Wednesday, March 1, 2017

11 Teror Bom Terdahsyat Sepanjang Sejarah Indonesia


Terorisme dalam sejarah Indonesia lebih didominasi oleh misi pendirian negara Islam (khilafah Islamiyah). Pada awalnya aksi ini dilakukan oleh kelompok Jema'ah Islamiyah yang berafiliasi dengan al-Qaeda pimpinan Osama bin Laden.

Serangan teror dengan peledakan bom mulai secara masif mengguncang Indonesia sejak tahun 2000, dengan sasaran "negara Barat." Namun, belakangan misi telah bergeser kepada pendirian Negara Islam Irak dan Syiria, ISIS.

Tidak lagi pada simbol-simbol asing (Barat) sebagai target, namun kini lebih kepada aparat terutama kepolisian, dan bahkan masyarakat umum pun tak jarang ikut dijadikan korban.
 
Berikut ini 11 serangan bom terdahsyat sepanjang sejarah Indonesia, dengan korban tewas terbanyak:


1. Bom Bursa Efek Jakarta-2000.
Serangan teroris mulai mengguncang Indonesia pada 14 September 2000, ketika serentetan bom mobil meledak di ruang bawah tanah, lantai parkir P2 Gedung Bursa Efek Jakarta.

Korban tewas         : 5 orang.
Korban luka-luka   : 90 orang.

2. Bom Malam Natal-2000. 

 

Pada malam Natal 24 Desember 2000, terjadi serentetan serangan teror bom di sejumlah gereja di Indonesia di beberapa kota, Batam, Pekanbaru, Jakarta, Pangandaran, Bandung, Mojokerto, Mataram. Serangan tersebut diduga dilakukan oleh kelompok Jamaah Islamiyah. 


Korban tewas    :16 orang
Korban luka-luka: 96 orang.

3. Bom Gereja St Anna dan HKBP-2001


Serangan terorisme kembali terjadi, sekitar pukul 07.05, ketika pastor tengah berkhotbah, bom meledak di dalam ruangan Gereja Santa Anna di Jl. Laut Arafuru Blok A7/7, Duren Sawit. Pada saat hampir bersamaan, pukul 06.55, bom juga meledak di lapangan parkir Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Jatiwaringin.

Korban tewas: 5 orang.

4. Bom Bali I-2002. 

 

Ini adalah serangan terorisme terparah dan terdahsyat dalam sejarah Indonesia. Terjadi tiga peristiwa pengeboman yang pada malam hari tanggal 12 Oktober 2002. Dua ledakan di Paddy's Pub dan Sari Club (SC) di Jalan Legian, Kuta, Bali dan satu ledakan di dekat Kantor Konsulat Amerika Serikat.


Tercatat 202 korban jiwa dan 209 orang luka-luka, kebanyakan korban WN Australia.

Tim Investigasi Gabungan Polri dan kepolisian luar negeri menyimpulkan, bom yang digunakan berjenis TNT seberat 1 kg dan di depan Sari Club, merupakan bom RDX berbobot antara 50-150 kg.

Para pelaku: Dr. Azahari (tewas dalam penyergapan di Kota Batu-9 November 2005),  Dulmatin (tewas-9 Maret 2010),  Ali Ghufron, Imam Samudra, Amrozi (terpidana mati, eksekusi 9 November 2008). Umar Patek (tertangkap di Pakistan,  21 Juni 2012 dipidana 20 tahun penjara), Abdul Gani dan  Ali Imron (didakwa seumur hidup).

Abu Bakar Ba'asyir diduga terlibat dalam pengeboman ini dan pada 16 Juni 2011, divonis 15 tahun oleh PN Jakarta Selatan atas keterlibatan dalam pendanaan latihan teroris di Aceh dan mendukung terorisme di Indonesia.

5. Bom JW Marriott-2003.

Serangan teror ini dilakukan dengan bom mobil bunuh diri yang diledakkan di hotel JW Mariott di kawasan Mega Kuningan, Jakarta pada pukul 12:45 dan 12:55 WIB pada 5 Agustus 2003.

Dilaporkan 12 orang tewas dan 152 orang luka-luka.

6. Bom Kuningan-2004. 

 
Serangan teror oleh kelompok Jama'ah Islamiyah ini dilakukan dengan sebuah bom mobil diledakkan di depan Kedutaan Besar Australia pada pukul 10.30 WIB di kawasan Kuningan, Jakarta pada 9 September 2004.


Ledakan juga mengakibatkan kerusakan beberapa gedung di sekitarnya seperti Menara Plaza 89, Menara Grasia dan Gedung BNI. Ini merupakan aksi terorisme besar ketiga yang ditujukan terhadap Australia yang terjadi di Indonesia setelah Bom Bali 2002 dan Bom JW Marriott 2003.

Dilaporkan 9 orang tewas dan 150 luka-luka.

7. Bom Tentena-2005. 
 
 
Pukul 08:15  pada 28 Mei 2005 terjadi ledakan bom di Pasar Tentena, Kecamatan Pamona Utara, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. 15 orang telahditetapkan sebagai tersangka dalam kasus bom tersebut.
Tercatat 20 orang tewas, 50 orang luka-luka.

8----Bom Bali II-2005. 



