Pages

Laman

Friday, December 23, 2016

Skenario Di Balik Pertemuan Nabi Musa a.s. dan Khidr a.s.




     Nabi Musa a.s. adalah salah satu dari empat nabi yang mengemban risalah dengan menerima kitab suci dari Tuhannya di samping Daud a.s., Isa a.s. dan Muhammad s.a.w. Beliau juga salah satu dari lima nabi yang diberi julukan "ulul-azmi" di samping Nuh, Ibrahim, Isa dan Muhammad s.a.w.  Sebuah gelar khusus bagi golongan nabi pilihan yang mempunyai ketabahan luar biasa dalam menyebarkan ajaran tauhid.

     Nabi Musa a.s. dengan jubah kenabian besarnya diakui oleh Islam, Yahudi maupun Nasrani. Dari berbagai literatur beliau dikenal memiliki karakter luar biasa sebagai sosok pemimpin yang lemah lembut tapi tegas, sabar tapi tegas, dengan keberanian yang tak diragukan dalam menegakkan kebenaran dan membela kaum tertindas.

     Karakteristik pribadi yang luar biasa ini bukan sesuatu yang terjadi tiba-tiba begitu saja, melainkan melalui proses panjang berliku, semenjak kelahiran hingga dewasa dan memperoleh tugas kenabian. Dari perspektif agama, itu adalah bagian dari "skenario" Allah s.w.t., Tuhan Sang Pemilik Skenario Sempurna. Secara fitrahnya, seorang nabi adalah manusia biasa yang memiliki tabiat sebagaimana umumnya manusia. Namun karena beliau adalah salah satu "hamba-hamba yang terpilih," maka tentu berbeda dalam beberapa hal dibandingkan "hamba-hamba kebanyakan." Namun secara sunnatullah, semua itu melalui proses panjang dan berkesinambungan, di mana Allah membimbing, menggembleng dan menempa hidup beliau sehingga terbentuk menjadi nabi besar.
 
      Sebagai manusia, Musa pun memiliki emosi dan amarah yang ada saatnya tak terkendali.  Diriwayatkan, ketika Musa muda masih tinggal di Mesir, beliau pernah memukul orang Mesir yang bertindak semena-mena terhadap seorang Bani Israel hingga meninggal. Musa memang merasa bersalah karena telah menuruti hawa nafsu atas hal ini karena ia sebenarnya tidak memiliki niat membunuh orang Mesir ini. Ia menguburkan orang Mesir itu lalu berlari sambil memohon pengampunan serta memohon perlindungan kepada Allah terhadap persoalan ini.

     Setelah memperoleh tugas kenabian dan mendapat perintah dari Tuhannya untuk membimbing Raja Fir'aun yang notabene ayah angkatnya setelah pelariannya , agar kembali ke jalan yang benar dan takut kepada Tuhannya, sebagai manusia biasa pula beliau merasa takut dan khawatir sehingga memohon agar saudaranya Harun a.s. diperkenankan mengiringinya. Lalu Allah pun menjawab permintaan Musa agar tak perlu khawatir karena selain pergi dengan membawa mukjizat, Dia akan menyertai mereka berdua dan bahwasanya Dia mendengar doa hamba-hambaNya.

     Pengajaran, bimbingan dan gemblengan Allah pada Musa a.s. tak pernah berhenti. Salah satu kisah yang fenomenal adalah pertemuan antara Musa a.s. dengan seorang hamba memiliki ilmu-pengetahuan dari sisi Tuhannya. Kisah pertemuan ini diabadikan secara khusus dalam Q.S. Al-Kahfi: 60-82. Banyak kalangan menafsirkan hamba itu sebagai Nabi Khidr a.s., meskipun nama dan gelar nabi bagi Khidr tak tersirat secara langsung di dalam teks ayat tersebut.

     Terlepas dari gelar dan nama hamba tersebut, ada satu pelajaran maha penting dalam proses pembentukan karakter dan sebagai "skenario" Allah dalam menyempurnakan bimbingan dan menegur hamba-hambanya yang telah melakukan kesalahan, terlebih bagi seorang Musa sebagai Nabi besar dan hamba terpilih. Dalam kisah ini, konon Musa dianggap telah melakukan kesombongan intelektual ketika beliau berkata,  "Ana a`lam al-qaum." Akulah orang paling pandai di negeri ini. Sepintas lalu, pernyataan ini dapat dianggap wajar karena dikemukakan oleh seorang Nabi yang ditugaskan Allah s.w.t. untuk membebaskan rakyat Mesir dari perbudakan Raja Firaun. Namun, Allah s.w.t. memandang pernyataan Musa itu berlebihan.

     Karena itu, Nabi Musa ditegur oleh Allah dan diberi pembelajaran khusus dengan dipertemukan untuk "berguru" menimba ilmu dari seorang hamba yang memiliki tingkat pengetahuan dan kearifan yang jauh lebih tinggi. Seperti diceritakan secara panjang lebar dalam Q.S. Al-Kahfi, Nabi Musa seakan-akan "dipelonco" oleh "Sang Guru" karena ia tak memiliki wawasan keilmuan seluas beliau, baik secara filosofis maupun epistemologis. Musa juga tidak "lulus ujian" untuk kesabaran dari rasa penasaran untuk bertanya kepada "Sang Guru."

     Padahal, semenjak pertama kali bertemu, "Sang Guru" itu telah berkata, "Apakah Taurat yang ada di tanganmu, wahyu yang diturunkan kepadamu belum cukup bagimu? Wahai Musa, sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku!" Dengan optimis Musa menjawab,  "Insya Allah, kamu akan mendapatiku sebagai seorang yang sabar dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun."

     Syahdan, selama perjalanan mereka berdua, terjadi tiga momen yang menggelitik Musa untuk "melanggar kesepakatan" dengan bertanya ketika "Sang Guru" melakukan tindakan-tindakan aneh yang tidak bisa diterima oleh logika keilmuan Musa. Yakni ketika "Sang Guru" melubangi perahu yang ditumpangi mereka berdua, membunuh seorang bocah yang tengah bermain di taman dan mendirikan dinding rumah yang hampir roboh, sementara para penduduk desa tak ada yang berkenan menjamu mereka berdua.

