Monday, December 4, 2017

Kisah Firasat Ibu Wongso: Sang Putera Ahmad Yani Berpamitan Untuk "Pergi"

Jenderal Ahmad Yani dan sang Putri, Amelia Yani (kanan)


Tragedi kelam di Subuh 1 Oktober 1965, tak pernah terlupakan oleh istri dan anak-anak Letjen Ahmad Yani, bahkan meski bertahun waktu berlalu.

Bagaimana tidak? Nyawa Menteri/Panglima Angkatan Darat (Menpangad) waktu itu direnggut secara paksa oleh gerombolan oknum Pasukan Tjakrabirawa.

Jenderal (Anumerta) Ahmad Yani adalah salah satu pejabat teras TNI AD kala itu yang menjadi salah satu korban keganasan Gerakan 30 September (G30S) PKI.

Amelia A Yani, salah satu putri mendiang Jenderal A Yani mengisahkan hari-hari kelam tersebut, termasuk firasat Bapak dan Ibu Wongsoredjo, orangtua ayahnya, akan kepergian sang jenderal.

Pedih dan duka mendalam dialami istri dan anak-anaknya yang kehilangan sosok sang jenderal, tepat di hadapan mereka yang juga di rumah mereka sendiri di Jalan Lembang D58, Jakarta Pusat.

“Dulu bahkan ibu sempat sakit-sakitan setelah Bapak (Jenderal Yani) enggak ada. Bolak-balik masuk rumah sakit juga. Itu saat-saat terpuruk bagi kami,” tutur Amelia A Yani suatu saat kepada sebuah media.

“Beberapa minggu setelah kejadian, Mbah Wongso (Bapak dan Ibu Wongsoredjo), orangtuanya Bapak, datang ke Jakarta, nengok ke rumah.

Mereka sempat nginep di kamar Bapak,” imbuhnya di rumah yang kini sudah menjadi Museum Sasmitaloka Pahlawan Revolusi Jenderal TNI Ahmad Yani tersebut.



Presiden Soekarno, Omar Dani dan Ahmad Yani
Dari situ anak-anak mendiang Jenderal Yani diceritakan kakek-neneknya bahwa sebenarnya pada waktu kejadian, mereka juga mendapat firasat yang ganjil.

Firasat sosok putra mereka, Jenderal Ahmad Yani, datang ke kampung halaman di Rendeng, Purworejo, Jawa Tengah.

Sosok putra mereka menghampiri tempat tidur ibunda untuk berpamitan. Hal ganjil sekelebat itu tak bertahan lama karena setelah tersadar, Ibu Wongsoredjo melihat bayangan putranya langsung raib.

“Mbah (Wongsoredjo) cerita bahwa saat dihampiri sosok Bapak itu, tepat pada kejadian di sini juga, Subuh 1 Oktober 1965. Mbah putri bertanya-tanya, ada apa ya (Jenderal) Yani datang berpamitan?

Awalnya mereka mengira Bapak (Jenderal Yani) sakit. Tapi kemudian ternyata diketahui bahwa ada kejadian G30S di Jakarta,” sambung Amelia Yani.

Sejak datang ke Jakarta, ayah Jenderal Yani sakit-sakitan akibat dampak perih hati yang tak tergambarkan.

Sejak saat itu pula, sakitnya tak pernah pulih dan akhirnya menyusul putranya ke alam baka setahun setelah Jenderal Yani meninggal.

“Kami beberapa kali masih suka mudik ke Rendeng, liburan sekalian menemani Mbah Putri. Rasanya beda ketika sudah enggak ada Bapak (Jenderal Yani),”

Tandas Amelia seraya menatap penuh rindu pada salah satu foto Jenderal Yani di museum tersebut.