Bali kembali diguncang ledakan bom. Pada 1 Oktober 2005, serangan teror kembali muncul dengan serangkaian pengeboman. Terjadi tiga ledakan, satu di R.AJA's Bar dan Restaurant, Kuta Square, daerah Pantai Kuta dan dua ledakan di Nyoman Café, Jimbaran.

Sedikitnya 23 orang tewas dan 196 orang luka-luka.






 


9. Bom Pasar Palu-2005. 

 

Pada 31 Desember 2005 ledakan bom terjadi di Pasar Babi di kawasan Maesa, Kelurahan Lolu Utara, Palu, Sulawesi Tengah. Ledakan memporak-porandakan kios yang ada di pasar daging tersebut.

Dilaporkan, 8 orang tewas dan 54 orang luka-luka.

10. Bom Mega Kuningan-2009.
 

Serangan teroris berulang lagi. Kali ini, bom bunuh diri terjadi di hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan pada 17 Juli 2009.

Kedua pelaku tewas di tempat, Dani Dwi Permana asal Bogor dan Nana Ikhwan Maulana asal Pandeglang. Diduga 11 orang terlibat dalam aksi tersebut, termasuk Noordin M. Top sebagai otak pelaku utama dan Ibrohim sebagai orang dalam di Hotel Ritz-Carlton yang menyelundupkan bom.

Dikabarkan, 9 orang korban dan 50 orang luka-luka, baik WNI maupun warga asing.

11. Bom Thamrin-2016.

Ini adalah serangan terorisme terbaru yang mengguncang Indonesia setelah beberapa tahun sempat mereda. Pada 14 Januari 2016, Jakarta dikejutkan dengan serentetan, sedikitnya enam ledakan, dan penembakan di daerah sekitar Plaza Sarinah, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat.

Ledakan terjadi di dua tempat, yakni daerah tempat parkir Menara Cakrawala, gedung sebelah utara Sarinah, dan sebuah pos polisi di depan gedung tersebut. Pelaku, 7 orang adalah Kelompok Bahrun Naim yang berafiliasi dengan organisasi Negara Islam Irak dan Syiria (ISIS) yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan teror ini.

Dilaporkan, 8 orang (4 pelaku dan 4 warga sipil) tewas dan 24 lainnya luka-luka. 


Salam...
El Jeffry

11 Pemimpin Negara Yang Hidupnya Berakhir Tragis



Menjadi pemimpin tertinggi dan penguasa dalam lingkup negara, merupakan pencapaian luar biasa bagi setiap manusia. Namun, karena panggung politik penuh dengan drama konflik dan kepentingan jutaan mausia, maka resiko politiknya juga tiada bandingnya, dan kadang harus dibayar mahal dengan nyawa.

Berikut ini kami rangkum berdasarkan kurun waktu kejadian, 11 pemimpin negara, Presiden/Perdana Menteri yang hidupnya berakhir tragis dengan terbunuh, baik ketika masih dalam masa jabatan maupun di masa setelahnya. 


 1. Abraham Lincoln
(12 Februari 1809-14 April 1865)
 
Abraham Lincoln adalah Presiden Amerika Serikat yang ke-16, menjabat sejak 4 Maret 1861. Dia memimpin bangsanya keluar dari Perang Saudara Amerika, mempertahankan persatuan bangsa dan menghapuskan perbudakan. 

Abraham Lincoln terbunuh pada 14 April 1865, saat sedang menyaksikan pertunjukan teater, ditembak oleh oleh seorang pemain teater, John Wilkes Booth, yang disusupkan oleh kelompok pro-perbudakan. Lincoln tercatat sebagai Presiden pertama AS hidupnya berakhir tragis menjadi korban pembunuhan.

2. Maximilian I: Presiden Meksiko
(6 Juli 1832-19 Juni 1867)

Maximilian I adalah anggota keluarga kerajaan Austria, Habsburg-Lorraine. Dengan dukungan Napoleon III dari Perancis dan monarkis Meksiko, ia dinyatakan sebagai Presiden Meksiko pada 10 April 1864. Ia memerintah selama lebih dari tiga tahun.
 
Menyusul terjadinya Civil War di AS, para pendukungnya yang kebanyakan dari Pasukan perancis ditarik mundur. Napoleon III tidak ingin mengambil risiko karena veteran tentara Amerika menang, sementara ia juga menghadapi kebangkitan kembali Prusia di Eropa.

Banyak pemerintahan asing menolak mengakui pemerintahannya, terutama Amerika Serikat. Hal ini meyakinkan keberhasilan pasukan Republikan yang dipimpin oleh Benito Juárez, dan hidup Maximilian pun berakhir tragis. Ia dieksekusi setelah ditangkap oleh Republikan di Querétaro tahun 1867.

3. John F. Kennedy: Presiden Amerika Serikat 

(29 Mei 1917-22 November 1963)

John F. Kennedy adalah presiden kedua Amerika Serikat yang hidupnya berakhir tragis, menjadi korban pembunuhan setelah Abraham Lincoln. Saat sedang melakukan lawatan ke negara bagian Texas pada 22 November 1963, John F. Kennedy ditembak oleh seseorang.

 Ia tertembak di atas mobil kepresidenan. Saat itu, pihak berwenang menetapkan Lee Harvey Oswald sebagai pelaku pembunuhan Kennedy. Namun, hingga kini, kontroversi mengenai pembunuhan Kennedy ini belum selesai.

