Monday, July 10, 2017

Ternyata, Hidayat Pelapor Kaesang Punya Gangguan Kepribadian

Muhammad Hidayat, pelapor Kaesang Pangarep


Nama Muhammad Hidayat, si pelapor Kaesang Pangarep, atas ujaran kebencian karena ucapan "ndeso" tiba-tiba menjadi sorotan publik. Adanya beberapa kejanggalan, khususnya dalam mengkoleksi urusan lapor-melaporkan orang ke polisi turut mengundang perhatian pakar psikologi untuk ikut berkomentar. 

Belum puas melaporkan Kaesang pada Minggu, 2 Juli 2017, Hidayat juga melaporkan Kadiv Humas Polri Irjen Pol Setyo Wasisto ke Polres Bekasi pada Jumat, 7 Juli, terkait dengan film pemenang Police Movie Festival, Kau Adalah Aku Yang Lain.

Jadi, total laporan polisi yang dibuat orang ini di sepanjang 2017 yang semula tercatat sebanyak 60, kini bertambah menjadi 62 laporan. Rekor luar biasa, bukan? Jika dihitung sejak Januari 2017, rata-rata laporan polisi yang dibuat Hidayat adalah 10 laporan perbulan, atau dengan kata lain, tiap 3 hari dia melaporkan orang ke polisi.


Menurut psikolog Mira Anin, jika ditelaah dari sisi psikologi, jumlah laporan tersebut sudah melampaui batas. Terkecuali jika profesi seseorang memang mewajibkannya untuk mengamati dan melaporkan kasus seperti KPK. Jika lapor-melapor ke ranah hukum dilakukan lebih dari lima kali saja, itu sudah menjadi hal yang tidak wajar, apalagi hingga puluhan.

Sedangkan Hidayat sehari-hari bekerja sebagai pengurus toko di Masjid Baiturrahim. Kesehariannya, ia memang tidak begitu dikenal oleh tetangganya dan memiliki kepribadian tertutup.

Melaporkan atau mengadukan sesuatu mungkin hal yang sudah biasa dilakukan banyak orang, terutama jika memang konteksnya adalah profesi. 

Ada banyak kebutuhan mental yang tidak tersalurkan dari si pelaku yang diduga mengarah kepada gangguan kepribadian hingga mental seseorang.

Jika profesi seseorang memang mewajibkannya untuk mengamati dan melaporkan kasus seperti KPK misalnya, hal tersebut wajar. “Bila profesinya tidak jelas dan menjadi hobi, ada aspek-aspek psikologi yang perlu diperhatikan,” ujar Mira.

Secara psikologi, gangguan kepribadian harus diteliti lebih lanjut sebelum seseorang dianggap memiliki gangguan kejiwaan. Dalam hal ini, pihak kepolisian harus melakukan pengecekan realita secara komprehensif, dari sisi kejujuran maupun kesehatan jiwanya.

Namun Mira menilai, hal yang dilakukan Hidayat masih dalam tahap gangguan kepribadian. Hal ini disebabkan selama hidupnya, seseorang memiliki banyak kebutuhan mental yang tidak tersalurkan.

Pelapor Kaesang dinilai diduga memiliki banyak gangguan kepribadian. Yang paling utama adalah kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan dari banyak orang dari sesuatu yang dilakukannya.

Dalam hal ini pelaporan akan nilai-nilai seperti penistaan agama dan ujaran kebencian karena ia merasa lebih tahu akan subjek yang dilaporkan. Dengan melaporkan, ada kesan memiliki kredibilitas secara sepihak yang dirasakannya sendiri tanpa memikirkan akibatnya di kemudian hari.

Saat seseorang tidak memiliki kehidupan sosial yang baik, ia mengalami gangguan interaksi antar manusia. Keinginannya untuk bersosialisasi sulit tercapai sehingga timbul sikap butuh pengakuan, kedekatan dan penyaluran nilai-nilai.

Sayangnya aspirasi yang tidak tersalurkan secara positif ini berubah menjadi negatif dalam wujud hobi lapor-melapor. “Kemampuannya mempersepsikan realita tidak berfungsi sehingga ia memilih untuk menjalankannya dengan cara sendiri yang dianggap benar,” tambah Mira.

Keinginan untuk eksis tidak hanya dialami oleh remaja hingga orang muda saja. Semua umur memiliki keinginan untuk mengibarkan eksistensi dalam komunitas. Hal ini diduga dialami oleh Hidayat yang berusia 53 tahun.