     Alhasil, "Sang Guru" pun menyatakan perpisahan karena "Si Murid" telah melanggar kesepakatan. Sebelum perpisahan "Sang Guru" menjelaskan takwil perbuatannya si tiga momen di atas. "Aku dapat memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang aku lakukan sehingga membuat ketidaksabaranmu itu. Bahtera itu kepunyaan orang miskin yang bekerja di laut. Aku merusak bahtera itu karena di hadapannya ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera. Apabila perahu itu dilubangi, ia tidak akan berlayar sehingga akan terhindar dari kezaliman raja yang akan merampas bahteranya.

     Adapun anak itu, kedua orang tuanya adalah orang-orang beriman dan kami khawatir anak itu akan mendorong orang tuanya pada kesesatan dan kekafiran. Jika Allah SWT menghendaki, akan lahir seorang anak sebagai penggantinya yang lebih baik kesuciannya dan lebih dalam kasih sayangnya kepada orang tua.

     Dan adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, sedangkan ayahnya adalah seorang yang saleh. Allah SWT menghendaki ketika anak-anaknya dewasa, mereka akan mendapatkan simpanan di bawah dinding tersebut sebagai rahmat dari Allah SWT." Sekali lagi ditegaskan, "Aku melakukannya bukan atas kemauanku sendiri. Dan saya harap kamu memahami tujuan dari setiap kejadian yang kau pertanyakan itu."

     Dalam satu waktu, Musa telah mendapatkan pelajaran yang sangat berharga, bahwa intelektualitas tidaklah layak sebagai alasan untuk merasa bangga dan sombong. Di atas langit ada langit. Jika seorang hamba telah dikaruniai ilmu dari sisi Tuhannya, tindakannya kerap tak terjangkau logika orang biasa dan dinilai secara kasat mata bahkan bagi orang sekelas nabi pun seperti beliau. 

     Itulah skenario Allah SWT dalam proses pembentukan karakter, penyempurnaan sifat, bimbingan dan teguran yang tidak saja dikaruniakan bagi hamba-hamba pilihannya, Nabi Musa a.s. dan nabi-nabi yang lain, wali-waliNya yang mulia, tapi juga bagi siapa saja hamba-hambaNya yang berkenan memintanya dan menempuh jalannya dengan kesungguhan. 

     "Walladzina jahadu fina lanahdiyannahum subulana." "Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (menempuh jalan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami."(Q.S. Al-Ankabut : 69)

Salam...

Thursday, December 22, 2016

Langit Mencatat: Sebuah Renungan Menyambut Akhirat



Langit dunia mungkin tak pernah bicara,
namun awan- awan putih hitam kelabu silih berganti,
pelangi dan burung- burung terbang tak ubahnya kalimat- kalimat panjang,
rapi berbaris memenuhi halaman tak bertepi,
berlembar- lembar tak terhitung jumlahnya,
kitab alam azali,
tertulis semua dalam lembaran yang terjaga, lauh mahfuzh. 

Tujuh lapis pelangi, tujuh lapis langit, tujuh lapis bumi, 
tujuh keajaiban dunia, tujuh rongga utama tubuh manusia, 
tujuh puluh ribu malaikat. Tujuh keajaiban.
Misteri alam semesta tak pernah tersingkap akal manusia. Hitungan- hitungan pasti berlangsung, 
langitpun terus menghitung, mencatat, 
menuliskan apa saja peristiwa penghuni bumi, 
langit mencatat sambil bertanya, ada apa dengan manusia ?
Sepotong surga yang jatuh ke bumi, 
tanah nusantara, zamrud khatulistiwa,
ibu pertiwi nan suci dan murni, kini tengah bermuram durja. 

Ada apa dengan anak- anak negeri, putra- putri bangsa ? 
Neraca keseimbangan menghilang,
mizan keadilan oleng kiri kanan,
amanat dari atas langit terkoyak, compang- camping, 
kefakiran di luar perhitungan, 
pasti ada yang tak terhitung di sini. 

Maka langitpun mencatat, 
sedang manusia telah mengabaikan catatan dan hitungan, enggan bermuhasabah, larut dalam kemelut hidup, 
dunia memang melalaikan.
Hijau di mata namun kuning layu terasa, kesejukan semu, cermin kehidupan tak terpasang dengan benar, 
maka biaslah pandangan. 

Apa yang telah dibaca ? 
Huruf- huruf dalam mushaf, 
lantunan suara merdu dari sudut surau, 
nyanyian berirama dari gereja,
gumam lirih di celah- celah pura dan wihara, 
mantera- mantera berbaur asap dupa, 
rintihan pilu di kuil- kuil, candi-candi dan tempat- tempat lain yang dianggap suci. 

Apa yang dibaca ? Adakah memang telah dibaca ? 
Kata- kata indah bagai syair, tertegun mata menunduk khusyu’, para penyeru bersuara tak henti- henti, 
penyiram ruhani lalu lalang sana- sini,
mengucurkan air kesejukan dan kehidupan. 
Sejuklah, hiduplah, namun seakan tetap saja tak terdengar.

Tujuh langit, tujuh bumi, tujuh puluh ribu malaikat penjaga, biarlah jadi angka- angka misteri, tak mesti dipertanyakan alasan dan mekanisme kerjanya.
Tuhan memang suka berbicara tentang angka- angka, 
pasti di sana ada hikmah,mustahil Tuhan tak punya alasan.
Pasti segalanya ada perhitungan,
itulah cara Dia mengajari manusia agar gemar berhitung, menimbang, mengukur dan menakar.
Menghitung diri, muhasabah. 

Tujuh keajaiban alam silih berganti dituliskan, 
tujuh rongga dalam tubuh manusia bisa menjadi simbol terdekat, bahwa telah dititipkan tujuh isyarat,
menyingkap misterinya mungkin akan mengantarkan jiwa hina, menembus tujuh langit, datang kepada Sang Kausa Prima, sebab dari segala sebab alam semesta, 
Tuhan di atas ‘arasy tingi mulia.