 
4. Salvador Allende: Presiden Chile
(26 Juni 1908-11 September 1973)

Salvado Allende adalah Presiden ke-29 Chile, berkuasa dari tahun 1970 hingga 1973. Yang menarik, Allende adalah presiden berhaluan marxis pertama di Amerika Latin yang berhasil merebut kekuasaan melalui jalan parlemen.

Pada 11 September 1973, pasukan sayap kanan yang dikomandoi Chile Augusto Pinochet melancarkan kudeta militer.Istana Moneda dikepung oleh tank dan dibombardir oleh pesawat tempur. Salvador Allende memilih tidak menyerah dan bersiap bertempur hingga akhir. Saat itu, ia turut menenteng senjata AK-47.

Kematian Allende penuh kontroversi. Namun banyak rakyat Chile menyakini bahwa Allende dibunuh oleh militer pendukung Pinochet.

5. Juan Jose Torres: Presiden Bolivia
(5 Maret 1920-2 Juni 1976)

Juan José Torres adalah Presiden ke-61 Bolivia. Ia memerintah tidak sampai setahun, yakni dari Oktober 1970 hingga Agustus 1971. Ia adalah seorang petinggi militer berpikiran progressif.

Pada 1976, militer Argentina di bawah Jorge Videla melancarkan kudeta. Begitu berkuasa, Videla terlibat dalam Operasi Condor untuk membasmi gerakan kiri di Amerika Latin. Dengan Operasi Condor ini pula, hidup Torres berakhir tragis. Ia ditembak mati oleh pasukan pembunuh suruhan Jorge Videla.



Meskipun pemerintahannya berdurasi pendek, memori Torres 'masih dihormati oleh strata masyarakat yang paling miskin Bolivia. Jenazahnya akhirnya dipulangkan ke Bolivia pada tahun 1983, di mana ia menerima pemakaman kenegaraan secara besar-besaran.

6. Anwar Sadat: Presiden Mesir
(25 Desember 1918-6 Oktober 1981)

Mohammad Anwar Al Sadat adalah Presiden ke-3 Mesir. Ia memerintah Mesir dari tahun 1970 hingga 1981. Karir Anwar Sadat dimulainya dengan menjadi anggota militer Mesir di Kairo pada 1938 dan bergabung dalam Gerakan Perwira yang bertekad untuk membebaskan Mesir dari kolonialisme Inggris.

Setelah menjabat sebagai Wakil Presiden sejak 1964, Sadat  menggantikan presiden Nasser yang wafat pada 1970.  Kekuasaannya bertahan hingga 11 tahun. Bersama Presiden Suriah Hafez al Assad, Sadat memimpin perang Yom Kippurmelawan Israel untuk mengambil alih Gurun Sinai yang direbut oleh Israel dalam Perang Enam Hari.

Namun pertempuran ini berakhir dan Sadat menandatangani perjanjian damai dengan Israel. Dunia Arab mengecam dan menganggapnya berkhianat. Hidup Sadat berakhir dengan tragis pada 6 Oktober 1981. Dalam acara parade militer memperingati perang Yom Kipur Sadat diberodong oleh sekelompok militer.

7. Indira Gandhi: PM India
(19 November 1917-31 Oktober 1984)


Indira Priyadarshini Gandhi adalah putri Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru. Ia menjadi wanita pertama yang menjabat Perdana Menteri di India. Menjabat sejak  24 Januari 1966-24 Maret 1977, kemudian berlanjut pada 14 Januari 1980-31 Oktober 1984.

Indira Gandhi merupakan seorang wanita yang penuh gejolak dan sangat kontroversial sebagai pimpinan partai politik dan politik negaranya. Dalam masa jabatannya, India pun mengalami peperangan dengan rivalnya, Pakistan.

Peperangan India dan Pakistan menyebabkan instabilitas dan krisis finansial di India. Pada 31 Oktober 1984, hidup Indira berakhir tragis setelah dibunuh oleh pengawal pribadinya sendiri.

8.Rajiv Ratna Gandhi: PM India
(20 Agustus 1944-21 Mei 1991)

Rajiv Gandhi adalah anak tertua dari Perdana Menteri Indira Gadhi dan Feroze Gandhi. Rajiv menjabat sebagai Perdana Menteri India yang keenam, menggantikan ibunya yang terbunuh sejak 31 Oktober 1984 hingga 2 Desember 1989 melalui pemilihan (a general election defeat). 
 

Ia menjabat Perdana Menteri India ketika berusia 40 tahun, sehingga ia tampil sebagai yang termuda saat menduduki jabatan perdana menteri.

Senasib dengan ibunya yang hidupnya berakhir tragis dengan pembunuhan, Rajiv Gandhi mengalami hal serupa. Pada 21 Mei 1991, ia terbunuh di usia 46 tahun, oleh separatis Tamil dari Sri Lanka, Thenmuli Rajaratnam yang saat itu mengalungkan rangkaian bunga berisi bom ke lehernya.

9. Saddam Hussein: Presiden Irak
(28 April 1937 - 30 Desember 2006)

Saddam Hussein menjabat sebagai presiden ke-5 Irak, 1979-2003. Selama waktu itu, ia berjuang dalam dua perang berdarah dan gagal untuk menyatukan Khuzestan dan kemudian Kuwait menjadi satu dengan Irak. Dalam perang kedua, ia juga menyerang Israel dengan rudal Scud.
Perang ketiganya menjadi akhir dari tahtanya, saat ia sekali lagi dihadapkan sebuah koalisi internasional. Tidak seperti pada tahun 1991, koalisi kedua tidak hanya menjadikan kekalahan militer, tapi juga kejatuhannya.

