Loading...

Laman

Rabu, 16 Januari 2013

Kursi pun Bersujud




     Semula ia hanya sebilah papan tak berarti apa-apa dan tak berdaya. Namun ketika dua tangan seorang tukang meraihnya, memotong-motong dengan ukuran tertentu, menyerutnya, merangkai bagian demi bagian, mengukir dan menghias tampilannya, tiba- tiba ia berubah menjadi sesuatu yang baru, sebuah kursi indah tercipta.

     Ia tak pernah meminta dan mengharap untuk diciptakan, tapi juga ia tak kuasa menolak ketika sang tukang berkehendak untuk satu tujuan, “Aku ingin menciptakan sebuah tempat duduk yang indah dan sempurna...” Semua terjadi begitu saja. Gerak-gerik tangan sang maestro dengan pengetahuan pertukangan tak bisa dicegah oleh si kursi. Ia mengukir, menghias, penuh ketekunan dan kesabaran, ia tiupkan nuansa seni dan cinta dalam setiap goresannya, selesai.

     Sang tukang berdecak, kagum terhadap kreasinya. “Duhai indahnya engkau kursiku, kini engkau berhutang jasa padaku,semula engkau tak ada, dulu hanya sebilah papan tak berguna, kini engkau berubah menjadi barang berharga. Ya, berharga, tapi aku berhak atas dirimu, tunduklah pada perintahku, jadilah kursi yang baik sebagaimana tujuanku menciptakan engkau, sujudlah padaku... “

     Kursi itu tak bisa apa-apa kecuali patuh pada perintah sang tukang. Tak ada tawar menawar, sebab keputusan telah dibuat, dan itu adalah otoritas sang tukang. Tak ada pilihan kecuali patuh pada perintah. Kursipun bersujud. Sujud dengan bahasa yang dipahami oleh sang tukang dan si kursi. 

     Bukan sujud seperti gerakan manusia menyentuhkan kepala sejajar kaki di atas tanah. Sujud dengan cara si kursi. Kepatuhan. Penghormatan. Ketaatan pada kemauan dan kehendak sang tukang yang telah menciptakan. Patuh menjalankan fungsi sebagai tempat duduk.

     Selamanya, selamanya kursi tak pernah melawan. Ia tak berjalan kecuali diperjalankan. Ia tak bergerak kecuali digerakkan. Dan ia bahkan tak berdaya saat putaran waktu merenggut keindahan dan fungsinya, lapuk dimakan usia, rapuh tak berguna, ia tetap menurut saja diremukkan dan dilemparkan ke dalam tungku sebagai kayu bakar. Kursi tetap patuh. Sujud, taat dan tunduk pada kehendak tukang, sebab ia tak punya pilihan.

     Penciptaan manusia sama halnya dengan penciptaan kursi. Hanya bedanya manusia punya pilihan. Boleh sujud, boleh ingkar. Boleh patuh, boleh melanggar. Boleh taat, boleh khianat. Boleh menurut, boleh membantah.

    Tuhan pencipta manusia telah menitipkan kehendak dalam setiap jiwa. Kehendak bebas. Itu ada di dalam hati. Pilihan- pilihan dengan aturan yang telah ditetapkan. Masing-masing ada konsekuensi yang tak bisa diubah. Ada sebab, ada akibat. Hukum tetap. Takdir. Manusia bebas memilih, apakah ia akan menjadi sebagai kursi yang terpajang indah di beranda rumah, atau dilemparkan ke dalam tungku sebagai bahan bakar. Surga atau neraka, hanya ditentukan oleh dua pilihan, sujud, atau ingkar....***

El Jeffry

Ketika Sumpah Menjadi Sampah


     Di zaman akhir ini para pemalsu dan pelanggar sumpah semakin melimpah, tumpah ruah membuncah tak teratasi dan tak tercegah. Memenuhi sudut-sudut ruang, celah-celah waktu, berdesak-desak di semua strata, dari atas hingga bawah, dari yang berjas berkemeja bersafari rapi, yang bertelanjang dada, hingga yang bersih berjubah. 

     Dari yang berupa teks tertulis rapi, prosedur resmi, hingga ucap serapah yang asal muntah. Dari yang diam-diam sembunyi-sembunyi di balik kamar hingga yang terang- terangan, ditempat terbuka dan berjama’ah. 