Kehidupan sosial yang kurang baik hingga komunikasi buruk antar manusia merupakan beberapa penyebab orang yang usianya sudah matang begitu kuat untuk eksis dan menghalalkan segala cara agar perhatian tertuju padanya.


Dalam kasus Hidayat, ia mengaku merasa dilecehkan karena dipanggil Polresta Bekasi, Jawa Barat. Secara psikologi, seseorang dengan gangguan pribadi akan melakukan penyangkalan atas hal negatif yang ia lakukan sebelumnya.

Sikap defensif merupakan hal mendasar yang dimiliki manusia namun harus disesuaikan dengan fakta. Jika banyak inkonsistensi, maka sudah jelas kepribadian seseorang terganggu karena tidak menyadari sepenuhnya yang telah dilakukan kepada orang lain.

Dalam menjalani hidup, manusia harus bekerja untuk tetap produktif sehingga kesehatan mentalnya terjaga. Namun jika seseorang kontra-produktif, ia akan mencari hal-hal lain untuk menyalurkan aspirasi kejiwaannya.

Saat ini budaya berkomentar di dunia maya memang memprihatinkan, yang ditunjang sifat latah masyarakat yang ikut-ikutan menanggapi isu di sekitarnya. Lapor-melapor ke ranah hukum tanpa latar belakang yang kuat terjadi bila seseorang tidak melakukan pengecekan fakta secara mendalam.

Hasilnya, ia mengikuti dorongan untuk menyalurkan kebutuhannya secara tidak langsung. Semua isu ditanggapi karena memiliki banyak waktu luang dan tidak paham bagaimana menyalurkan aspirasi secara positif.

Nah, Bagaimana tuh pak polisi?

sumber: cnnindonesia.com

Laporkan Kaesang Ke Polisi, Hidayat Melempar Bola Api, Terhantam Muka Sendiri




    Ibarat bermain lempar bola api, lemparan Hidayat terbilang sukses untuk membuat dirinya tenar mendadak berkat aksinya melaporkan Kaesang Pangarep, putra presiden Jokowi, pada Minggu, 2 Juli lalu atas ujaran kebencian (hate speech) karena ucapan "ndeso" dalam video yang diunggah ke akun Youtube. 

     Publik sempat dibuat memanas dengan ragam kontroversi. Wajar saja, yang yang disasar adalah anak dari orang nomor satu di negeri ini, yang segala tindak tanduknya selalu disorot oleh publik dan tak henti dibidik oleh lawan-lawan politik. 

    Jika kesulitan untuk membidik musuh karena terlalu pintar berkelit, maka bidiklah orang-orang terdekatnya, khususnya keluarganya. Sejumlah politisi pun ngebet memita polisi untuk memproses laporan tersebut. 

    Tapi lemparan bola api Hidayat yag sepenuhnya mengenai sasaran, alias meleset. Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki memastikan, Presiden Jokowi tidak melakukan intervensi hukum terkait adanya laporan terhadap putra bungsunya Kaesang Pangarep. 

     “Itu wilayah kepolisian kalau memang tidak ada unsur pidananya berarti tidak diteruskan. Tapi saya kira tidak ada intervensi dari Presiden, Presiden sedang sibuk,” kata Teten.

     Sementara itu, Polri sendiri telah memberi sinyal pelaporan itu tidak akan diproses. Wakapolda Metro Jaya Brigjen Suntana menyebut penyetopan pelaporan itu sudah sesuai dengan mekanisme. 

     Wakapolri Komjen Syafruddin pun telah memberikan pernyataan bahwa pelaporan Hidayat itu tidak memenuhi unsur pidana sehingga tidak diproses. Polres Metro Bekasi Kota sendiri saat ini tengah melakukan gelar perkara kedua terkait dengan laporan tersebut. 

     Dan sial bagi Hidayat, bola api yang telah sukses dilemparkannya kini justru berbalik menghantam mukanya sendiri. Fakta terbaru dari orang ini pun terungkap. Ternyata laporan yang dibuat ini bukan pertama kalinya. 

    Tercatat orang ini sudah 60 kali membuat laporan ke polisi. Untuk apa? Awalnya sih katanya untuk membantu menegakkan hukum. Ternyata ini hanyalah topeng. 

    Itulah mengapa laporan tersebut banyak menyasar para pejabat, khususnya yang berada di Bekasi, karena diduga itu dilakukan untuk melakukan pemerasan. 

