepiring nasi dan jual beli sawah. 

     Sumpah-sumpah diumbar, dijual obral harga murah, sumpah menjadi sampah. Dihinakan dan dianggap rendah. Sumpah menjadi sampah..! Kalimat bertuah menjadi limbah...!

    Tangan-tangan memegang pena, lidah-lidah mengucap suara, tulisan terlegalisir, stempel resmi maupun imitasi, ikrar lantang bak laskar berbaris siap perang, mushaf dan kitab suci di atas kepala, nama Tuhan dipertaruhkan demi jabatan, sumpah-sumpah tertulis dan terucap.

    Hanya dan hanya meminta kepada pembaca, pendengar dan pemirsa, rakyat, pengikut dan anggota, warga negara dan anak bangsa, agar berkenan percaya. Meminta untuk percaya. Berharap percaya. Bahkan memaksa untuk percaya, suka atau tidak suka, rela atau terpaksa. Harus percaya. Perebutan kepercayaan…!

     Kini amanat telah diminta dengan paksa. Kepercayaan telah direbut. Akad telah dibuat. Sumpah telah tumpah dan tersebar. Mahar telah dibayar. Sumpah telah mengikat jiwa dalam perjanjian yang disaksikan penghuni bumi dan langit, dan Sang Maha Melihat, Mendengar dan Menyaksikan. 

    Saksi-saksi telah mencatat rapi. Kamera CCTV telah terpasang, yang terlihat, dan yang tak terlihat mata manusia. Piringan kaset telah merekam. Kitab rekaman sempurna. Sumpah telah menjadi harga mati, pasti dan pasti harus ditebus oleh pemiliknya, setiap jiwa, tanpa kecuali, tanpa kecuali.

    Pemalsu dan pelanggar sumpah tak akan bisa lari. Ke mana akan pergi, keluar alam semesta? Tiada lagi tempat sembunyi. Penggadai sumpah akan kehilangan agunan, yang besar, yang kecil, kadar yang mutlak setimpal dengan pemalsuan dan pelanggaran yang dilakukan. 

    Jika mereka menyangka saat ini masih aman, asyik menikmati buah sumpah tanpa gangguan, itu hanya penundaan, pemberian kesempatan untuk menyadari, memperbaiki dan menebus apa yang telah dilanggar. Namun jika semuanya telah lewat, datang jemputan malaikat, tiba-tiba semuanya jadi terlambat. Turunlah laknat. Dunia dan akhirat. Pengadilan bagi para pengkhianat, sindikat pemalsu dan pelanggar sumpah, kehinaan dan kebinasaan. Bukan dari siapa-siapa, tapi dari diri sendiri yang memperbuat. 

     Di dunia ini, mungkin kita semua pengkhianat, pemalsu dan pelanggar sumpah, hanya berbeda dalam urutan tingkat, ada yang sadar dan yang tidak sadar sadar. Ada yang buta dan yang bisa melihat. Mungkin kita semua sindikat dan para penjahat, hanya berbeda ketika ada yang terus terlarut di dalamnya dan ada yang segera bertaubat. Kita semua hina dan berlumur dosa, hanya berbeda ketika ada yang membiarkan diri berkubang di dalamnya dan ada yang berusaha berjuang membersihkannya. 

     Bangsa yang cerdas, adalah bangsa yang menyadari pengkhianatan amanat, lalu berjuang menebusnya selagi kesempatan masih ada, bangsa yang bertaubat. Taubat sebelum terlambat.

Sesungguhnya telah ditawarkan amanat kepada gunung- gunung, langit dan bumi, mereka semua enggan dan menolak karena khawatir menyalahinya, tapi manusia dengan berani telah menerima dan memikulnya, sungguh manusia itu makhluk aniaya lagi bodoh… “ 

Salam...
El Jeffry

Al-Baladil Amin, Ahsani Taqwim dan Asfala Safilin



      Semula manusia dicipta dengan sebaik-baik bentuk, sesempurna-sempurna rupa dan setinggi-tinggi citra, derajat makhluk paling mulia. Kemudian dihempaskan kembali kepada  titik terendah serendah-rendahnya, hina-dina. Seperti seekor rajawali yang terbang perkasa di langit tinggi lalu menukik tajam dan jatuh terkapar di atas tanah, aspal terbawah dari seluruh lapisan aspal di jalan, ‘asfala safilin’.

      Itulah aturan main yang telah Tuhan putuskan dalam kehidupan. Hukum tetap, hukum alam, rumus baku, ‘sunnatullah’, peraturan abadi, kaidah kebenaran hakiki, berlaku menyeluruh, global-universal-mondial tanpa bisa didustakan dan tak bisa disangkal. Siapa berani dan coba-coba mendustakan akan memetik karma balasan setimpal, hancur binasa, batal demi hukum, yang bathil akan musnah oleh hukum yang ‘haqq’.

      Tidak di Indonesia, Rusia, Irak, Kolombia, Somalia, atau Alaska. Tidak di Asia, Australia, Eropa, Afrika atau Amerika.Tidak pada kaum Nuh, ‘Ad, Tsamud, Saba’, Fir’aun di masa lalu, kaum masa kini atau kaum-kaum di masa depan. Tidak satu jiwa manusia, satu keluarga dalam rumah tangga, satu kabilah dan suku bangsa, satu marga, satu umat, satu bangsa atau satu negara. Karma berlaku dalam ‘qadar’ ketetapan sampai kiamat tiba. Hukum tetap dari hakim di atas hakim, ‘ahkam-al-hakimin’, keputusan mahkamah azali.