********


Kisah Perjuangan Para Istri Jenderal Revolusi, dari Jual Gaplek hingga Anggrek



Elina Lilik Elastria (Juwik) tak bisa membendung air mata setiap kali mengingat perjuangan sang ibu, Yayu Rulia Sutowiryo, pasca tragedi Gerakan 30 September 1965.

Sepeninggal suaminya, Jenderal TNI Anumerta Ahmad Yani, yang menjadi korban Gerakan 30 September, Yayu mengalami depresi.

Sekitar setahun lamanya dia cuma mengurung diri, nyaris tak punya semangat hidup. Hingga suatu hari pada November 1966, Yayu mengumpulkan kedelapan anaknya.

"Bapak pernah bilang sama Ibu (lewat mimpi) bahwa Ibu harus kuat," kata Juwik mengulang pernyataan Yayu saat berbincang dengan detikcom, 29/9/2017.

Sejak saat itu, Yayu bangkit, melakoni hidup dengan peran ganda: sebagai ibu dan ayah bagi delapan anaknya. Dia menerapkan disiplin keras dan aturan baru. Anak-anak tak boleh jajan dan selepas sekolah harus makan di rumah.

"Ibu sendiri mulai merintis usaha, namun beberapa kali mengalami kegagalan," kata Juwik lirih. Yayu, dia menambahkan, antara lain pernah berjualan gaplek, lalu sembako di Kemang. "Namun dua-duanya gagal."




Jenderal Ahmad Yani
Tapi sang ibu tak putus asa. Dengan sisa-sisa uang hasil penjualan rumah, dia membeli sebidang tanah di Kemang. Di atas tanah tersebut kemudian dibangun rumah.

Menurut Juwik, ibunya memiliki kegemaran mendekorasi rumah dan memanfaatkan kemampuan itu. Rumah yang dibangun tersebut didesain dan didekorasi dengan menawan, lalu dijual.

Sukses itu membuat Yayu percaya diri untuk selanjutnya berbisnis rumah. Perekonomian keluarga pun mulai mapan. "Saya selalu menangis jika mengingat perjuangan ibu," kenang Juwik.

Perjuangan keras juga dilakoni Julie Suparti, istri Mayor Jenderal Soeprapto. Guna menopang kehidupan keluarga, dia berjualan batik, berdagang es mambo untuk anak sekolah, hingga membuat kue dan berjualan tanaman anggrek.

Istri Mayjen MT Haryono juga berjualan kue dan bunga anggrek dari kebun yang biasa dirawat Haryono kala masih bugar. Selain itu, dia menyewakan paviliun rumahnya kepada orang asing.

Karena lokasinya yang strategis, peminatnya lumayan banyak sehingga dia secara bertahap bisa menambah beberapa paviliun baru.

"Dari usaha penyewaan ini, kebutuhan keluarga akhirnya terpenuhi. Bahkan kami pun mendapatkan kesempatan mengenyam pendidikan ke mancanegara," tutur putra-putri Mayjen Haryono dalam buku 'Kunang-kunang Kebenaran di Langit Malam'.

Lain lagi dengan istri mendiang Brigjen DI Pandjaitan. Sebagai ibu sekaligus bapak rumah tangga, ia menyiasatinya dengan membeli bus kota dan kemudian disewakan.

Dari uang yang terkumpul, dia menggunakannya untuk membangun rumah lalu disewakan kepada orang asing.






Sunday, December 3, 2017

Terkuak, Misteri Tongkat Komando Bung Karno.

Soekarno Bersama John F. Kennedy


Ada suatu hal yang sangat misterius dari sosok Bung Karno, Sang Proklamator. Terlihat, setiap berkunjung kemanapun, Bung Karno selalu menenteng sebuah tongkat.

Tongkat Komando yang dibawanya menjadi ciri khas tersendiri. Bahkan di beberapa foto dan lukisan, Bung Karno pasti selalu menggenggam tongkat tersebut.