Dalam perang melawan invasi AS tahun 2003, dia kehilangan kedua putranya dan sendirian sampai ditangkap di sebuah bunker kecil yang sangat memprihatinkan. Dalam pengadilan dia diputuskan bersalah atas pembantaian terhadap warganya dan hidupnya berakhir tragis di tiang gantungan.

10. Benazir Bhutto: Perdana Menteri Pakistan
(21 Juni 1953-27 Desember 2007)

Benazir Bhutto adalah wanita pertama yang memimpin sebuah negara Muslim pasca-kolonialisme. Bhutto terpilih sebagai Perdana Menteri Pakistan pada 1988, namun 20 bulan kemudian ia digulingkan oleh kudeta militer atas dukungan presiden Ghulam Ishaq Khan, yang secara kontroversial menggunakan Amendemen ke-8 untuk membubarkan parlemen dan memaksa diselenggarakannya pemilu.


Bhutto terpilih kembali pada 1993 namun tiga tahun kemudian diberhentikan di tengah-tengah berbagai skandal korupsi oleh presiden yang berkuasa waktu itu, Farooq Leghari, yang juga menggunakan kekuasaan pertimbangan khusus yang diberikan oleh Amendemen ke-8.

Pada 2007, dia berniat untuk kembali mencalonkan diri dalam pemilu 2008. Sayang, hidupnya berakhir tragis. Pada 27 Desember 2007, saat sedang melakukan kampanye di Rawalpindi, daerah dekat Ibu Kota Islamabad, sebuah serangan bom disertai rentetan tembakan mengakhiri perjalanan hidup Benazir Bhutto.

11.Mu'ammar Qaddafi: Presiden Libya
(7 Juni 1942-20 Oktober 2011)

Mu'ammar Qaddafi berkuasa di Libya selama 42 tahun sejak 1969,setelah menggulingkan kekuasaan monarki pimpinan Raja Idris. Pemimpin yang selalu menentang Barat ini juga sering kali dituding melancarkan aksi teror dengan mendanai serta mempersenjatai beberapa kelompok pemberontak di wilayah Afrika.


Selain itu, ada pula beberapa insiden pengeboman yang diduga melibatkan Qaddafi. Dirinya juga dianggap melakukan tekanan terhadap para oposisinya sendiri. Pada Februari 2011, ketika Mesir telah menggulingkan rezim militer Husni Mubarak, muncul gelombang demonstrasi di Libya yang menentang Qaddafi.
 
 Gelombang demonstrasi menjelma menjadi perang saudara. Para penentang Qaddafi dibantu oleh NATO dan Barat. Oposisi Libya akhirnya berhasil mengalahkan penguasa Libya tersebut dan hidup Qaddafi pu berakhir tragis dengan dibunuh secara sadis.
 
Salam...
El Jeffry


Monday, February 27, 2017

11 Penguasa Diktator Yang Hidupnya Berakhir Tragis



"Siapa menanam, bakal memetik" Setiap manusia akan memperoleh balasan yang setimpal dengan perbuatannya, tak terkecuali bagi para diktator yang memimpin dengan kejam.

Seringkali, pemerintahan para diktator yang diidentikkan dengan tangan besi, membuat para penguasa ini berakhir buruk dan tragis.  Ada yang dikhianati, diusir paksa dari negaranya, bahkan hingga dibunuh.

Berikut ini kami rangkum 11 pemimpin diktator yang bernasib tragis di akhir hidupnya:

12. Alfredo Stroessner: Paraguay
(3 November 1912- 16 Agustus 2006)



Alfredo Stroessner menjadi diktator yang memimpin Paraguay nyaris selama 4 dekade sejak tahun 15 Agustus 1954-3 Februari 1989. Rezim Stroessner diwarnai oleh aksi penyiksaan, penculikan dan brutalitas polisi. Kekuasaan Stroessner berkahir oleh kudeta militer yang dipimpin oleh Jenderal Andrés Rodriguez.

Pada 16 Agustus 2006 Stroessner meninggal dalam pengasingannya di Brasil pada usia 93 tahun karena radang paru-paru dan stroke. Majalah TIME pernah menulis rezim Stroessner merupakan rezim yang bertahan paling lama di antara para diktator lain di negara barat.

11. Fulgencio Batista: Kuba
(16 Januari 1901- 6 Agustus 1973)

Fulgencio Batista berkuasa selama lenih dari 2 dekade. Cecara de facto, ia menjabat sebagai Presiden Kuba periode 1933–1940, secara de jure periode 1940–1944 dan diktator bergelar presiden periode 1952–1959 lewat aksi kudeta.

Hampir semua sektor pemerintah dikontrol secara otoriter oleh Batista. Mulai dari ekonomi, kongres, pendidikan, hingga media. Selain itu, Batista juga memperkaya dirinya sendiri dengan uang negara.

Kepemimpinannya berakhir pada 1 Januari 1959 setelah insiden Revolusi Kuba yang dilancarkan Fidel Castro. Batista lalu kabur ke Republik Dominika, kemudian pindah ke Portugal dan Marbella, Spanyol. Ia meninggal pada 6 Agustus 1973 di Guadalamina, Spanyol.