Tujuh rongga, telinga, mulut, hidung, farji dan dubur, 
amanat besar yang terlanjur dipikul, tangga jalan menghitung diri.
Pendengaran, penciuman, pengecapan, pelaminan, pembuangan kotoran, bisa membawa kepada kehinaan serendah- rendahnya, atau kemuliaan setingi- tingginya,
tergantung bisakah jiwa merawat, menjaga dan tepat mengarahkannya,
atau merusak tujuan keberadaannya, mengabaikan, lalai dan keliru mengarahkannya. 

Lidah dan kemaluan, dua rongga utama yang menyelamatkan manusia menuju surga, sekaligus pula membinasakan dalam siksa neraka, 
tergantung kesungguhan menghitungnya, 
meletakkan selurus- lurusnya di atas neraca keadilan,
pemenuhan hak keduanya untuk diperlakukan dengan lebih baik dan lebih dekat kepada cara yang lebih benar.
Tujuh rongga adalah tujuh keajaiban dunia, bukan di mana- mana, tapi di sini, di tubuh ini.

Derajat sejati, martabat hakiki manusia diukur tak hanya seputar kepala saja, namun sempat tidaknya khazanah pengetahuan mampir ke dalam dada 
walau beberapa saat,
lalu biarkan mengendap di dalam hati walau beberapa saat,
sekedar memberi waktu diri untuk menimbang, menghitung, muhasabah, menghidupkan ruhnya di dalam jiwa. 
Air mata bumi pertiwi cukuplah menjadi pertanda,
perlunya kepekaan hati dan rasa. 

Teguran gunung, hujan dan laut, angin dan hutan,
pertanda kemarahan alam,
semoga jadi ilham.
Sudah waktunya bagi setiap jiwa melakukan perhitungan 
sebelum catatan langit dibacakan,
ketika barisan malaikat siap menggelar sidang akbar,
di hari itu semua manusia gulung tikar,
bangkrut, kecuali mereka yang telah terbiasa menghitung diri,
muhasabah dalam hidupnya semasa di dunia,
di bumi ini, di tanah ranah ibu pertiwi.
***

Salam…
El Jeffry


Ternyata Angkasa Raya Tak Nyata


     Matahari yang kita lihat sehari-hari bukanlah matahari yang sebenarnya, melainkan hanya gambar siaran tunda. Berdasarkan perhitungan rumus jaraknya dengan bumi (149.000.000 km) dibagi kecepatan cahaya (3x10^8 m/detik ), diketahui bahwa perjalanan cahaya matahari memakan waktu 496,7 detik, atau sekitar 8,3 menit untuk sampai ke bumi untuk bola mata manusia menangkap gambar cahayanya.

     Demikian pula halnya dengan bintang yang kita lihat, dengan jarak yang bervariasi tiap bintang membutuhkan waktu yang berbeda untuk menyampaikan gambar cahaya sampai ke mata kita. Ada yang membutuhkan waktu setahun, seratus tahun, seribu tahun hingga milyaran tahun. Sehingga sangat memungkinkan, sebagian dari gugusan bintang yang saat ini kita lihat, sebenarnya telah punah milyaran tahun lalu. Hanya saja gambarnya yang dikirim lewat cahaya baru tertangkap bola mata manusia di bumi saat ini.

     Milyaran bintang yang nampak begitu indah kerlap-kerlip di angkasa raya pada malam hari ternyata bukan gambar nyata hari ini, melainkan hanya gambar masa lalu, alias bukan siaran langsung, tapi siaran tunda. Jangan heran, bandingkan dengan pendengaran kita. Bukankah kita sering mengatakan ketika baru mendengar sebuah kabar atau berita, “Oh, saya baru mendengarnya.“ Hal yang sama berlaku untuk mata (penglihatan) maupun telinga (pendengaran) jika kita berkata, “Oh, saya baru melihatnya.”

     Hari ini kita mendengar berita peristiwa yang terjadi sepekan lalu, bukan berarti peristiwa itu terjadi saat ini, tapi peristiwa masa lalu, hanya saja kita baru mendengarnya hari ini. Siaran tunda. Kita yang baru mendengar Plato lahir di Athena abad ke-4 SM, itu 25 abad silam, siaran tunda. Isa Al-Masih hidup di abad ke-1 M, itu 21 abad lewat, siaran tunda. Muhammad saw lahir pada tahun 571 M, itu kejadian 1441 tahun lalu, siaran tunda. Kita bahkan mungkin ada yang baru mendengar bahwa alam semesta diciptakan milyaran tahun lalu. Siaran tunda.

     Columbus menemukan Amerika 1492, kerajaan Kediri berdiri 1045–1221, VOC terbentuk 1601, Revolusi Perancis 1789, Thomas Edison lahir 1847, Revolusi Rusia 1917, Indonesia merdeka 1945, Reformasi 1998, Spanyol mengalahkan Kroasia 1-0 pada di Piala Eropa dalam siaran langsung 19 Juni 2012 dini hari tadi, bila kita baru mendengarnya saat membaca tulisan ini, semua itu sudah menjadi siaran tunda.

    Sejarah adalah siaran tunda. Masa lalu kita adalah siaran tunda. ‘Siaran langsung’ hanya ada saat ini, detik ini, tepat pada saat kita merasa dan sadar, bahwa kita bernafas, hidup. Inilah hidup kita yang sebenarnya, hanya beberapa detik, beberapa helaan nafas. Inilah ‘siaran langsung,’ hidup dan dunia kita sebenarnya yang sedang berlangsung, live, bukan delay. Pendek sekali bukan? Semoga kita bisa hidup di dunia dalam siaran langsung, bukan siaran tunda.

Salam..
El Jeffry

Wednesday, December 21, 2016

Kursi pun Bersujud




     Semula ia hanya sebilah papan tak berarti apa-apa dan tak berdaya. Namun ketika dua tangan seorang tukang meraihnya, memotong-motong dengan ukuran tertentu, menyerutnya, merangkai bagian demi bagian, mengukir dan menghias tampilannya, tiba- tiba ia berubah menjadi sesuatu yang baru, sebuah kursi indah tercipta.