   Setelah melaporkan, Hidayat mendatangi pejabat tersebut. “Riwayatnya ini udah 60. Dia rata-rata melaporkan pejabat di Bekasi, nanti didatangi, bahwa ‘ini saya sudah laporan loh’,” kata Setyo Wasisto, Kadis Humas Mabes Polri. 

    Setyo menjelaskan bahwa Hidayat akan kembali menjalani proses hukum dalam kasus ujaran kebencian  terhadap Kapolda Metro Jaya Irjen M Iriawan yang membuatnya jadi tersangka. 

     Dia sebenarnya pernah ditahan tapi ditangguhkan dengan alasan kemanusiaan. “Ditangguhkan karena kemanusiaan, dia sudah tua. Harusnya dia masih ditahan ini. Ini makanya mau diproses lanjut. Dia di luar malah bikin resah seperti itu,” imbuh Setyo.

     Lalu, bagaimanakah nasib Muhammad Hidayat selanjutnya? Kita tunggu saja...

*****

Deddy Corbuzier: Kaesang Itu Ndak Pantes Jadi Anak Presiden




     Karena video unggahannya di Youtube, Kaesang Pangarep, putera bungsu Presiden Jokowi menjadi bahan perbincangan yang masih hangat dalam beberapa hari terakhir.

     Kasus yang mencuat setelah Kaesang dilaporkan ke polisi oleh Muhammad Hidayat ini tak urung memancing pro kontra, opini dan reaksi publik.

     Presenter berkepala plontos Deddy Corbuzier tak ketinggalan turut bereaksi dengan berkomentar dalam video berjudul,"Kaesang, Itu Ndak Pantes Jadi Anak Presiden”. 

    Dalam video yang diunggah di laman YouTube-nya, Deddy mengatakan, Kaesang tidak pantas menjadi anak presiden. Menurut Deddy, dirinya yang pantas menjadi anak presiden. Deddy berandai-andai jika menjadi anak presiden, tentu dia akan meminta saham dan proyek.

     “Saya akan minta saham dari orangtua saya di perusahaan saya. Saya akan minta proyek pembangunan jalan misalnya, saya akan minta proyek pembangunan sekolah,” katanya. “Dan kalau saya yang jadi anak presiden saya akan korupsi. Bayangkan akan sekaya apa saya nanti?” ujarnya lagi.

   Statement Deddy ini mengungkit kembali video yang diunggah oleh Kaesang yang mengungkit soal bapak minta proyek. Dan tidak lupa Deddy juga menjelaskan kata ‘Ndeso’ yang menjadi permasalahan dan dijadikan alasan Muhammad Hidayat melaporkan Kaesang ke polisi.

  Banyak orang, setuju bahwa mempermasalahkan apalagi melaporkan orang karena kata ‘Ndeso’ adalah sesuatu yang konyol, atau mengada-ada seperti diungkapkan oleh pihak kepolisian saat memutuskan untuk menghentikan kasus ini. 

    Kalau kata ini dianggap ujaran kebencian, bagaimana pula dengan kata-kata lain yang jauh lebih kasar dan keras seperti yang dikoar-koarkan kelompok sumbu pendek, baik di dunia nyata maupun di media sosial. Lalu bagaimana pendapat Deddy mengenai kata ini?



    “Ndeso itu artinya kampungan bukan orang kampung,” kata Deddy. “Kampungan itu berbeda dengan orang kampung. Orang kampung adalah orang yang tinggal di kampung, sedangkan kampungan adalah sifat. Orang kota bisa kampungan, tapi orang kampung belum tentu kampungan.”

    Jadi sudah jelas ya, dan dapat disimpulkan, Ndeso bukan ujaran kebencian. Ada yang mengatakan ini candaan atau apa pun selain ujaran kebencian. Tuh buktinya Mas Tukul saja sudah tak terhitung lagi mengucapkan kata pamungkas ini di acara Talk Show-nya.

   Deddy kemudian menegaskan lagi bahwa Kaesang tak pantas menjadi anak presiden karena terlalu ‘lurus’.
“Kamu kok jadi anak presiden baik-baik gitu. Kamu kok jadi anak presiden lurus-lurus jualan martabak. Ya anak presiden yang lurus banyak, nggak cuma kamu. Tapi kalau saya nggak akan gitu,” ujar Deddy.