10. Antonio Salazar: Portugal
(28 April 1889 -27 Juli 1970 
 
Salazar dikenal sebagai salah satu pemimpin diktator paling otoriter di Benua Eropa. Memimpin Portugal sejak 1932 hingga 1968, Salazar memegang teguh visi anakronistik, yakni bahwa Portugal masih memiliki kekuatan kekaisaran dan berhak menginvasi koloni-koloninya di selatan Afrika.

Rezim Salazar dijuluki ‘Estado Novo’ atau negara baru, yang membanggakan pertumbuhan dan stabilitas ekonomi, namun masih sarat dengan penindasan. Pada tahun 1960-an, muncul pemberontakan besar-besaran terhadap rezim Salazar di Mozambik dan Angola.

Hidup Salazar berakhir tragis. Saat menderita pendarahan otak pada tahun 1968, ia dilengserkan dari kekuasaannya secara diam-diam. Dan tahun 1974, Revolusi Bunga menandai berakhirnya rezim Salazar.

9. Ferdinand Marcos: Filipina
(11 September 1917-28 September 1989)
 

Di kawasan Asia, Ferdinand Marcos adalah diktator yang dikenal kejam terhadap media dan lawan-lawan politiknya. Marcos menjadi Presiden Filipina sejak 30 Desember 1965-25 Februari 1986.

Selama dua dekade masa pemerintahannya, Marcos Selalu menggaungkan ancaman komunis revolusioner, dan menggunakannya membungkam media dan menangkap lawan-lawan politiknya.
Di masa kepemimpinan Marcos, kronisme dan korupsi meluas. Miliaran uang negara disedot ke rekening pribadi Marcos di Swiss.

Pada tahun 1986, Marcos kembali terpilih menjadi Presiden Filipina. Namun pemilu yang diduga dipenuhi kecurangan, intimidasi, dan kekerasan ini menjadi titik klimaks bagi dirinya. Ia dilengserkan dalam Revolusi EDSA pada tahun yang sama.

Bersama istrinya, Imelda, Marcos melarikan diri dari Filipina. Marcos meninggal di pengasingannya di Hawaii pada tahun 1989 akibat penyakit ginjal, jantung dan paru-paru.

8. Jean-Claude Duvalier: Haiti
(3 Juli 1951-l 4 Oktober 2014)
  
Jean-Claude Duvalier sering dipanggil ‘Baby Doc’. Dialah orang termuda yang menjadi presiden karena dia baru berusia 19 tahun saat menggantikan ayahnya yang tewas pada 1971.

Duvalier segera menjadi diktator dan berkuasa selama 15 tahun sejak 22 April 1971 hingga 7 Februari 1986 dan mengakibatkan kelaparan dan resesi ekonomi di Haiti. Tahun 1986, karena terdesak keadaan Duvalier melarikan diri ke Perancis.

Duvalier juga mengambil milyaran dolar dari dana yang digelapkannya. Di Prancis, ia hidup dengan mewah, memiliki sebuah vila di perbukitan Cannes, dua buah apartemen di Paris, sebuah chateau, ditambah dengan sebuah mobil Ferrari. Namun Duvalier kehilangan hampir 750 juta dolar karena perceraiannya dengan istrinya, Michelle Duvalier, dan meninggal pada 14 Oktober 2014 dalam kondisi hidup amat sederhana.

7. Slobodan Milosevic: Serbia
(20 Agustus 1941-11 Maret 2006)
  
Slobodan Milosevic, Presiden Serbia yang sagat otoriter akan selalu diingat sejarah karena kejahatan perang Serbia-Bosnia. 8 Mei 1989 – 23 Juli 1997.

Dalam perang 1992-1995 itu, Milosevic dan pasukan Serbia membantai ribuan penduduk Muslim Bosnia. Kemudian ia disidang dengan dakwaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan yang dilakukannya di Kosovo. Pada 11 Maret 2006, Milosevic meninggal di sel tahanannya di Den Haag, Belanda.

6. Nicolae Ceausescu: Rumania
(26 Januari 1918- 25 Desember 1989)

Kediktatoran Nicolae Ceausescu dalam memerintah Rumania berlangsung selama 24 tahun dari 9 Desember 1967-22 Desember 1989. Di era kepemimpinannya, Rumania menjadi satu-satunya negara di Eropa yang mengalami kelaparan dan kekurangan gizi.

Pada  25 Desember 1989, Ceausescu diadili secara kilat di pengadilan militer dan dijatuhi hukuman mati dengan tuduhan berlapis, mulai dari memperkaya diri secara ilegal hingga genosida dan kemudian dieksekusi di hadapan regu tembak di Târgovi?te.  Video pengadilan menunjukkan, setelah vonis, Ceau?escu dan istrinya diikat lalu digiring ke luar gedung pengadilan untuk dieksekusi.

5. Mobutu Sese Seko: Zaire-Kongo
(14 Oktober 1930-7 September 1997)
Jenderal Mobutu Sese Seko menjadi Presiden di Kongo selama 32 tahun sejak kudeta pada tahun 1965 hingga 1967. Dia selalu tampil dengan kopiah bercorak macan tutulnya yang khas. Selama memerintah, Mobutu diduga melakukan banyak pelanggaran HAM. Korupsi merajalela di negara ini.