Bung Karno, selain dikenal sebagai figur pemimpin yang visioner dan rasional, namun, kehidupan sehari-hari sang putra fajar ini tidak bisa dilepaskan dari hal-hal spiritual budaya khas Indonesia.

Bung Karno dipercaya memiliki beberapa benda pusaka yang konon bertuah. Salah satu di antaranya adalah Tongkat Komando. 

Menurut literatur sejarah, sebenarnya tongkat komando Bung Karno ada tiga, dengan fungsi masing-masing.

Ada tongkat yang hanya beliau pakai saat kunjungan kenegaraan, ada pula yang khusus dibawa saat beliau berpidato, dan ada pula yang dipakai untuk kegiatan sehari-hari, saat berhadapan dengan para Jendralnya.

Benarkah Tongkat Komando Bung Karno Memiliki Kesaktian?



Bung Karno sendiri mengatakan bahwa Tongkat Komandonya itu tidak memiliki daya sakti atau daya linuwih, " Itu hanya kayu biasa yang aku gunakan sebagai bagian dari penampilanku sebagai Pemimpin dari sebuah negara besar." Kata Bung Karno kepada penulis Biografi-nya Cindy Adams pada suatu saat di Istana Bogor.

Tongkat Komando Bung Karno sendiri dipakai setelah terjadi peristiwa 17-Oktober-19 52, di mana KSAD A.H. Nasution dan tujuh panglima daerah meminta DPRS dibubarkan.

Kemal Idris, salah satu dari tujuh panglima, pernah mengarahkan moncong meriam ke Istana. Dalihnya melindungi Presiden dari demonstrasi mahasiswa.

Dipercaya, tongkat komando Bung Karno bukanlah sembarang tongkat, namun tongkat sakti, yang berisi keris pusaka ampuh. Dan tongkat komando ini terbuat dari bahan yang sangat istimewa.

Konon, kayu yang dibuat sebagai tongkat pun bukan sembarang kayu, melainkan kayu pucang kalak. Pucang adalah jenis kayu, sedangkan Kalak adalah nama tempat di selatan Ponorogo, atau utara Pacitan. Di pegunungan Kalak terdapat tempat persemayaman keramat. Nah, di atas persemayaman itulah tumbuh pohon pucang.

Konon, suatu malam Bung Karno didatangi orang dengan membawa sebalok kayu Pohon Pucang Kalak yang ia potong dengan tangannya, balok itu diserahkan pada Bung Karno.

”Untuk menghadapi Para Jenderal” kata orang itu. Lalu Bung Karno menyuruh salah seorang seniman Yogyakarta untuk membuat kayu itu menjadi tongkat komando.

Tidak sedikit yang menghubungkan tongkat komando ini  dengan “kesaktian” Bung Karno, sehingga lolos dari beberapa kali usaha pembunuhan.

Menurut penuturan Kolonel Maulwi Saelan, eks Wakil Komandan Cakrabirawa, Bung Karno pernah mengalami setidaknya  7 kali upaya percobaan pembunuhan.

Peristiwa paling menggemparkan adalah saat Bung Karno ditembak dari jarak dekat saat sholat Idul Adha pada 14-Mei-19 62. Saat itu, Bachrum duduk pada saf depan dalam barisan jemaah salat Idul Adha di Masjid Baiturahim. Begitu melihat Bung Karno, dia mencabut pistol yang tersembunyi di balik jasnya, moncong lalu diarahkan ke tubuh Bung Karno.

Dalam sepersekian detik ketika tersadar, arah pun melenceng, dan peluru meleset dari tubuh Bung Karno, menyerempet Ketua DPR GR Kyai Haji Zainul Arifin. Bachrum divonis hukuman mati, namun kemudian dia mendapatkan grasi.

Yang menjadi heboh adalah bagaimana tembakan yang  hanya jarak 5 meter itu bisa meleset, padahal penembaknya adalah seorang jago perang terlatih.