     Ia tak pernah meminta dan mengharap untuk diciptakan, tapi juga ia tak kuasa menolak ketika sang tukang berkehendak untuk satu tujuan, “Aku ingin menciptakan sebuah tempat duduk yang indah dan sempurna...” Semua terjadi begitu saja. Gerak-gerik tangan sang maestro dengan pengetahuan pertukangan tak bisa dicegah oleh si kursi. Ia mengukir, menghias, penuh ketekunan dan kesabaran, ia tiupkan nuansa seni dan cinta dalam setiap goresannya, selesai.

     Sang tukang berdecak, kagum terhadap kreasinya. “Duhai indahnya engkau kursiku, kini engkau berhutang jasa padaku,semula engkau tak ada, dulu hanya sebilah papan tak berguna, kini engkau berubah menjadi barang berharga. Ya, berharga, tapi aku berhak atas dirimu, tunduklah pada perintahku, jadilah kursi yang baik sebagaimana tujuanku menciptakan engkau, sujudlah padaku... “

     Kursi itu tak bisa apa-apa kecuali patuh pada perintah sang tukang. Tak ada tawar menawar, sebab keputusan telah dibuat, dan itu adalah otoritas sang tukang. Tak ada pilihan kecuali patuh pada perintah. Kursipun bersujud. Sujud dengan bahasa yang dipahami oleh sang tukang dan si kursi. 

     Bukan sujud seperti gerakan manusia menyentuhkan kepala sejajar kaki di atas tanah. Sujud dengan cara si kursi. Kepatuhan. Penghormatan. Ketaatan pada kemauan dan kehendak sang tukang yang telah menciptakan. Patuh menjalankan fungsi sebagai tempat duduk.

     Selamanya, selamanya kursi tak pernah melawan. Ia tak berjalan kecuali diperjalankan. Ia tak bergerak kecuali digerakkan. Dan ia bahkan tak berdaya saat putaran waktu merenggut keindahan dan fungsinya, lapuk dimakan usia, rapuh tak berguna, ia tetap menurut saja diremukkan dan dilemparkan ke dalam tungku sebagai kayu bakar. Kursi tetap patuh. Sujud, taat dan tunduk pada kehendak tukang, sebab ia tak punya pilihan.

     Penciptaan manusia sama halnya dengan penciptaan kursi. Hanya bedanya manusia punya pilihan. Boleh sujud, boleh ingkar. Boleh patuh, boleh melanggar. Boleh taat, boleh khianat. Boleh menurut, boleh membantah.

    Tuhan pencipta manusia telah menitipkan kehendak dalam setiap jiwa. Kehendak bebas. Itu ada di dalam hati. Pilihan- pilihan dengan aturan yang telah ditetapkan. Masing-masing ada konsekuensi yang tak bisa diubah. Ada sebab, ada akibat. Hukum tetap. Takdir. Manusia bebas memilih, apakah ia akan menjadi sebagai kursi yang terpajang indah di beranda rumah, atau dilemparkan ke dalam tungku sebagai bahan bakar. Surga atau neraka, hanya ditentukan oleh dua pilihan, sujud, atau ingkar....***

El Jeffry


Tuesday, December 20, 2016

PELAJARAN IBLIS


Dan (ingatlah), ketika Kami (Allah) berfirman kepada para malaikat : “Sujudlah kamu semua kepada Adam,” lalu mereka sujud, kecuali iblis. Ia (iblis) berkata: “Apakah aku harus bersujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?“ (QS Al Israa’ : 61).

Iblis berkata : “Aku lebih baik dari padanya,karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.“ (QS Shaad : 76)

Lalu ia berkata : “Terangkanlah kepadaku, inikah yang lebih Engkau muliakan dari pada aku ? Sekiranya Engkau memberi waktu kepadaku sampai HARI KIAMAT, pasti akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebagian kecil saja (yang selamat)“ (QS Al Israa’: 62)

Maka iapun enggan dan kafir (menentang) sehingga Allah melaknatnya sampai HARI KIAMAT, di neraka jahanam-lah kelak ia diadzab, seburuk-buruk tempat.

IBLIS, la'natullah 'alaih, telah mengajarkan sebuah ibrah, bahwa ia telah melakukan 3 kesalahan fatal:

1. Menggunakan prasangka, persepsi pribadi sebelum mendapat pengajaran ilmu, pengetahuan ( dari Allah ) dalam menyikapi suatu perkara.

“... Hai orang- orang beriman, jauhilah kebanyakan PRASANGKA, sesungguhnya sebagian dari PRASANGKA adalah DOSA...“ (QS Al Hujuraat: 12)

2. Menyangka kemulian tergantung dari materi (kebendaan), zat pembentuk makhluk, bahwa api lebih baik dari pada tanah.

Padahal , "Sesungguhnya yang paling MULIA di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling berTAKWA." (QS AL Hujuraat:13)

3. Keliru menyikapi kesalahan pertama dengan melakukan kesalahan kedua, akhirnya menjadi kesalahan berantai. Bukannya bertaubat, tapi justru putus asa dari rahmat dengan memilih tetap membangkang perintah.

"Katakanlah (ya Muhammad ) : Wahai hamba- hambaku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, anganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa- dosa semuanya. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS Az Zumar: 53)

SIKSA neraka bermula dari KESOMBONGAN, DAN kesombongan bermula dari tiadanya PENGETAHUAN, hanya PRASANGKA, prakira dan praduga belaka... ***

El Jeffry



Saturday, December 17, 2016

Borobudur, Misteri Teknologi Dan Peradaban Abad 9 Nusantara


1342464418444093777
Candi Borobudur. Misteri teknologi dan peradaban nusantara abad 9. (sumber photo: http://wisata53ru.blogspot.com)
     Borobudur, sebuah candi megah yang berdiri di sebuah bukit yang terletak kira-kira 40 km di barat daya Yogyakarta, 7 km di selatan Magelang, Jawa Tengah, diperkirakan dibangun sekitar tahun 824 Masehi oleh Raja Mataram Kuno bernama Samaratungga dari dinasti Syailendra. Candi yang terbesar di dunia dengan tinggi 34,5 meter, luas 15.129 m2 terlihat begitu impresif dan berat 1,3 juta ton itu berdiri  “kokoh” tanpa ada satu paku pun yang tertancap di ‘tubuh’-nya.