Kekuasaan Mobutu berakhir 16 Mei 1997 setelah  kelompok pemberontak Tutsi dan kelompok lain anti-Mobutu berkoalisi membentuk Kelompok Pembebasan Demokrasi Kongo-Zaire dan berhasil menguasai Kinshasha. Laurent Kabila akhirnya menjadi presiden baru. Mobutu kemudian lari ke Togo, kemudian ke Maroko dan pada 1997 tewas karena kanker prostat.

4. Idi Amin: Uganda
(1920-an-16 Agustus 2003)
 

Idi Amin memerintah Uganda selama 8 tahun dari 25 Januari 1971-13 April 1979. Amin yang merupakan perwira militer ini merebut kekuasaan dari Perdana Menteri Milton Obote.
Selama pemerintahannya, Idi Amin mengusir ribuan orang India berkewarganegaraan Inggris dari Uganda. Dia juga diduga melakukan banyak pembunuhan pada lawan-lawannya. Di masa Idi Amin pula ekonomi Uganda morat-marit.

Akhirnya pejuang Uganda yang dibantu tentara Tanzania berhasil menggulingkan Idi Amin. Dia kemudian lari ke Libya dan ditampung sahabatnya Mu'ammar Qaddafi. Amin akhirnya pindah ke Arab Saudi hingga meninggal di Jeddah tahun 2003.

3. Pol Pot: Kamboja
 (19 Mei 1928-15 April 1998)
Hanya 4 tahun Pol Pot dan Khmer Merah memerintah Kamboja. Tapi selama kurun waktu 1975 hingga 1979, kepemimpinan otoriternya yang kejam, tidak kurang dari 1,7 juta rakyat Kamboja dijadikan sebagai ladang pembantaian.

Kekuasaan Pol Pot mulai berakhir sejak invasi Vietnam ke Kamboja tahun 1978 yang membuat Pol Pot terdesak dari Phnom Penh. Dia melanjutkan pemerintahannya dari hutan, sebelum akhirnya persembunyiannya dibocorkan anak buahnya sendiri. Pol Pot tewas saat menjalani tahanan rumah pada 15 April 1998.

2. Benito Mussolini: Itali
(29 Juli 1883-28 April 1945)

  
Mussolini adalah seorang pemimpin Partai Fasis Nasional dari Italia. Ia adalah diktator Italia pada periode 1922-1943. Ia dipaksa mundur dari jabatan Perdana Menteri Italia pada 28 Juli 1943 setelah serangkaian kekalahan Italia di Afrika. Setelah ditangkap, ia diisolasi. Dua tahun kemudian, ia dieksekusi di Como, Italia utara. Mayatnya kemudian digantung terbalik di Piazzale Loreto, Milan.

1. Adolf Hitler: Jerman
(20 April 1889- 30 April 1945) 

Diktator Jerman sekaligus pemimpin partai Nazi bergelar Führer und Reichskanzler ini mengobarkan perang dunia kedua di seluruh Eropa. Mimpinya adalah  mendirikan Orde Baru hegemoni Jerman Nazi yang absolut di daratan Eropa.

Di masa kediktatoran Hitler berlangsung selama 11 tahun dari tahun 1934 sampai 1945, ia melakukan pembantaian sadis terhadap 6 juta kaum Yahudi dan 5 juta etnis "non-Arya". 

Tahun 1943, Jerman mengalami serangkaian kekalahan dalam pertempuran. Hitler akhirnya dikalahkan pasukan sekutu.  Tanggal 30 April 1945, Hitler ditemukan bunuh diri bersama istrinya di dalam sebuah bunker.

Friday, February 24, 2017

Drama Politik 5 Babak SBY Versus JOKOWI


Image: https://m.tempo.co/read/news/2014/11/29/078625189/

     Tak ada kawan dan lawan abadi dalam politik, yang ada hanya kepentingan abadi. Sebenarnya itu sah-sah saja, selama yang diperjuangkan adalah kepentingan publik, rakyat, bangsa dan negara di atas segala-galanya.

     Namun apa jadinya jika keliru dalam "memainkan" kepentingan itu, hanya untuk tujuan parsial, partai, golongan, keluarga, kelompok apalagi individu? Dan apa jadinya pula bila dua aktor utama, dua pemimpin tertinggi di negeri ini yang memerankannya, lalu menyuguhkan "drama politik" sebagai konsumsi publik?

     Adalah dua orang presiden, yakni presiden RI ke-6 yang telah "lengser keprabon" Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan presiden RI ke-7 yang tengah menjabat, Joko Widodo (Jokowi). Akhir-akhir ini keduanya tengah berpolemik dalam konflik dan sontak menjadi sorotan media dan publik.

     Publik pun dibuat bingung dan gamang, ada apa di balik "drama konflik" itu? Sebelum menyimpulkan, ada baiknya kita ikuti kronologi drama 5 babak "konflik" SBY versus Jokowi sebagai sebuah rangkaian yang tak terpisahkan.

Babak 1: Tour De Java Versus Hambalang

16 Maret 2016:

     Dalam kegiatan blusukan 13 hari keliling Pulau Jawa 8-21 Maret 2016, berulangkali SBY mengeluarkan pernyataan kritik yang ditujukan langsung kepada Jokowi.