Konon, di sidang pengadilan penembak Bung Karno, terungkap saat Bung Karno membelah dirinya menjadi lima. Penembak bingung ‘mana Bung Karno’ yang asli?

Apa kata Bung Karno sendiri mengenai hal mistis yang dikaitkan kepadanya? 


Fidel Castro dan Soekarno


“Ah… itu semua karena lindungan Allah, karena Ia setuju dengan apa-apa yang aku kerjakan selama ini. Namun kalau pada waktu-waktu yang akan datang Tuhan tidak setuju dengan apa-apa yang aku kerjakan, niscaya dalam peristiwa (pembunuhan) itu, aku bisa mampus."

Sebagai seorang intelektual yang rasional, kesukaan Bung Karno terhadap tongkat komando maupun sebuah keris lebih karena nilai seni dan sejarah yang ada pada keris tersebut, bukan pada unsur mistik.

Saat Bung Karno jatuh dari kursi kekuasaannya pada 1967, keberadaan tongkat komando miliknya kemudian menjadi legenda dan misteri yang tak jelas ujung rimbanya.

Ada kabar, salah satunya diklaim ada di Pangandaran. Tongkat itu berukuran kurang lebih 53 centimeter, terbuat dari kayu pohon kelapa dengan ujung atas dan bawahnya terdapat tembaga berwarna kekuningan.

Dini Octaviani, pemilik barang tersebut mengaku mendapatkannya dari ayahnya, Raden Misdjan Sunaryo, salah satu ajudan Bung Karno pada waktu pembacaan teks proklamasi.

Dunia ini memang penuh misteri, dan sejarah adalah sesuatu yang bias. Ada hal-hal yang terjangkau akal dan logika, namun ada pula yang tersembunyi dan tetap menjadi misteri. Termasuk kesaktian Bung Karno berikut tongkat komandonya beserta kepastian keberadaannya.

Terlepas dari itu semua, bagaimanapun Bung Karno adalah putra terbaik yang pernah dimiliki Indonesia, yang kebesarannya tak hanya diakui oleh bangsanya sendiri, namun juga oleh dunia internasional.
********

Bung Karno: "Ikut Sukarno-Hatta atau PKI Muso!"


Soekarno-Muso

"Ikut Muso dengan PKI-nya atau Ikut Soekarno-Hatta?" Begitulah cuplikan sebagian isi pidato Presiden Soekarno pada 19 September 1948 di corong RRI Yogyakarta. Rakyat begitu terkejut mendengar pidato itu.

Kaum ‘Republiken’ menjadi sangat gusar karena merasa ditikam dari belakang. Mereka marah karena tahu padasaat yang sama Belanda tengah mempersiapkan serangan besar-besaran merebut ibu kota RI yang ada di Yogyakarta.

Seusai pidato itu, maka di kalangan rakyat pun segera meluas percakapan bila, kemarin pagi,  PKI  mengadakan kudeta,  mengadakan perampasan kekuasaan di Madiun, Mereka  mendirikan di sana suatu Pemerintah Soviet di bawah pimpinan Muso.

Sukarno dalam pidato itu menegaskan, perampasan kekuasaan oleh para pimpinan dan masa PKI itu sebagai permulaan untuk merebut seluruh pemerintah Republik Indonesia.

“Ternyata dengan itu bahwa peristiwa Solo dan Madiun tidak berdiri sendiri-sendiri, melainkan adalah suatu rantai tindakan untuk merobohkan Pemerintah Republik Indonesia,’’ kata Soekarno.

Setelah itu Soekarno dengan panjang lebar menguraikan isi pidatonya: “Saudara-saudara, camkan benar-benar apa artinya itu: Negara Republik Indonesia yang kita cintai hendak direbut oleh PKI Muso.  Rakyatku yang tercinta.

Atas nama perjuangan untuk Indonesia Merdeka, aku berseru padamu pada saat yang begini genting,  di mana engkau dan kita sekalian mengalami percobaan yang sebesar-besarnya dalam menentukan nasib kita sendiri,’’ kata Soekarno pada pidatonya tersebut.