    Sampai saat ini ada beberapa hal yang masih menjadi bahan misteri seputar berdirinya Candi Borobudur. Salah satu misteri yang masih belum terungkap sampai sekarang adalah teknologi pembangunan candi Borobudur. Bagaimana membangun Borobudur tanpa menancapkan ratusan paku untuk mengokohkan fondasinya? Seperti diketahui, struktur dan konstruksi candi Borobudur tidak memakai semen sama sekali, melainkan sistem interlock seperti balok-balok Lego yang bisa menempel tanpa lem.  

   Kecanggihan teknologi masa kini pun belum mampu mengungkap misteri ini. Berbagai penelitian para arkeolog memunculkan berbagai teori tentang teknologi pembangunan candi. Beberapa waktu lalu, 3 orang peneliti muda Indonesia dari Bandung Fe Institut, mengungkapkan teori, bahwa  pembangunan Candi Borobudur menggunakan teknologi berbasis “geometri fraktal.”

 Fraktal adalah bentuk geometris yang memiliki elemen-elemen yang mirip secara keseluruhan, berwujud kasar dan dapat dibagi-bagi dengan cara yang radikal. Fraktal memiliki detail yang tak terhingga, dan dapat memiliki struktur serupa pada tingkat perbesaran yang berbeda. Candi Borobudur sendiri merupakan stupa raksasa yang di dalamnya terdiri dari stupa-stupa lain yang lebih kecil. Dari hasil penelitian itu terbukti, ternyata Candi Borobudur dibangun dengan prinsip-prinsip fraktal.

    Suatu hal ‘keajaiban’ alam yang sulit diterima secara logika, jika ternyata peradaban dan teknologi nusantara ternyata telah mencapai puncak ‘kecanggihan’ di abad 9. Itu adalah  11 abad sebelum bangsa barat mengalami puncak keemasan seperti sekarang, sebab istilah ‘fraktal’ yang diambil dari bahasa Latin itu sendiri justru baru ditemukan oleh Benoit Mandelbrot pada tahun 1975.

    Sementara selama ini kita mungkin menganggap bahwa grafik peradaban dan teknologi bergerak lurus, dan abad 21 adalah puncak dari peradaban dan teknologi dunia dan semua ‘wajib’ berkiblat ke barat (Eropa dan Amerika). Namun dengan ditemukannya ‘tanda-tanda’ dan kemungkinan teknologi modern dalam pembangunan Candi Borobudur, ini bisa menjadi bantahan atas anggapan itu. Grafik peradaban dan sains-teknologi (iptek) berbanding lurus, tapi keduanya tidak bergerak lurus terhadap waktu (zaman), alias fluktuatif.

1342465481952971938
Peta kerajaan budha Sriwijaya, kejayaan nusantara abad 13-16 (sumber photo: http://melayuonline.com)
  Berarti, sangat dimungkinkan peradaban nusantara telah mencapai puncak peradaban dunia pada era abad ke-9. Ini didukung dengan catatan sejarah nusantara yang mencapai puncak kejayaan era pertama pada masa 4 abad kerajaan Sriwijaya (abad 7-11). Kejayaan Sriwijaya adalah simbol dari puncak peradaban dan sains-teknologi nusantara, termasuk di dalam intervalnya  masa pembangunan Borobudur dan dinasti Syailendra. Lalu grafik ini mengalami penurunan dan mencapai titik nadir dengan runtuhnya kerajaan Sriwijaya.

   Grafik peradaban nusantara baru mangalami kenaikan lagi dengan berdirinya kerajaan Singasari pada abad 13, peletak dasar fondasi kerajaan Majapahit yang akhirnya berjaya selama 3 abad (1292-1500). Meskipun belum dada penemuan bersejarah yang ‘setara’ dengan Borobudur, namun puncak peradaban dan sains-teknologi nusantara era kedua setelah Sriwijaya dimungkinkan ada pada masa Raja Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada, ketika dengan Sumpah Palapa pada 1336 berhasil mempersatukan wilayah nusantara.

    Namun grafik peradaban menurun kembali dan mencapai titik nadir dengan keruntuhan Majapahit di awal-awal abad 16, semenjak kedatangan bangsa Eropa dan mulai berdirinya kerajaan-kerajaan Islam nusantara, yang akhirnya juga sama-sama mengalami penurunan grafik peradaban, sejalan dengan keruntuhannya satu persatu setelah sempat berdiri dan berjaya selama beberapa abad.

     Pola acak grafik peradaban antar bangsa-bangsa di dunia yang acak dan ‘unik.’ Di era ini Eropa justru sedang mengalami kenaikan grafik peradaban selepas dari ‘abad kegelapan,’ renaissance-humanisme, berbagai penemuan di bidang sains-teknologi, revolusi industri, penjelajahan samudera dan berkembangnya kolonialisme dan imperialisme di Amerika, Afrika dan Asia. Di saat yang sama, abad 16 ini pula grafik peradaban nusantara justru ‘terjun bebas.’
13424663361700228654
Peta pelayaran Alfonso de Albuquerque (Spanyiol) adab ke 16, abad pencerahan Eropa membawa abad kegelapan bagi nusantara. (sumber photo: http://www.swaen.com)
    Seperti diketahui, kedatangan Portugal pada 1511,  Spanyol pada 1521, VOC (yang kemudian diambil alih pemerintah Belanda 1816)  pada 1602. 500 tahun penjajah dalam sejarah menjadikan peradaban nusantara terkapar di lembah terbawah. Di bawah kolonialisme Belanda selama 350 tahun nusantara berada dalam ‘zaman kegelapan,’ sebelum ‘era kebangkitan’ menggeliat di awal-awal abad 20. Politik Etis pemerintah Belanda 1901, termasuk investasi dalam pendidikan bagi pribumi dan sedikit perubahan politik, mengawali era ‘renaissance’ nusantara.