   Deddy menyindir Kaesang tapi dalam bentuk sarkas yang sebenarnya menyentil orang lain seperti dalam video Kaesang. Penjelasannya mengenai ndeso yang merupakan sifat kampungan sangat bagus dan mengena, sekaligus membuat beberapa orang kejang-kejang. 

     Video Deddy ini, seakan menyadarkan kita bahwa banyak sekali kelompok sakit hati yang mau melakukan apa pun, termasuk yang konyol sekali pun untuk menjegal siapa pun yang tidak disukainya. Bagaimana tidak, sang pelapor ternyata diketahui seorang tersangka ujaran kebencian juga. Tidak hanya sampai di situ, pelapor juga telah 60 kali membuat laporan ke polisi, diduga untuk melakukan pemerasan. Memang ini sekilas tidak terkait dengan politik.

    Bagaimana kalau ada yang memanfaatkan ini untuk kepentingan politis? Ini jauh lebih berabe. Sudah kita lihat beberapa waktu lalu, di mana kepentingan politik membuat negara ini kacau. Demi ambisi dan kehausan di dunia politik, sebagian kelompok melakukan apa pun, memanfaatkan apa pun serta menggunakan sesuatu yang tidak semestinya demi memuaskan dahaganya.

   Salut buat Kaesang. Bagi yang melaporkan dan bagi yang mempermasalahkan kata ‘Ndeso’ yang diucapkannya.
*****

Saturday, June 24, 2017

Demi Bisa Hamil, Wanita Ini Rela Perutnya Dimasuki 500 Lintah

Nina Evans


Tak lengkap rasanya apabila pernikahan tidak dihiasi dengan keberadaan anak. Maka dari itu setiap pasangan berharap segera dikaruniai keturunan.

Sayangnya terkadang nasib berkata lain. Ada yang langsung diberi momongan, ada yang harus menunggu beberapa tahun, bahkan ada pula yang tidak bisa mendapat keturunan.

Rasa ingin segera hamil itu juga tengah dialami wanita bernama Nina Evans. Namun nasibnya sedang tidak bagus.

Hingga usia 40 tahun, Nina tak kunjung hamil karena ia mengidap tumor jinak yang menempel pada dinding rahimnya.

Untuk dapat menyembuhkan tumor tersebut, sebenarnya Nina dapat melakukan operasi pengangkatan rahim.

Namun cara ini menyebabkan dirinya tak akan bisa hamil selamanya.

Daripada harus mandul, Nina lebih memilih jalan terapi menggunakan bantuan lintah.

Meski cukup ekstrem, tetapi terapi ini cukup berguna untuk menghentikan mioma yang tumbuh pada jaringan oto di sekitar dinding rahimnya.

“Saya memilih terapi lintah karena saya terlahir di Lithuania, di sana banyak orang yang melakukan terapi lintah untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit,” ujar Nina.

Saking besarnya harapan Nina untuk segera sembuh dan memiliki anak, ia rela perutnya dimasuki sekitar 500 ekor lintah.

Hewan berlendir itu akan menghisap darah dan menyembuhkan tumor yang diidap wanita yang sekarang berusia 50 tahun tersebut.

Benar saja, setelah melakukan terapi lintah selama 8 bulan Nina akhirnya bisa hamil.

Wanita ini berhasil mewujudkan impiannya untuk bisa hamil saat usianya sudah memasuki 45 tahun.

Namun ia tidak mempermasalahkan hal tersebut. Baginya, anak adalah karunia yang sangat berharga yang layak untuk diperjuangkan betapapun beratnya.


***********

Resmi Tersangka, HT Dicekal. Ambisi Terjegal?

Hary Tanoesudibjo


Pihak Mabes Polri menyatakan surat pemberitahuan status tersangka kasus dugaan SMS ancaman sudah dikirim ke Hary Tanoesoedibjo. Hary Tanoe dilaporkan jaksa Yulianto karena SMS yang dikirim saat Yulianto menangani kasus dugaan korupsi restitusi pajak Mobile 8.

"Surat pemberitahuan status yang bersangkutan juga sudah diberikan kepada HT sendiri, kepada pelapor, dan kepada jaksa sesuai putusan MK yaitu dalam 7x24 jam kalau sudah ada penetapan tersangka pihak-pihak seperti pelapor, jaksa dan tersangka harus diberitahu," kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Rikwanto kepada wartawan, Jumat, 23-Juni 2.017.