     Dari gedung-gedung mulia, istana, kantor-kantor, kampus dan pos ronda, mal dan plaza, restoran dan lapak-lapak pasar, acara kenegaraan dan seremonial sakral, perkotaan dan pedalaman, di seluruh aktivitas sosial dan ritual. 

     Dari yang bertopi baja, bertoga, topi caping hingga yang bersorban dan berkopyah. Dari urusan kursi, urusan birokrasi, urusan akidah, nasional dan daerah, urusan cinta, yang sedang berpacaran dan yang sudah berumah tangga, dari urusan bisnis, konglomerasi hingga urusan sepiring nasi dan jual beli sawah. 

     Sumpah-sumpah diumbar, dijual obral harga murah, sumpah menjadi sampah. Dihinakan dan dianggap rendah. Sumpah menjadi sampah..! Kalimat bertuah menjadi limbah...!

    Tangan-tangan memegang pena, lidah-lidah mengucap suara, tulisan terlegalisir, stempel resmi maupun imitasi, ikrar lantang bak laskar berbaris siap perang, mushaf dan kitab suci di atas kepala, nama Tuhan dipertaruhkan demi jabatan, sumpah-sumpah tertulis dan terucap.

    Hanya dan hanya meminta kepada pembaca, pendengar dan pemirsa, rakyat, pengikut dan anggota, warga negara dan anak bangsa, agar berkenan percaya. Meminta untuk percaya. Berharap percaya. Bahkan memaksa untuk percaya, suka atau tidak suka, rela atau terpaksa. Harus percaya. Perebutan kepercayaan…!

     Kini amanat telah diminta dengan paksa. Kepercayaan telah direbut. Akad telah dibuat. Sumpah telah tumpah dan tersebar. Mahar telah dibayar. Sumpah telah mengikat jiwa dalam perjanjian yang disaksikan penghuni bumi dan langit, dan Sang Maha Melihat, Mendengar dan Menyaksikan. 

    Saksi-saksi telah mencatat rapi. Kamera CCTV telah terpasang, yang terlihat, dan yang tak terlihat mata manusia. Piringan kaset telah merekam. Kitab rekaman sempurna. Sumpah telah menjadi harga mati, pasti dan pasti harus ditebus oleh pemiliknya, setiap jiwa, tanpa kecuali, tanpa kecuali.

    Pemalsu dan pelanggar sumpah tak akan bisa lari. Ke mana akan pergi, keluar alam semesta? Tiada lagi tempat sembunyi. Penggadai sumpah akan kehilangan agunan, yang besar, yang kecil, kadar yang mutlak setimpal dengan pemalsuan dan pelanggaran yang dilakukan. 

    Jika mereka menyangka saat ini masih aman, asyik menikmati buah sumpah tanpa gangguan, itu hanya penundaan, pemberian kesempatan untuk menyadari, memperbaiki dan menebus apa yang telah dilanggar. Namun jika semuanya telah lewat, datang jemputan malaikat, tiba-tiba semuanya jadi terlambat. Turunlah laknat. Dunia dan akhirat. Pengadilan bagi para pengkhianat, sindikat pemalsu dan pelanggar sumpah, kehinaan dan kebinasaan. Bukan dari siapa-siapa, tapi dari diri sendiri yang memperbuat. 

     Di dunia ini, mungkin kita semua pengkhianat, pemalsu dan pelanggar sumpah, hanya berbeda dalam urutan tingkat, ada yang sadar dan yang tidak sadar sadar. Ada yang buta dan yang bisa melihat. Mungkin kita semua sindikat dan para penjahat, hanya berbeda ketika ada yang terus terlarut di dalamnya dan ada yang segera bertaubat. Kita semua hina dan berlumur dosa, hanya berbeda ketika ada yang membiarkan diri berkubang di dalamnya dan ada yang berusaha berjuang membersihkannya. 

     Bangsa yang cerdas, adalah bangsa yang menyadari pengkhianatan amanat, lalu berjuang menebusnya selagi kesempatan masih ada, bangsa yang bertaubat. Taubat sebelum terlambat.