      Transfer ilmu pengetahuan Eropa melalu pendidikan di era ini membuka kesadaran kaum terpelajar Indonesia dan menumbuhkan semangat nasionalisme dan perjuangan kemerdekaan untuk mengembalikan peradaban nusantara. Berdirinya Boedi Oetomo pada 1908 (yang kini dijadikan sebagai Hari kebangkitan Nasional) menjadi titik awal kenaikan grafik peradaban nusantara. Revolusi peradaban membuahkan hasil pada 1945 setelah Indonesia memproklamasikan diri sebagai negara merdeka.

    Kini, setelah lebih dari satu abad sejak kebangkitan nusantara modern, grafik peradaban nusantara masih fluktuatif, nusantara seakan sedang ‘kebingungan’ identitas diri. Peradaban dan sains-teknologi yang sempat terkubur lebih dari 11 abad (bertolak dari era pembangunan candi Borobudur) masih terlalu dalam untuk digali kembali. Gempuran peradaban dan sains-teknologi barat modern yang terlanjur diadopsi generasi awal era 1900-an masih begitu kuat membentuk ‘model’ peradaban Indonesia, bahkan semakin mengakar dalam tata nilai kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

    Kadang kita seolah lupa, bahwa jauh sebelum barat dengan teknologi modern yang fantastis seperti sekarang, peradaban kita juga lebih tinggi, bahkan dalam beberapa hal, tak terjangkau logika di abad ini. Kita terlalu berorientasi ke ‘barat’ dan melupakan ‘timur,’ peradaban penuh ‘mukjizat’ tempat ‘ruh’ kita sendiri ditiupkan. Ketika wacana sejarah masa lampau dimunculkan, kita lebih menganggapnya sebagai mitos yang tak sejalan dengan logika ilmiah, prinsip-prinsip dasar sains-teknologi modern.
13424675531317848829
Kedatangan Ratu Balqis di istana Nabi Sulaiman. Teknologi tinggi dalam kepindahan singgasana dalam kecepatan cahaya? (sumber photo: http://abushony212.wordpress.com)
Padahal teknologi borobudur yang jika benar terbukti lebih tinggi dari teknologi modern abad 21, ini belum seberapa. Muhammad Isa Daud dalam bukunya, “Dajjal Akan Muncul Dari Segitiga Bermuda” mengemukakan pandangan yang lebih ekstrem. 3.000 tahun lalu justru manusia telah menemukan sebuah teknologi yang lebih spektakuler, yang untuk saat ini hanya ada dalam film, dongeng atau legenda. Di zaman Nabi (Raja) Sulaiman (diperkirakan 989-931 SM), seorang manusia yang bernamaAsif Bin Barkhiya telah mampu memindahkan singgasana istana Ratu Balqis (sekarang Yaman) ke istana Sulaiman di Palestina.

    Dengan berpijak dari prinsip-prinsip dasar teori relativitas, teknologi ini memungkinkan seseorang memindahkan benda (materi) dari jarak yang jauh dalam kecepatan cahaya, utuh sempurna dengan kerusakan 0%. Sebuah ‘kecanggihan’ ilmu manusia, sebagian menyebutnya sebagai ‘mukjizat’ yang bahkan mengalahkan kemampuan ‘teknologi’ jin. Kisah ini diabadikan dalam Al Qur’an (An-Naml, ayat 38-40), ketika Sang Raja menawarkan ‘tender’ kepada dua orang ‘digdaya’ untuk memindahkan singgasana istana Ratu Balqis.

    Salah satunya, jin Ifrit yang ‘jenius’  berkata, “…aku akan datang kepada ku dengan membawa singgasana itu kepada mu sebelum engkau berdiri dari tempat dudukmu…”Lalu berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari al-Kitab, “Aku akan membawa singgasana itu kepada mu sebelum matamu berkedip.”Akhirnya teknologi manusialah yang sanggup melakukannya.

     Jika di masa Nabi Sulaiman telah ada teknologi sedemikian tingginya, (mungkin sebagian dari kita menganggapnya tak logis karena tak terjangkau logika sains-teknologi terkini), dan di masa Syailendra (nusantara abad 9) juga telah ada teknologi yang juga masih belum terjangkau oleh logika kita, maka kecanggihan teknologi (barat) yang membuat kita terpesona akhirya menjadi sains-teknologi yang belum seberapa. Jika pembangunan candi Roro Jonggrang dalam semalam oleh Bandung Bondowoso yang selama ini kita kenal hanya sebagai dongeng juga ternyata telah menggunakan teknologi modern, masihkah kita juga belum bisa menerima sebagai sebuah kemungkinan (yang logis)?

    Jika ternyata khazanah misteri yang tersembunyi di balik ribuan candi dan peninggalan bersejarah lainnya di negeri ini ternyata menyimpan kunci rahasia dari puncak peradaban dan sains-teknologi dunia, itu menjadi bukti bahwa kita sebagai bangsa sedang berada di titik nadir peradaban dan sains-teknologi. Konsekuensinya tentu akan selalu menjadi korban peradaban bangsa asing yang lebih maju. Dan kita harus menjadi pelengkap penderita dalam era kegelapan-perbudakan dan gerusan zaman. Kecuali kita semua kembali tersadar untuk bangkit kembali mengambil harta yang hilang karena terabaikan, menaikkan kembali grafik peradaban dan sains-teknologi yang telah diawali oleh para pendiri bangsa generasi seabad silam.

Salam…
El Jeffry


Friday, October 21, 2016

Dilema Agama: Kafir Adil, Atau Muslim Zalim?