     "Saya mengerti, bahwa kita butuh membangun infrastruktur. Dermaga, jalan, saya juga setuju. Tapi kalau pengeluaran sebanyak-banyaknya (dapat duit) dari mana? Ya dari pajak sebanyak-banyaknya. Padahal, ekonomi sedang lesu."

     "Kalau ekonomi sedang lesu, dikurangi saja pengeluarannya. Bisa kita tunda tahun depannya lagi. Enggak ada keharusan harus selesai tahun ini. Indonesia ada selamanya. Sehingga, jika ekonomi lesu, tidak lagi bertambah kesulitannya. Itu politik ekonomi."

     Agaknya kuping sang presiden ke-7 memerah. Karena tidak kali ini saja SBY mengeluarkan kritikan yang ditujukan pada dirinya. Sebelumnya, SBY berulangkali mengeluarkan pernyataan yang dinilai “berbau” provokatif mengenai kinerjanya di pemerintahan.

      Salah satunya adalah soal keributan kabinet yang dianggap sebagai representasi ketidakmampuan Jokowi mengelola negara. "Bagaimana mungkin bisa mengelola hal-hal yang lebih besar jika mengendalikan anak buahnya di kabinet saja tidak mampu!"

     Kritikan lain yang tak kalah pedasnya adalah tudingan politisasi kisruh Golkar dan PPP. SBY memamerkan keberhasilannya dalam membina partai politik sehingga di masanya tidak ada perpecahan partai politik. Dengan lugas SBY menuding kisruh kedua partai itu terjadi karena adanya campur tangan Kemenkumham. SBY pun menyodorkan fakta di mana tidak ada menteri di zamannya yang "take side" di kubu mana pun manakala ada parpol yang kisruh.

     Sebenarnya tak ada yang salah dengan kritik, selama ia konstruktif. Namun agaknya bagi Jokowi, kritik yang ini cukup kelewat batas dan lumayan panas.

18 Maret 2016:

      Presiden Jokowi blusukan ke proyek wisma atlet Hambalang, bersama Johan Budi, Menpora  Imam Nahrawi, serta Menteri PUPR Basuki Hadimuljono. Jokowi seakan menunjukkan, bahwa Mega proyek prestisius yang kini terlantar akibat terbelit korupsi itu, dibangun di masa Presiden SBY.

     Proyek itu telah memakan korban para elite Partai Demokrat. Pada 2013, KPK telah menetapkan Menpora waktu itu Andi Mallarangeng dan mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum sebagai tersangka.

     Setelah meninjau Hambalang, Presiden Jokowi curhat melalui akun Twitternya @Jokowi. ”Sedih melihat aset Negara di proyek Hambalang mangkrak. Penuh alang-alang. Harus diselamatkan." 

"Kuncinya di situ dan arahnya akan ke sana. Apapun ini menghabiskan anggaran triliunan," ujar Jokowi di kesempatan berikutnya.

Babak 2: Hilangnya Dokumen Temuan Hasil Investigasi TPF Kasus Munir

21 Oktober 2016:

      Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki mengatakan, "Kejaksaan Agung bisa dan boleh memeriksa orang-orang pemerintah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Pemeriksaan itu terkait dengan keberadaan data Tim Pencari Fakta kasus pembunuhan Munir Said Thalib."

      Juru bicara Kepresidenan Johan Budi mengatakan, Presiden Joko Widodo mengetahui ihwal putusan Komisi Informasi Pusat (KIP) tentang sengketa kasus Munir Sa'id Thalib. Johan mengatakan, Jokowi telah memerintahkan Jaksa Agung Muhammad Prasetyo menelusuri keberadaan dokumen hasil temuan Tim Pencari Fakta (TPF) kasus Munir.

SBY pun bereaksi.

25 Oktober 2016:

     SBY menggelar jumpa pers di Cikeas, Bogor: "TPF Munir ini ada yang bergeser, ada yang bernuansa politik. dan saya bukan orang baru di dunia begitu (politik). Hal itu biasa."

     "Jika SBY dianggap terlibat konspirasi pembunuhan Munir, come on... semua punya akal sehat, rakyat punya akal sehat."

     "Kasus Munir sudah terang benderang. Berkas TPF Munir juga sudah diserahkan ke Mensesneg untuk ditindak lanjuti.Sekarang bola kasus Munir ada di tangan Pak Jokowi." 

     "Kalau dianggap belum rampung, silakan aparat hukum yang sekarang menindak lanjuti."

Babak 3: Isu SBY Terlibat di Balik Rencana Aksi Demo 4 November 

     Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) berencana berdemonstrasi di Jakarta menuntut penegak hukum untuk menuntaskan kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan Gubernur nonaktif DKI Basuki Tjahaya Purnama (Ahok).

     Sebelum demo terjadi, muncul desas-desus adanya laporan intelijen yang mengarah keterlibatan SBY di balik rencana aksi tersebut.

4 November 2016: Aksi berlangsung. Insiden terjadi. Aksi yang semula berlangsung damai berakhir ricuh. Sejumlah orang terluka.

5 November 2016 dini hari: Presiden Jokowi kemudian menggelar jumpa pers di Istana Merdeka. 

      "Kita menyesalkan kejadian ba'da Isya yang seharusnya sudah bubar tetapi menjadi rusuh. Dan ini kita lihat telah ditunggangi aktor-aktor politik yang memanfaatkan situasi."
Dua hari sebelum aksi berlangsung, 2 November 2016:

    SBY menggelar jumpa pers di Cikeas menampik desas-desus laporan intelijen yang menuding keterlibatannya di balik rencana Demo 4 November,  "Intelijen harus akurat. Intelijen jangan ngawur. Saya kira bukan intelijen seperti itu yang harus hadir di negeri kita."  