Sesungguhnya telah ditawarkan amanat kepada gunung- gunung, langit dan bumi, mereka semua enggan dan menolak karena khawatir menyalahinya, tapi manusia dengan berani telah menerima dan memikulnya, sungguh manusia itu makhluk aniaya lagi bodoh… “ 

Salam...
El Jeffry

Al-Baladil Amin, Ahsani Taqwim dan Asfala Safilin



      Semula manusia dicipta dengan sebaik-baik bentuk, sesempurna-sempurna rupa dan setinggi-tinggi citra, derajat makhluk paling mulia. Kemudian dihempaskan kembali kepada  titik terendah serendah-rendahnya, hina-dina. Seperti seekor rajawali yang terbang perkasa di langit tinggi lalu menukik tajam dan jatuh terkapar di atas tanah, aspal terbawah dari seluruh lapisan aspal di jalan, ‘asfala safilin’.

      Itulah aturan main yang telah Tuhan putuskan dalam kehidupan. Hukum tetap, hukum alam, rumus baku, ‘sunnatullah’, peraturan abadi, kaidah kebenaran hakiki, berlaku menyeluruh, global-universal-mondial tanpa bisa didustakan dan tak bisa disangkal. Siapa berani dan coba-coba mendustakan akan memetik karma balasan setimpal, hancur binasa, batal demi hukum, yang bathil akan musnah oleh hukum yang ‘haqq’.

      Tidak di Indonesia, Rusia, Irak, Kolombia, Somalia, atau Alaska. Tidak di Asia, Australia, Eropa, Afrika atau Amerika.Tidak pada kaum Nuh, ‘Ad, Tsamud, Saba’, Fir’aun di masa lalu, kaum masa kini atau kaum-kaum di masa depan. Tidak satu jiwa manusia, satu keluarga dalam rumah tangga, satu kabilah dan suku bangsa, satu marga, satu umat, satu bangsa atau satu negara. Karma berlaku dalam ‘qadar’ ketetapan sampai kiamat tiba. Hukum tetap dari hakim di atas hakim, ‘ahkam-al-hakimin’, keputusan mahkamah azali.

     Al-balad-al-amin, negeri aman sentausa, zamrud khatulistiwa, ‘prototip taman surga’ di muka bumi, tanah ranah persada bumi nusantara, ‘rumah-ramah’ tempat ibu pertiwi melahirkan anak-anaknya dengan kelembutan kasih-sayang-cinta, gemah ripah loh jinawi, tata-titi-tentrem katata raharj.’ Bukan lautan, tapi kolam susu, tongkat kayu dan batu jadi tanaman, “Indonesia tanah air beta, pusaka abadi nan jaya, sejak dulu kala selalu dipuja-puja bangsa”.

    Bulan purnama bagi pungguk-pungguk bangsa di dunia, madu bagi semut-semut seluruh benua, imperialisme dan kolonialisme bangsa-bangsa Eropa, magnet raksasa bagi butir-butir besi umat manusia. Mercusuar peradaban dan kebudayaan tinggi. Kamus besar tutur kata-bahasa, norma dan budi pekerti luhur.  Tapi kini semua seakan tinggal legenda, cerita, dongeng sebelum tidur. Al-balad-al-amin, telah berubah menjadi asfala safilin, negeri aman sentausa menjadi rimba prahara-sengketa dan gubuk derita.

     Ketidakadilan penguasa, jerit keputus-asaan rakyat jelata, korupsi-kolusi-nepotisme, penindasan, kebrutalan, perzinahan, miras-narkoba, tawuran antar warga dan antar mahasiswa, pembodohan dan kebodohan, pemiskinan dan kemiskinan, kesesatan dan penyesatan, pengkhianatan nilai-nilai kemanusiaan, kesalahan berjama’ah, kemungkaran massal, dosa-dosa nasional. ‘Prototip taman surga’ menjadi ‘prototip lembah neraka’. Ahsani taqwim menjadi asfala safilin.

     Titik nadir bergulir. Sebaik-baik bentuk bangsa terjun bebas serendah-rendahnya. Objek pelecehan dunia, diremehkan negeri tetangga, tertatih-tatih di kawasan Asia, menghiba-hiba pada belas kasih pada Amerika dan Eropa. Nyaris-nyaris telanjang dari pakaian kemandirian dan jubah ‘prawira-ksatria’. Label kepecundangan bangsa mengancam bakal disematkan pada sejarah anak cucu, penerasi penerus di masa depan.