DILEMA AGAMA. (sumber photo: http://debbyzhanng.blogspot.com/2010/12/islam-ktp.html)    


     Bagi kita, pemeluk agama mana pun, termasuk yang tidak beragama (atheis), jawablah dengan jujur. “Mana yang lebih kita sukai di antara dua orang teman, satunya seagama dengan kita tapi perilakunya zalim (jahat) dan lainnya beda agama tapi berlaku adil (baik)? Atau bila kita muslim, mana teman yang lebih kita sukai, non muslim yang adil, atau muslim yang zalim?
     Atau bila kita Nasrani, mana yang lebih kita sukai antara teman sesama Nasrani yang jahat atau teman bukan Nasrani yang baik? Atau bahkan jika kita atheis dan kebetulan benci pada agama, mana yang lebih kita suka, teman sesama atheis yang jujur atau teman orang beragama yang pendusta?

     Hal yang sama bila kita melihat dengan kacamata suku. Kita orang Jawa. Secara kultur emosional, kita lebih merasa nyaman berhubungan dengan orang Jawa ketimbang berhubungan dengan orang Batak, Ambon atau Tionghoa. Sebagaimana pula ketika kita sebagai muslim, sunni dan hobi catur, secara naluri-emosional kita tentu lebih merasa nyaman dan akrab berteman dengan muslim, sunni dan hobi catur pula ketimbang muslim, syi’ah yang benci catur, meskipun sama-sama muslim.

    Itu adalah hal yang lumrah. Ikatan emosional, semakin banyak kesamaan, secara psikologis semakin dekat dan nyaman manusia saling berhubungan. Namun dalam realitanya, kaidah itu tak serta merta mudah berlaku. Kedekatan hubungan emosional berdasarkan persamaan banyak hal akan bisa gugur dan ‘batal demi hukum’ ketika berkaitan dengan nilai-nilai mendasar tentang asas keadilan.

    Ada yang berkata, “Manusia adalah makhluk pedagang,” yang cenderung “mencari keuntungan dan membenci kerugian.” Adakah manusia yang mau rugi? Pun dalam berinteraksi, prinsip dasar untung rugi tetap berlaku. Bila nilai-nilai ini ditabrak, akan rusaklah seluruh nilai, ketuhanan dan kemanusiaan.

    Dalam Islam, kesuksesan (keberhasilan) identik dengan keuntungan, keberuntungan (falaha-muflihun-orang-orang yang beruntung). Kesuksesan adalah banyaknya keuntungan yang diperoleh (pahala, upah, balasan).

   Di antara hak asasi manusia adalah hak untuk memiliki kebebasan (merdeka) dari perbudakan. Maka ketika kita berhubungan dengan orang lain yang mengancam kebebasan, maka sudah secara naluri kita akan membenci orang itu, meskipun memiliki banyak persamaan, bahkan jikapun ia adalah saudara seiman atau saudara kandung.

     Dua orang yang seagama, satu suku, satu golongan, satu kesenangan bahkan satu keluarga tidak akan bisa menjalani hubungan yang harmonis jika salah satunya zalim, jahat, pendusta, khianat dan berusaha merampas kebebasan lainnya. Hukum alam (sunnatullah) tak bisa dilanggar dengan alasan apapun. Hubungan harmonis baru tercipta jika kedua pihak memiliki sikap dan perilaku adil, baik, jujur, amanat dan saling menghargai kebebasan. 

      Dalam komunitas (kaum) beradab, kepemimpinan menjadi keniscayaan. Secara psikologi, bila dua orang bertemu, salah satunya akan mendominasi (memimpin) dan lainnya didominasi (dipimpin). Jika sudah tercipta tatanan, maka kepemimpinan juga memiliki kriteria, sebagaimana dalam ritual ibadah shalat seorang imam memilki prasyarat-prasyarat tertentu. Intinya, imam (pemimpin) adalah yang terbaik.

    Salah satu hal mendasar yang menjadi sumber ketertinggalan bangsa-bangsa muslim, termasuk Indonesia adalah ketidaktepatan dalam meletakkan keberagamaan dalam tatanan kehidupan bermasyarakat, (berbangsa dan bernegara). Keberagamaan umat di negeri kita masih jauh panggang dari api, gap yang lebar antara kesalehan ritual dengan kesalehan sosial, hablum minallah dan hablum minannaas. Paradigma agama terkurung dalam hal ketuhanan, tapi gagal total dalam ranah kemanusiaan (humanisme).

    Jurang ketimpangan yang curam bisa dilihat dalam praktek kepemimpinan di hampir seluruh lembaga, kususnya lembaga keagamaan. Menjadi ironis dan paradoks bagaimana bisa Depag bisa disinyalir sebagai lembaga terkorup. Al Qur’an pun dikorupsi! Menteri agama korupsi. Ulama korupsi. (Korupsi Depag, Tuhan terdepak kutukan sejarah memuncak).

      Akhirnya jadilah STMJ, Shalat Terus Maksiat Jalan. Atau PJKA, Puasa Jalan, Korupsi Aman. Tak perlu kita munafik. Ramadhan bisa sedikit dijadikan pelajaran berharga. Bulan puasa, hanyalah bulan euforiaSebulan berpuasa, korupsi tetap leluasaSumpah menjadi sampah. Di negara Koruptor dan agama KTP fenomena ini sudah menjadi hal yang lumrah. Blingerisme dan blingerisasi sudah mencapai pada tahap kritis, ghururparadigma (tertipu), kekeliruan sistemik endemik, ciri khas zaman edan. 

      Aneh tapi nyata, kenapa orang yang lebih tahu agama (alim-ulama), kok justru lebih berani berbuat kejahatan dan dosa? Menurut anekdot, konon, karena kedekatannya itulah mereka menganggap remeh perbuatan dosa, kan tinggal minta ampun kepada Tuhan, bukankah Allah Maha Pengampun? 

       Akhirnya justru yang awam, bodoh, dan miskin ilmu agama dan jauh dari agama (jarang-jarang ibadah) justru kadang lebih selamat dari kejahatan besar. Itu dikarenakan mereka merasa miskin investasi pahala ibadah, lalu bagaiman kalau bertambah-tambah dengan kejahatan besar, sedang mau istighfar pun kebingungan, kecemasan tertolak karena jauh dari Tuhan.