Penetapan tersangka Hary Tanoe berdasarkan hasil gelar perkara tanggal 14 Juni. Keesokan harinya, pada 15 Juni dikirim Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) Hary Tanoe.

Di situ tertera, status HT sebagai tersangka pelanggaran Pasal 29 juncto Pasal 45 ayat 3 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi Transaksi Elektronik (ITE) mengenai ancaman melalui media elektronik.

Ia dilaporkan Yulianto pada awal tahun 2016 lalu. Dalam kasus ini, Yulianto tiga kali menerima pesan singkat dari Hary Tanoe pada 5, 7, dan 9 Januari 2016.

Hary Tanoe dijadwalkan diperiksa sebagai tersangka pada hari Selasa, 4-Juli 2.017.

Setelah penetapan tersangka, maka CEO MNC Group ini pun dicegah bepergian ke luar negeri, alias dicekal untuk 20 hari ke depan. Hal itu ditegaskan oleh Kabag Humas dan Umum Dirjen Imigrasi Kemenkumham Agung Sampurno, Jumat, 23 Juni malam.

Dengan dijadikannya tersangka, maka hampir bisa dipastikan, ambisi Ketua Umum Perindo di panggung politik negeri ini bakal tertatih-tatih, kalau tidak dikatakan terjegal dan terjungkal.

Sejak terjun ke dunia politik tahun 2011, Hary adalah politikus kutu loncat. Setelah bergabung dengan partai Nasdem Oktober 2011, ia mudur dari Partai besutan Surya Paloh itu dengan alasan perbedaan pendapat dan pandangan mengenai struktur kepengurusan partai.

Lalu Hary Tanoesoedibjo pun resmi bergabung dengan Partai Hanura tanggal 17 Februari 2013. Dengan gencar ia pun segera berkampanye di media sebagai pasangan duet dengan Wiranto, menyongsong pilpres 2014, Win-HT.

Merasa belum mendapatkan kendaraan politik yang ideal, Hary mendirikan Partai baru, Partai Persatua Indonesia (Perindo) pada 7-Februari 2013.

Ambisi Hary untuk jadi pimpinan negeri ini nampak jelas dari salah satu kalimat sms yang ditujukan kepada Jaksa Yulianto.
"Catat kata-kata saya di sini, saya pasti jadi pimpinan negeri ini. Di situlah saatnya Indonesia dibersihkan."

Namun sayang, tak pernah terbersit dalam benaknya jika dari sms itulah perjalanan politik yang sudah dirintisnya bertahun-tahun harus terjegal.

Kini Hary harus berhadapan dengan proses hukum, dan tidak bisa berkelit lagi. Suka tidak suka, ini yang harus dihadapi, dan ambisi untuk jadi pimpinan negeri ini, lebih simpan dulu sebagai mimpi...

***

Gajah Mada Beragama Islam? Ini Fakta Sejarahnya!

Ilustrasi Gajah Mada


Beberapa hari terakhir, media sosial tengah hiruk pikuk lagi dengan kabar kontroversial mengenai Gajah Mada dan Majapahit. Bahwa Gajah Mada beragama Islam dan Majapahit pun merupakan kasultanan. Itu tertulis dalam buku "Fakta Mengejutkan: Majapahit Kerajaan Islam" karya Herman Sinung Janutama.

Ditambah lagi dengan tulisan Arif Barata di situs portal-islam.id. "Meluruskan Sejarah: Kesultanan Islam Majapahit dan Patih Muslim Gaj Ahmada (Gajah Mada).

Bahwa ada segelintir kaum muslim di lingkungan Majapahit, sejumlah makam di Trowulan membuktikan. Tapi raja dan para pejabat kerajaan sama sekali tak pernah disebut memeluk Islam.

Reaksi atas tulisan itu beragam terapi umumnya mencibir dan menertawakan. Meski demikian, banyak pihak yang mencibir sebenarnya juga tak bisa menunjukkan dasar argumennya.

Dalam diskusi di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada Kamis (22/6/2017), arkeolog menuturkan bahwa jika tak memahami sejarah dan arkeologi, sangat mungkin masyarakat memiliki kesimpulan yang salah tentang Majapahit.

Arkeolog Universitas Indonesia, Hasan Djafar, mengatakan, artefak berbau Islam dari masa Majapahit memang banyak ditemukan.