    Asfala safilin. Karma bagi pendustaan terhadap ad-din, agama, agem-ageman utama, pakaian utama. Karma dari blunder tradisi, hukum dan sistem berkeluarga dan bertata negara. Desa mawa cara, negara mawa tata. Seluruh unsur dan senyawa berkontribusi pada ‘galat’ tata negara, dari desa hingga ibu kota, dari satu jiwa hingga duaratus empat puluh juta jiwa.

     Asfala safilin. Karma bagi blingerologi, blingerisme dan blingerisasi, kekeliruan diagnosa, resep dan dosis pasien-pasien endemik masa lalu dan masa kini. Ghurur, tertipu oleh pesona buah tin, berebut kulit dan berlomba mengunyah dan menelannya mentah-mentah namun justru mengabaikan isi nutrisi dan gizi isi buahnya. Salah tata-tanam, tata-rawat, tata-olah dan tata-hidang buah zaitun, aroma harum minyak kebaikan itu menguap entah ke mana, yang menyebar bau busuk menusuk hidung dan memuat mual. ‘Spirit gunung sinai’ tak menyala, keberkahan itupun sirna, al-balad-al-amin hanya cita-cita, namun asfala safilin adalah azab-siksa yang segera dan nyata.

     Mimpi buruk hanya terjadi ketika manusia tertidur. Hanya satu cara untuk keluar darinya, bangun dan terjaga. Berdiri dan waspada. Nyebut, sadar, tahu diri, pembaharuan sikap ahti, introspeksi, muhasabah, lalu istighfar, mohon ampunan, ‘taubat massal-nasional’ dengan segera. Sesungguhnya neraca penentu harga karma itu hanya ada dua, ‘iman dan amal saleh’. Keyakinan akan Tuhan, Allah Yang Maha Bijaksana dan perbuatan kebajikan sebagai pembuktian nyata.

     Kombinasi-kolaborasi-koordinasi iman dan amal saleh adalah kewajiban ‘ain, keharusan bagi setiap jiwa, tiap individu, tiap pribadi. Iman membawa kepada optimisme, semangat berlomba dalam kebaikan, istabiqul khairat, mental positif dan jiwa ksatria-mujahidin untuk bekerja berjuang bangkit dari asfala safilin mengembalikan derajat ahsani taqwim bangsa.

      Jika seluruh manusia yang ada di negeri ini guyub-rukun, holopis kuntul baris memikul dan menebus bersama beban ‘dosa warisan dan dosa pribadi,’ berbaris rapi dalam shaf, merapatkan susunan dan meluruskan ‘kiblat’ pada satu  tujuan, rambate rata hayo. Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh, menghancurkan ideologi devide et impera, maka bangsa ini akan kembali berdiri tegak sebagai al-balad-al-amin, negeri aman lahir-batin, jiwa-raga, material-spiritual, cita-cita dan do’a bersama seluruh manusia Indonesia, baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafur, negeri penuh kebaikan dan ampunan Tuhan.

Demi (buah) tin dan (buah) zaitu, demi bukit Sinai, demi negeri (Mekkah) yang aman ini. Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dengan sebaik-baik bentuk, kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, maka mereka akan mendapat pahala yang tiada putus-putusnya. Maka apa yang menyebabkan (mereka) mendustakanmu (tentang) agama (hari pembalasan) setelah (keterangan-keterangan nyata) itu? Bukankah Allah adalah hakim yang paling adil?” (QS At-Tiin : 1-8)

Salam...
El Jeffry 

Lidah Daming dan Potret Jenaka Hukum



 “Lidah orang bijak ada di belakang otaknya. Sedang otak orang pandir ada di belakang lidahnya.”

    Potret jenaka hukum terkini di negeri kita. Salah seorang yang berprofesi sebagai orang bijak, ternyata tak selamanya bijak dalam berkata-kata. Adalah Muhammad Daming Sunusi, calon hakim agung yang “apes” dengan insiden blunder lidah saat uji kepatutan dan kelayakan di depan komisi III DPR RI pada Senin, 14 Januari 2013. Alkisah, hakim Daming melakukan “kesalahan fatal” ketika menjawab pertanyaan anggota komisi hukum tentang hukuman mati bagi pemerkosa.