"Bila ada pertemuan politik yang dilakukan orang yang berada di luar kekuasaan, jangan langsung dicurigai."

7 November 2016:

Ani Yudhoyono turun suara mengeluarkan statemen bantahan atas keterlibatan suaminya. 

      "Sepuluh tahun Pak SBY memimpin negara, tidak ada DNA keluarga kami berbuat yang tidak-tidak. Jadi kalau ada tuduhan kepada Pak SBY yang menggerakkan dan mendanai aksi damai 4 November lalu, itu bukan hanya fitnah yang keji, tetapi juga penghinaan yang luar biasa kepada Pak SBY."

Babak 4: Isu penyadapan Telepon SBY-Ma'ruf Amin 

      Isu itu berawal pada 31 Januari 2017, saat di dalam sidang, pengacara terdakwa kasus dugaan penistaan agama, Ahok, bertanya kepada saksi ahli Ketum MUI Kiai Ma'rif Amin soal telepon dari SBY saat PBNU menerima kedatangan Agus Yudhoyono.
1 Februari 2017:

SBY menggelar jumpa pers di DPP PD, Jakarta:
     “Kalau memang pembicaraan saya kapanpun, kalau yang disebut kemarin pembicaraan saya dengan Pak Ma'ruf Amin itu disadap, ada rekamannya, ada transkripnya, maka saya berharap pihak kepolisian, pihak kejaksaan dan pihak pengadilan utntuk menegakkan hukum sesuai Undang-Undang ITE."

      “Kalau misalnya yang menyadap bukan Pak Ahok, mudah-mudahan tidak, maka menurut saya sama, hukum mesti ditegakkan. Saya bermohon Pak Jokowi presiden kita berkenan memberikan penjelasan, dari mana transkrip atau sadapan itu. Siapa yang menyadap, supaya jelas, yang kita cari kebenaran.”

Di hari yang sama, secara terpisah istana bereaksi. 

Sekretaris Kabinet Pramono Anung mengeluarkan pernyataan:
  ”Yang jelas bahwa tidak pernah ada permintaan atau instruksi penyadapan kepada beliau (SBY), karena ini bagian dari penghormatan presiden-presiden yang ada.

2 Februari 2017:
       Dalam pembukaan acara Forum Rektor Indonesia di Jakarta, Jokowi menyatakan menolak menanggapi permintaan mengusut dugaan penyadapan komunikasi yang diajukan SBY. Menurut Jokowi, permintaan SBY salah alamat. 

     "Kok, barangnya (isu rekaman penyadapan) dikirim ke saya. Itu isu pengadilan." 

Babak 5: Serangan Antasari Azhar

14 Februari 2017:
     Di kantor sementara Bareskrim di KKP, Jakarta Pusat, Mantan Ketua KPK Antasari Azhar berbicara mengenai kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen yang membuatnya menjadi terpidana. Menurutnya, "SBY merupakan aktor di balik layar dalam rekayasa kasus itu. SBY yang memerintahkan pihak tertentu agar mengkriminalisasi saya."

      Masih di hari yang sama, SBY bereaksi dengan menggelar jumpa pers di rumahnya, Kuningan. Sebagaimana pernah dicuitkan dalam akun twitter sebelumnya, SBY menegaskan dalam pidatonya:
     "Saya harus mengatakan bahwa nampaknya grasi Presiden Jokowi ada muatan politiknya. Sepertinya, sepertinya ada misi untuk menyerang dan merusak nama saya, juga keluarga saya."

       "Serangan ini diluncurkan dan dilancarkan satu hari sebelum pemungutan suara sebelum pencoblosan pilkada DKI Jakarta."

Dan yang paling menohok Jokowi adalah satu kalimat ini:
      "Saya punya keyakinan saudara saudara, apa yang dilakukan Antasari tidak mungkin tanpa blessing dan restu dari kekuasaan. Para penguasa hati-hatilah, dalam menggunakan kekuasaan, jangan bermain api, terbakar nanti."

Maka Istana pun bereaksi atas pernyataan SBY.
     Melalui Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi, Johan Budi, di Istana Kepresidenan, tudingan SBY dibantah.

     "Pemberian grasi itu sudah melalui proses dan prosedur yang sesuai dengan aturan perundang-undangan."

     "Keputusan presiden untuk memberi grasi kepada Antasari itu berdasarkan saran atau masukan dari Mahkamah Agung. Jadi, tidak ada kaitannya sama sekali pemberian grasi itu dengan apa yang Pak Antasari lakukan secara pribadi."
    
     Lantas, akankah polemik drama kedua pemimpin itu segera berakhir dan tidak berlarut-larut? Ataukah justru akan semakin panas sehingga membakar panggung politik negeri ini?

     Memang, tak ada kawan dan lawan abadi dalam politik. Yang ada hanyalah kepentingan abadi. Tapi kita berharap, mestinya kepentingan publik, rakyat, bangsa dan negara tetaplah wajib diletakkan di atas segala kepentingan yang ada.

Salam...
El Jeffry