      Kehidupan umat-masyarakat semakin membingungkan. Dalam berinteraksi sosial, memilih seorang teman, mitra kerjasama usaha dan pemimpin, kita dihadapkan pada dilema. Agama langit, telah ber-evolusi menjadi agama satelit. Agama mengajarkan, prioritaskan yang seiman (sesama muslim). Tapi realitanya, agama tertinggal di masjid dan musholla. Keluar lapangan, agama sudah dicampakkan. 

        Siapa jujur, hancur! Ingin sukses, wajib korupsi! Mau masuk istansi, suap, mau jadi polisi, pelicin, mau jadi pegawai negeri, sogok. Siapa lurus, tergerus! Siapa amanat, disikat. Siapa terbuka,celaka! Mau membantah,wani piro? Indikasi runtuhnya sebuah bangsa surga.

       Dilema dalam berinteraksi sosial terjadi ketika nilai-nilai religius yang diajarkan agama bertabrakan dengan nilai-nilai realita. Keberagamaan kita masih terkurung dalam tempurung syari’at (kulit-zhahir-dogma-tekstual), belum beranjak ketangga hakikat-makrifat (esensi-bathin-sejati-konseptual). Agama tanpa logika kehilangan akal sehat-rasional, dunia mendominasi dengan kemenangan rasional. 

    Mayoritas kita niscaya memilih dunia dan meminggirkan agama. Maka ukhuwwah (persaudaraan) hanya ada di ruang ibadah. Di dunia nyata, saling jegal, saling curi dan saling tikam. Politik dan elitnya menjadi potret faktual. Padahal mereka semua orang beragama, tapi sentimen agama hanya dipakai ketika membawa keuntungan dunia (harta, tahta, wanita). Jika merugikan, agama tidak dibawa-bawa.

       Idealnya, agama yang benar mestinya tidak bertabrakan dengan dunia. Agama bukanlah dilema, justru sinergis-simbiosis dalam keselarasan dunia-akhirat. Jika demi akhirat kita jujur, maka mestinya demi dunia kita juga jujur, apapun konsekuensinya, bahkan ketika harus menanggung kerugian. Pemimpin dunia (urusan negara) dan pemimpin agama (ulama) mestinya selaras dan sebangun.

     Dalam kondisi keberagamaan yang masih ‘cacat hukum,’ jika kita lebih cerdas, maka untuk mencapai keselarasan dalam berinteraksi sosial, termasuk dalam menilai kepemimpinan, jangan libatkan sentimen agama.  Itu hanya tepat diberlakukan dalam kondisi masyarakat yang relatif sudah beragama dengan benar, dalam urusan dunia maupun akhirat, ketika kesalehan ritual sudah relatif selaras dengan kesalehan sosial. Dalam kondisi masyarakat seperti ini barulah sentimen agama bisa memainkan peranan. 

     Dalam pluralitas keberagamaan nusantara, perbedaan (yang oleh sebagian diyakini sebagai rahmat), akan menjadi ajang sehat untuk berkompetisi dalam kebaikan menjadi yang terbaik (istabiiqul khairaat). Islam, Hindu, Budha, Kristen, Protestan, Konghucu dan lain-lain bisa berlomba untuk membuktikan diri sebagai yang terbaik. Barometernya adalah sejauh mana mampu memberikan manfaat bagi manusia lain (bukan hanya bagi manusia seiman seagama). Islam mengajarkan, ”Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lain (lingkungannya).”

    Dalam terminologi Islam, berdasarkan Kitab Al-Hisbah karangan Ibnu Taimiyah dinyatakan: “Allah akan menolong Negara yang adil meskipun negara itu Kafir. Dan Allah tidak akan menolong Negara yang dholim meskipun Negara itu Mukmin (Islam).” Pemimpin yang baik adalah yang  sesuai dengan Kaidah Fiqh:“Kebijakan pemimpin terhadap rakyatnya harus mengacu pada kemaslahatan (kesejahteraan) rakyat”. 

     Haramnya memilih pemimpin non musim (kafir), berlaku dengan catatan pemimpin tersebut membawa dampak negatif bagi agama dan umat Islam. Selama pemimpin kafir tersebut diyakini (dan sudah terbukti) mendatangkan keburukan atau kemudharatan bagi agama dan umat Islam, maka hukum memilihnya tidak boleh. Sebaliknya, bila keyakinan itu tidak ada (belum terbukti), maka hukumnya boleh. (Pandangan saya sebagai orang Islam).

     Kaidah kepemimpinan ini berlaku tak hanya dalam ranah elit, karena sejatinya setiap manusia adalah pemimpin. Lebih luas, ia bisa pemimpin perusahaan, kelompok, kerjasama bisnis, kepala desa, RT, bahkan pemimpin keluarga. Kaidah kepemimpinan ini juga berlaku dalam kaidah berinteraksi, berteman, bekerja sama atau berserikat. Jika kita bekerja sama dengan non muslim berintegritas lebih membawa keberhasilan , kenapa harus memilih sesama muslim yang tak berintegritas yang beresiko membawa kehancuran? 

     Sebuah PR akbar, tantangan dan refleksi bagi umat muslim Indonesia untuk membuktikan diri sebagai umat terbaik (khairu ummah) dalam praktek nyata, bukan iman retorika dan sekadar rasa bangga. Seruan dengan perilaku (da’wah bilhaal), jauh lebih efektif daripada seruan dengan lisan (da’wah billisaan). “Satu bukti mengalahkan seribu ayat dan seribu janji.”

    Kadang terlalu sulit untuk menjelaskan makna api, kecuali dengan menyentuh dan merasakan panasnya kulit yang terbakar. Pertanyaan sederhana bagi kita, umat muslim, “Mana yang membuat kita lebih nyaman dalam berhubungan, teman non muslim yang baik, jujur dan berlaku adil, atau teman muslim yang jahat, pendusta dan zalim?” Bila kita bisa menyelami dengan kejernihan hati dan kebeningan rasa, maka dari situlah kita menemukan jawabannya.

Salam...
El Jeffry