DR. Hasan Djafar



Di Makam Troloyo, ada 100-an nisan dengan hiasan tulisan Arab. Nisan itu berasal dari masa 1203 - 1533 Masehi. Artinya, ada sejumlah nisan yang berasal dari masa sebelum berdirinya Majapahit pada 1292. Ini berbeda dengan pandangan umum yang menyatakan bahwa Islam baru muncul pada akhir kerajaan itu.

Eksistensi Islam sebelum Majapahit didukung oleh sejumlah catatan. "Ada yang menyebutkan, tahun 1082, sudah ada masyarakat Islam di Gresik," kata Hasan.

Meski ada artefak berbau Islam, arkeolog tetap berkeyakinan bahwa kerajaan Islam pertama di Nusantara adalah Samudera Pasai, bukan Majapahit. Koin dengan tulisan Arab, nisan dengan
Nisan Bertuliskan Kalimat Syahadat
kalimat syahadat tidak cukup menjadi bukti keislaman kerajaan yang berpusat di Trowulan itu.

"Majapahit tetap bercorak Hindu-Buddha, tecermin dalam peraturan perundang-undangan dan sistem teologinya. Saya tidak melihat benih-benih Islam sedikit pun," tegas Djafar.

Arkeolog dan penulis buku "Catuspatha: Arkeologi Majapahit", Agus Aris Munandar, mengungkapkan, keyakinan bahwa Majapahit merupakan kerajaan Hindu-Buddha didasarkan pada sumber-sumber arkeologi yang sebenarnya punya peringkat tersendiri.


Catuspatha


"Sumber peringkat pertama atau yang paling bisa dipercaya adalah prasasti yang sezaman. Lalu prasasti yang terkait dengan prasasti sezaman itu," katanya.

Sumber pada peringkat berikutnya adalah data arkeologis berupa monumen, fitur, dan artefak bergerak. Karya sastra yang sezaman dan yang lebih muda berada pada peringkat yang lebih rendah. Hal lain yang bisa jadi sumber arkeologi adalah berita asing, legenda, mitos, dongeng, dan pendapat para ahli.

"Kalau ada artefak koin dengan tulisan Arab, itu tidak bisa langsung menghapus kekuatan sumber prasasti lalu dijadikan dasar
Koin Majapahit
mengatakan Majapahit kerajaan Islam," ungkapnya.



Lebih lanjut, Agus menerangkan, identitas agama Gajah Mada dan Majapahit bisa dilihat dari prasasti dan hingga sistem pemerintahan. Gelar raja, misalnya, sudah bisa menjadi bukti bahwa Majapahit merupakan kerajaan bercorak Hindu-Buddha.

"Raden Wijaya bergelar Krtarajasa Djayawarddhana Anantawikramotunggadewa. Djayawardhana itu sudah jelas Hindu karena artinya keturunan Dewa Wisnu yang bertahta," jelas Agus.

Identitas agama Majapahit juga bisa dilihat dari konsep dewaraja. Setiap raja di Majapahit memiliki dewa pujaan pribadi. Saat raja itu meninggal, dia diyakini akan bersatu dengan dewanya. Candi yang dibuat pasca meninggalnya raja itu akan dihiasi oleh figur sang raja yang digambarkan sebagai dewa pujaannya.

"Contoh, Tribhuanottunggadewi itu memuja Dewi Parwati, maka setelah meninggal diwujudkan sebagai dewa itu," kata Agus.

"Nama pejabat tinggi dalam Majapahit juga menunjukkan corak Hindu dan Buddha. Misalnya, ada Dharmmadyaksa ring Kasaiwan dan Dharmmadyaksa ring Kasogatan. Kasogataan artinya Kebuddhaan. Tidak ada Dharmmadyaksa ring Muslimah atau lainnya," imbuh Agus.

Bukti lain ialah penataan kota Majapahit yang memperhatikan letak gunung yang dipercaya sebagai tempat suci dan corak prasasti.

 


Surya Majapahit
Soal surya Majapahit yang diklaim menjadi bukti keislaman kerajaan itu, Agus menuturkan bahwa delapan sinar yang ada pada lambang itu sebenarnya adalah tanda arah mata angin. Dalam kepercayaan Majapahit, tiap arah angin punya dewanya sendiri.

Sinar Majapahit menjadi ciri khas candi-candi peninggalan Majapahit di mana corak itu dijumpai pada batu sungkupnya.