     Al-balad-al-amin, negeri aman sentausa, zamrud khatulistiwa, ‘prototip taman surga’ di muka bumi, tanah ranah persada bumi nusantara, ‘rumah-ramah’ tempat ibu pertiwi melahirkan anak-anaknya dengan kelembutan kasih-sayang-cinta, gemah ripah loh jinawi, tata-titi-tentrem katata raharj.’ Bukan lautan, tapi kolam susu, tongkat kayu dan batu jadi tanaman, “Indonesia tanah air beta, pusaka abadi nan jaya, sejak dulu kala selalu dipuja-puja bangsa”.

    Bulan purnama bagi pungguk-pungguk bangsa di dunia, madu bagi semut-semut seluruh benua, imperialisme dan kolonialisme bangsa-bangsa Eropa, magnet raksasa bagi butir-butir besi umat manusia. Mercusuar peradaban dan kebudayaan tinggi. Kamus besar tutur kata-bahasa, norma dan budi pekerti luhur.  Tapi kini semua seakan tinggal legenda, cerita, dongeng sebelum tidur. Al-balad-al-amin, telah berubah menjadi asfala safilin, negeri aman sentausa menjadi rimba prahara-sengketa dan gubuk derita.

     Ketidakadilan penguasa, jerit keputus-asaan rakyat jelata, korupsi-kolusi-nepotisme, penindasan, kebrutalan, perzinahan, miras-narkoba, tawuran antar warga dan antar mahasiswa, pembodohan dan kebodohan, pemiskinan dan kemiskinan, kesesatan dan penyesatan, pengkhianatan nilai-nilai kemanusiaan, kesalahan berjama’ah, kemungkaran massal, dosa-dosa nasional. ‘Prototip taman surga’ menjadi ‘prototip lembah neraka’. Ahsani taqwim menjadi asfala safilin.

     Titik nadir bergulir. Sebaik-baik bentuk bangsa terjun bebas serendah-rendahnya. Objek pelecehan dunia, diremehkan negeri tetangga, tertatih-tatih di kawasan Asia, menghiba-hiba pada belas kasih pada Amerika dan Eropa. Nyaris-nyaris telanjang dari pakaian kemandirian dan jubah ‘prawira-ksatria’. Label kepecundangan bangsa mengancam bakal disematkan pada sejarah anak cucu, penerasi penerus di masa depan.

    Asfala safilin. Karma bagi pendustaan terhadap ad-din, agama, agem-ageman utama, pakaian utama. Karma dari blunder tradisi, hukum dan sistem berkeluarga dan bertata negara. Desa mawa cara, negara mawa tata. Seluruh unsur dan senyawa berkontribusi pada ‘galat’ tata negara, dari desa hingga ibu kota, dari satu jiwa hingga duaratus empat puluh juta jiwa.

     Asfala safilin. Karma bagi blingerologi, blingerisme dan blingerisasi, kekeliruan diagnosa, resep dan dosis pasien-pasien endemik masa lalu dan masa kini. Ghurur, tertipu oleh pesona buah tin, berebut kulit dan berlomba mengunyah dan menelannya mentah-mentah namun justru mengabaikan isi nutrisi dan gizi isi buahnya. Salah tata-tanam, tata-rawat, tata-olah dan tata-hidang buah zaitun, aroma harum minyak kebaikan itu menguap entah ke mana, yang menyebar bau busuk menusuk hidung dan memuat mual. ‘Spirit gunung sinai’ tak menyala, keberkahan itupun sirna, al-balad-al-amin hanya cita-cita, namun asfala safilin adalah azab-siksa yang segera dan nyata.

     Mimpi buruk hanya terjadi ketika manusia tertidur. Hanya satu cara untuk keluar darinya, bangun dan terjaga. Berdiri dan waspada. Nyebut, sadar, tahu diri, pembaharuan sikap ahti, introspeksi, muhasabah, lalu istighfar, mohon ampunan, ‘taubat massal-nasional’ dengan segera. Sesungguhnya neraca penentu harga karma itu hanya ada dua, ‘iman dan amal saleh’. Keyakinan akan Tuhan, Allah Yang Maha Bijaksana dan perbuatan kebajikan sebagai pembuktian nyata.

     Kombinasi-kolaborasi-koordinasi iman dan amal saleh adalah kewajiban ‘ain, keharusan bagi setiap jiwa, tiap individu, tiap pribadi. Iman membawa kepada optimisme, semangat berlomba dalam kebaikan, istabiqul khairat, mental positif dan jiwa ksatria-mujahidin untuk bekerja berjuang bangkit dari asfala safilin mengembalikan derajat ahsani taqwim bangsa.

      Jika seluruh manusia yang ada di negeri ini guyub-rukun, holopis kuntul baris memikul dan menebus bersama beban ‘dosa warisan dan dosa pribadi,’ berbaris rapi dalam shaf, merapatkan susunan dan meluruskan ‘kiblat’ pada satu  tujuan, rambate rata hayo. Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh, menghancurkan ideologi devide et impera, maka bangsa ini akan kembali berdiri tegak sebagai al-balad-al-amin, negeri aman lahir-batin, jiwa-raga, material-spiritual, cita-cita dan do’a bersama seluruh manusia Indonesia, baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafur, negeri penuh kebaikan dan ampunan Tuhan.

Demi (buah) tin dan (buah) zaitu, demi bukit Sinai, demi negeri (Mekkah) yang aman ini. Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dengan sebaik-baik bentuk, kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, maka mereka akan mendapat pahala yang tiada putus-putusnya. Maka apa yang menyebabkan (mereka) mendustakanmu (tentang) agama (hari pembalasan) setelah (keterangan-keterangan nyata) itu? Bukankah Allah adalah hakim yang paling adil?” (QS At-Tiin : 1-8)

Salam...
El Jeffry