     Alih-alih menyatakan ketidaksetujuan jika pemerkosa dihukum mati, Daming mengemukakan “alasan logis” yang membuat miris. Dalam kasus pemerkosaan, “yang memperkosa dan yang diperkosa sama-sama menikmati.” Haha. Jawaban cerdas untuk mencairkan ketegangan, katanya. Daming lupa siapa dirinya, apa profesinya, dan tujuannya datang ke Senayan.

     Daming (pasti) lupa bahwa ia adalah seorang hakim yang menjadi “delegasi Tuhan” Al-Hakim untuk menjadi pengadil bagi perkara-perkara manusia di dunia. Daming (juga pasti) lupa bahwa hakim bukanlah sekadar kosa kata “hukum-hikmah-mahkamah,” yang ditranselirasikan dalam bahasa Indonesia sebagai kearifan-kebijaksanaan. Arif-bijaksana adalah “kasta” tertinggi derajat manusia, bahkan masih lebih tinggi dari orang berilmu (alim-cendekia-intelektual).

     Ketika seseorang berani mengambil profesi sebagai hakim, ia mestinya siap dengan resiko terbesar yang pernah diamanatkan ke pundak manusia. Hakim nyaris saja mewakili “hak prerogatif” Tuhan. Dengan keputusannya, seorang hakim bisa menentukan “hidup dan mati” manusia. Karena itu seorang hakim juga mesti bersiap dituntut untuk sempurna, karena ia bukan manusia biasa, tak boleh keliru, apalagi kekeliruan disengaja.

     Hakim adalah profesi paling menjanjikan yang bisa  mengangkat derajat hakiki kemuliaan manusia, sekaligus paling mengerikan yang bisa membenamkan derajat ke tempat serendah-rendahnya. Kaki seorang hakim menginjak di garis perbatasan surga dan neraka, dan ayunan langkahnya tergantung dari keputusan dari ketukan palu di meja pengadilan.

     Pernyataan miris “mengiris-iris” seorang Daming membuat kita bertanya-tanya, sedemikian parahkah “kerusakan otak (akal sehat)” seorang hakim sehingga gagal kontrol atas lidahnya? Padahal, sebagai hakim, Daming telah menggeluti profesi hampir 40 tahun sejak 1984 dan kini menjabat sebagai Ketua Pengadilan Tinggi Palembang. Lalu kita terseret ke dalam pusaran pertanyaan berikutnya, inikah potret hakim di negeri kita? Dan lebih luas lagi, inikah potret hukum di negeri kita yang jenaka, “main-main” dan cuma canda belaka?

     Kita lantas mahfum dengan keadaan miris ini, sebab berita buruk tentang “hakim-hakim nakal” yang mengkhianati hukum dan keadilan bukan hal jarang didengar. Ada hakim yang “bisa dibeli,” hakim korup, hakim narkoba, dan berita buruk lain yang kontraproduktif dan kontarindikatif dengan profesi hakim sebagai “wakil Tuhan” penegak keadilan antar manusia.

     Daming boleh berkilah bahwa itu adalah canda pelepas ketegangan atas pertanyaan-pertanyaan berat saat uji kepatutan dan kelayakan. Untuk satu hal, “blunder lidah” Daming  membuka wajah asli sang hakim sendiri bahwa ia masih jauh dari patut dan layak menjadi hakim agung. Apa jadinya Mahkamah Agung jika diisi oleh hakim-hakim yang jauh dari sifat-sifat dan perilaku agung-adiluhung, termasuk dalam lidahnya?

     Kita tidak menafikan kalau masih ada hakim-hakim berintegritas yang tetap menjunjung tinggi nilai-nilai agung “hakim-hukum-mahkamah.” Tapi Daming sepertinya menjadi selembar potret kecil dari album tebal sebagian besar hakim di negeri ini. Jika kita coba menyelinap ke balik kaca mata pikir dan logika Daming, akan ada korelasi erat dengan fenomena “gagal hukum” negara kita dalam memerangi korupsi.