Soekarno kemudian menyerukan kepada rakyat akan adanya dua pilihan:
“Ikut Muso dengan PKI-nya yang akan membawa bangkrutnya cita-cita Indonesia Merdeka, (atau) Ikut Soekarno-Hatta yang insya Allah dengan bantuan Tuhan akan memimpin Negara Republik Indonesia kita ke Indonesia yang Merdeka, tidak dijajah oleh negeri apapun juga. Saya percaya,  bahwa rakyat Indonesia yang sudah lama berjuang untuk mencapai kemerdekaannya, tidak akan ragu-ragu dalam menentukan sikapnya. Dan jika tidak ragu-ragu berdiri di belakang kami dan Pemerintah sekarang yang sah, bertindaklah tidak ragu-ragu pula,’’ tegas Soekarno mengajukan pilihannya kepada rakyat.

Selang beberapa hari kemudian, battalion pasukan Siliwangi yang tengah berada di Yogyakarta setelah melakukan hijrah dari Jawa Barat, dikerahkan ke Madiun untuk memulihkan keamanan.

Tak berapa lama, dalam hitungan pekan, kekuatan PKI dilumpuhkan. Muso tertembak di dekat sebuah WC umum yang berada di daerah Madiun.

Mayat Muso yang orang tuanya merupakan kiai kampung, diarak ke Alun-Alun kota Madiun. Jenazahnya diperlihatkan masyarakat karena sudah tersiar desas-desus bila berita tertangkapnya Muso adalah kabar bohong.

Semula jenazah Muso rencanya akan dibawa ke Yogyakarta, namun dibatalkan karena melihat kondisi jenazah yang terancam rusak.

Celakanya, meskipun kudeta dapat digagalkan, namun korban keburu banyak yang jatuh akibat operasi bersenjata PKI yang menyasar berbagai pesantren dan kantor pemerintahan.

Sebagian dari korbannya adalah para kiai di Pesantren Takeran (perbatasan Magetan dengan Madiun).

Pengasuh pondok Kiai Mutaqien, diculik oleh segerombolan orang berpakaian hitam dengan kacu leher berwarna merah. Jenazahnya sampai kini tak ditemukan.

Korban lainnya, yakni pengasuh pondok dan santri pesantren yang kini dimiliki keluarga tokoh media Dahlan Iskan itu, pada selang beberapa bulan berikutnya berhasil ditemukan.

yakni berada tujuh lobang sumur tua di tengah perkebunan tebu yang memang berada di sekitar kampung Takeran itu.

Namun, setelah jenajah diangkat dan identifikasi, ternyata tubuh yang berada di lobang sumur itu, tak hanya berasal dari kalangan santri dan ulama saja.

Mereka yang antikomunis, yakni para pekerja biasa, pegawai negeri sipil, hingga pejabat daerah seperti wedana, jaksa, dan bupati di daerah itu juga menjadi korbannya.

Sebelum diekseuksi, mereka ternyata diangkut dengan lori dan kemudian dimasukan ke dalam lobang sumur tua yang berada di rimbun tengah perkebunan tebu tersebut.

Kisah petualangan Muso dengan PKI-nya di Madiun, tujuh belas tahun kemudian terulang kembali di Jakarta, pada 30 September 1965, yang dikenal dengan G-30-S/PKI, atau Gestapu.

Kali ini, dilakukan oleh seorang anak ‘ulama kampung’ asal pulau Belitung yang menjadi Ketua Umum PKI, DN Aidit.

Nasib Aidit pun berakhir sama dengan Muso. Di sebuah  lahan yang di tengahnya terdapat sumur tua di Boyolali, Jawa Tengah, dia ditembak tentara yang melakukan operasi pembersihan anggota dan pimpinan PKI.
*******