Agama Gajah Mada sendiri dipercaya adalah Buddha. Bukti penguatnya adalah catatan kitab Negarakertagama yang menyebut bahwa setelah pensiun, dia dianugerahi tanah Kebuddhaan yang bernama Madakarupira. Lokasi tanah itu berada di selatan Pasuruan.

Menurut Agus, untuk menafsirkan identitas agama suatu kerajaan, peringkat sumber-sumber arkeologis perlu diperhatikan. "Penulis (Kasultanan Majapahit) kemungkinan tidak mengerti pemeringkatan itu," katanya.





***

Sunday, June 11, 2017

Temuan Terbaru Atmosfer di Planet Mirip Bumi




 

Sebuah studi yang diterbitkan oleh Astronomical Journal pada April 2017 mengungkap bahwa para ilmuwan mendeteksi keberadaan atmosfer di sekitar planet yang menyerupai Bumi.

Mereka meneliti sebuah planet yang dikenal dengan nama Gliese-1132b, atau sering disingkat menjadi GJ-1132b. GJ-1132b adalah planet ekstra tatasurya yang mengorbit pada bintang kerdil merah yang berukuran jauh lebih kecil, lebih dingin dan lebih redup dari Matahari. GJ-1132b ditemukan pada tahun 2015 oleh Array M Earth-South di Chile.

Berukuran 20% lebih besar dari pada Bumi dan massa 1 koma 6 kali dari Bumi, menyiratkan bahwa planet ini memiliki komposisi berbatu seperti di Bumi. Gliese-1132b mengorbit bintangnya setiap 1,6 hari pada jarak 1,4 juta mil. GJ-1132b berjarak 39 tahun cahaya dari Bumi dan berada di konstelasi Vela.

Planet ini menerima radiasi bintang 19 kali lebih banyak dari Bumi. Suhu di atas atmosfernya diperkirakan 500 ° F atau (260 °C). Planet ini diperkirakan lebih panas dari Venus, karena suhu yang lebih tinggi dapat terjadi di dekat permukaan. 




Ada kemungkinan satu sisi planet ini lebih sejuk, karena diperkirakan terkunci secara kebetulan karena kedekatannya dengan bintangnya; Namun, dalam kebanyakan keadaan di mana atmosfir tebal, ia bisa mentransfer panas ke sisi yang jauh.

Pengamatan terhadap planet GJ-1132b ini menunjukkan bahwa planet yang disebut "super-Earth" tersebut memiliki atmosfer tebal yang mengandung dua unsur yaitu, uap atau metana, atau campuran keduanya. Salah satu kemungkinannya itu adalah 'planet air' dengan atmosfer yang terdiri dari uap panas. Penemuan atmosfer serta penggolongan planet ini merupakan kemajuan penting dalam mencari kehidupan lain yang ada di luar Tata Surya.

Tapi sepertinya dunia baru ini mustahil dihuni mengingat panas permukaannya mencapai sekitar 370 °C. Dr John Southworth, peneliti utama dari Universitas Keele, mengatakan: "Setahu saya makhluk hidup di Bumi mampu bertahan hidup dengan suhu terpanas 120 °C dan itu jauh lebih dingin dari planet ini."

Meskipun begitu, penemuan atmosfir ini mendorong para peneliti untuk mencari lebih jauh tentang adanya kehidupan di luar planet Bumi. Temuan itu mengindikasikan bahwa atmosfer bisa dijumpai di planet-planet yang dikelilingi bintang-bintang dengan massa rendah. Dan karena begitu banyaknya planet di alam semesta, diperkirakan ada setidaknya satu planet yang bisa dihuni.

Dengan menggunakan teleskop di European Southern Observatory di Chile, para ilmuwan mampu meneliti planet tersebut dengan mengamati bagaimana planet itu terhalang cahaya bintang yang melintas di depannya. 


Tapi molekul yang berbeda dalam atmosfer planet ini, jika atmosfernya memang ada, menyerap cahaya dengan cara yang berbeda, memungkinkan para ilmuwan untuk mencari unsur kimia saat planet itu melewati bintang.

Marek Kukula, astronom publik di Royal Observatory Greenwich mengomentari penelitian ini dan mengatakan bahwa studi tersebut merupakan konsep dengan bukti yang cermat. Jika teknologi bisa mendeteksi atmosfer, maka itu menjadi pertanda baik karena mampu mendeteksi dan mempelajari berbagai atmosfer planet bahkan planet yang mirip dengan Bumi dalam waktu yang tidak terlalu lama.
***********