     Korupsi, dengan “logika canda” Daming sebagai “pemerkosa dan yang diperkosa sama-sama menikmati,” akan menjadi fakta, ketika ia bersimbiosis mutualis dalam bentuk suap dan segala pecahan kosakatanya. Filosofi suap didasari oleh persekutuan jahat kedua pihak, penyuap dan yang disuap. Dalam suap, “yang menyuap dan yang disuap sama-sama menikmati.” Padahal, pemerkosaan dan suap adalah dua hal berbeda. Namun sayangnya, Daming sepertinya telah terindoktrinasi “logika dasar” suap (dan korupsi), bahwa “ penjual kejahatan dan pembeli kejahatan sama-sama menikmati harta hasil kejahatannya.

     Lalu di mana “otak” (akal sehat-hati nurani) seorang hakim yang “berkaca mata” seperti hakim Daming ini? Kita tak menuduh bahwa Daming “membenarkan” suap sebagaimana ia ‘membenarkan” pemerkosaan, karena itu hanya canda, lagipula ia telah meminta maaf atas kesalahan lidahnya. Tapi ”logika gila” inilah yang (sangat mungkin) menjadi sumber bencana bagi hukum dan keadilan di negeri ini.

     Kita lalu mahfum kembali jika ternyata kita secara tak sadar telah nguri-uri (memelihara) korupsi agar tetap abadi di negeri ini. Hukum gagal memberi efek jera. Koruptor makin cerdas dalam kalkulasi, tertangkap atau tidak, masih tetap mendapat laba. Kalaupun sedikit sial, penjara tak cukup menjadi penjera. Sayangnya, wacana hukuman mati bagi koruptor mentah-kaprah, seperti halnya ketidaksetujuan lewat kaca mata Daming, inisiator kejahatan dan pengikut kejahatan (yang sebagiannya korban) dianggap sama-sama untung, nikmat.

     Wong nggak ada yang dirugikan, kok kita repot-repot menegakkan keadilan? Sepertinya hakim Daming lupa pada “kehakiman”nya dengan menggebyah-uyah insiden hubungan badan, tak bisa membedakan antara pemerkosaan dengan perzinaan (prostitusi). Bisa jadi, hakim-hakim (nakal) yan lain punya “kaca mata baca” yang sama dengan Daming,  bahwa korupsi (suap dengan segala pecahan kosa katanya) punya analogi yang sama dengan perzinahan.

    Kejahatan ya memang kejahatan, tapi “penyuap dan yang disuap sama-sama nikmat,” jadi ya wajar dan boleh-boleh saja dihukum ringan, kalau perlu dibebaskan. Hukuman mati itu bertentangan dengan nilai keadilan itu sendiri. Contoh kecil, perihal vonis Angie. Vonis ringan hakim terhadap koruptor ini dengan dalih “tidak merugikan uang negara” adalah kosa kata lain dari “hukum sama-sama nikmat.”

     Dalam kasus Angie, hakim berdalih, bahwa yang dirugikan adalah perusahaan swasta, jadi Angie tidak bersalah terhadap negara. Hakim (mungkin) lupa, bahwa ada keterkaitan erat antara swasta dengan negara, meskipun kadang tidak secara langsung, dari pajak salah satunya misalnya. Bila pajak dikemplang, (karena uang miliaran untuk menyuap sudah pasti lolos dari pajak), bagaimana bisa dikatakan negara tidak dirugikan? Bagaimana kalau jumlahnya triliunan?

     Hukum memang sangat jenaka di negeri ini. Dan hakim memberi kontribusi tinggi atas kejenakaannya, dengan satu contoh “blunder lidah” Daming. Fiat justitia roat caelum. Tegakkan hukum walau langit runtuh. Bagaimana akan tegak bila para hakim sebagai tiang-tiang pancang penegak keadilan gagal profesi? Sadar tak sadar, sebenarnya kita sendiri yang telah merobohkan hukum. Sementara, langit di angkasa masih tegak perkasa, sampai Tuhan Al-Hakim merobohkannya saat kiamat tiba. Sudahkah kita merasakan sebagian dari tanda-tandanya?

Salam...
El Jeffry